Film tentang Seksisme di Korea Selatan Ditolak Banyak Laki-Laki

Kim Ji-young, Born 1982 (2019) tayang di Indonesia pada 20 November mendatang. Film yang diadaptasi dari buku dengan judul sama ini menuai kontroversi di negeri asalnya, Korea Selatan.

Film ini mengikuti hidup seorang perempuan kelas menengah di Korea, Kim Ji-young (Jung Yu-mi), yang lahir pada 1982. Sekilas, hidupnya biasa-biasa saja, seperti nama Kim Ji-young sendiri yang sangat umum digunakan perempuan Korea. Namun, seperti kebanyakan perempuan di Korea pula, Kim Ji-young mengalami berbagai bentuk diskriminasi gender—sejak ia kecil hingga ia menikah dan memiliki anak.

Kim Ji-young, Born 1982 tidak berbicara tentang hal-hal besar. Diskriminasi itu terjadi dalam aktivitas sehari-hari: adik laki-lakinya diperlakukan lebih spesial oleh keluarganya, orangtuanya mendorongnya agar ia segera menikah setelah lulus kuliah, lingkungan tempat kerjanya seksis, hingga tuntutan untuk selalu melayani suami dan anaknya.

Kejadian yang umum dan relevan ini pula yang membuat film ini berhasil menyentuh penonton-penonton perempuannya. Kim Ji-young, Born 1982 telah menjadi box office nomor 1 di Korea sejak seminggu lalu dengan pendapatan kotor sebesar 9,7 milyar won (1,166 triliun rupiah).

“Walaupun ada adegan yang dikemas berlebihan, tetapi filmnya dekat dengan realitas masyarakat Korea Selatan. Perempuan dari berbagai generasi terhalang dari menjalani hidup sebagaimana yang mereka mau,” kata Seo Mi-jeong, perempuan berusia 23 tahun yang menangis setelah menonton, seperti dilansir oleh Japan Times.

Namun, banyak penonton laki-laki yang tak terima dengan film Kim Ji-young, Born 1982. Film ini mendapat rating 9,5/10 dari audiens perempuan di Naver (situs pencarian Korea Selatan)—sementara audiens laki-laki memberi rating 2,5/10.

Jung Yu-mi yang juga memerankan Train to Busan (2016) mendapatkan ribuan komentar kebencian di akun Instagram-nya setelah mengumumkan akan memainkan peran Kim Ji-young. Ada pula petisi yang meminta Presiden Korea Selatan untuk melarang film ini tayang dan orang berlomba-lomba memberikan rating negatif bahkan sebelum filmnya rilis.

Kontroversi Buku Kim Ji-young, Born 1982

Penulis Cho Nam-joo mengatakan bahwa ia hanya butuh waktu dua bulan untuk menulis buku ini. Pengalaman yang dialami karakter utamanya, Kim Ji-young, familiar olehnya sebagai perempuan. “Hidup Kim Ji-young tak berbeda jauh dari hidup saya, makanya saya dapat menulis buku ini secara cepat tanpa perlu banyak persiapan,” kata Cho Nam-joo.

Buku ini telah terjual hingga 1 juta salinan pada November 2018, dan akan dipublikasikan dan diterjemahkan ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Buku Kim Ji-young, Born 1982 dinilai punya kemiripan dengan The Vegetarian karya Han Kang. Karya pemenang Man Booker International Prize ini berpusat pada seorang karakter perempuan yang menolak memakan daging—sebuah alegori dari perjuangan perempuan di Korea melawan patriarki. Sikapnya ini dianggap aneh dan tak wajar oleh suami dan keluarganya.

Sementara itu, Kim Ji-young yang mendadak berbicara dalam suara ibunya dan komplain tentang ketidakadilan yang ia alami juga dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya.

Buku yang dinilai sebagai karya feminis kontemporer Korea ini menerima banyak kecaman keras dari publik. Irene Red Velvet mengatakan di sebuah konferensi pers bahwa ia baru saja selesai membaca buku ini. Pernyataannya memicu kontroversi dari penggemar-penggemarnya. Mereka tak terima Irene mengasoasikan dirinya sebagai feminis. Ada pula mantan penggemar yang membakar dan menghancurkan foto penyanyi ini.

“Dia harus tahu bahwa sebagian besar penggemarnya adalah laki-laki,” kata seorang pengguna media sosial, dilansir oleh Korea Herald. “Ia telah come out sebagai feminis, saya bukan lagi penggemarnya.”

Bahkan, sekelompok laki-laki membuat sebuah proyek untuk menandingi buku ini. Mereka ingin menerbitkan novel berjudul Kim Ji-hoon, Born 1990 yang memotret diskriminasi yang dialami oleh laki-laki. Menurut mereka, kewajiban militer di Korea Selatan jadi bukti bahwa laki-laki juga mengalami diskriminasi gender.

Seksisme dan Gerakan #MeToo

Gerakan #MeToo tak hanya berhenti di Hollywood. Pada 2018 lalu, perempuan Korea ramai-ramai turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada sesama korban pelecehan dan kekerasan seksual. Mereka memprotes penggunaan spycam untuk merekam aktivitas-aktivitas perempuan di tempat privat, seperti di toilet umum dan kamar hotel, tanpa persetujuan.

Protes ini pun mengekspos kasus-kasus lain kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan.

Jung Joon-young, penyanyi dan penulis lagu, mengaku telah menyebarkan video ia dan perempuan berhubungan seks ke teman-temannya tanpa sepengetahuan si perempuan. Hal ini ia lakukan ke lebih dari satu perempuan. Ia dan Seungri, anggota boyband Big Bang, diduga membuka praktik prostitusi ilegal di sebuah klub malam di Seoul.

Jang Ja-yeon, seorang aktor, bunuh diri pada 2009. Ia meninggalkan surat yang menyatakan dirinya telah menjadi korban dari eksploitasi dan kekerasan seksual. Ia dipaksa berhubungan seksual dengan 31 laki-laki berpengaruh di industrinya—termasuk politikus, petinggi bisnis dan media, dan figur industri hiburan.

Di industri perfilman, sutradara Kim Ki-duk yang pernah memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes, Berlin, dan Venice, dilaporkan atas kasus percobaan pemerkosaan pada Maret 2018. Tiga korban anonim yang berprofesi sebagai aktor diawawancara oleh sebuah stasiun televisi Korea Selatan. Salah satu korban mengaku diajak masuk ke kamar hotel untuk mendiskusikan skenario film, tetapi malah diperkosa oleh Kim Ki-duk dan aktor Cho Jae-hyeon.

Kim Ki-duk menyangkal tuduhan ini. Ia mengklaim dirinya hanya berhubungan seksual secara konsensual dan tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai sutradara untuk memuaskan hasrat personal.

Gerakan #MeToo di Korea Selatan mengungkap pula kasus-kasus kekerasan seksual di luar sektor industri hiburan dan budaya. Pelajar pun bisa jadi korban. Sekumpulan pelajar melaporkan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru-guru mereka.

SCMP melaporkan bahwa pelajar dari lebih dari 60 sekolah di Korea Selatan memberanikan diri untuk menceritakan kekerasan verbal, fisik, hingga pemerkosaan yang mereka alami. Cerita ini mereka ungkapkan sembari menggunakan tagar #SchoolMeToo.

Gerakan ini mendorong pemerintah Korea untuk membuat peraturan yang bertujuan untuk melindungi perempuan dari kekerasan seksual. Perilaku kekerasan seperti menguntit dan melecehkan perempuan didefinisikan secara lebih komprehensif sehingga pengaduannya dapat dibawa ke ranah hukum.

Inisiatif ini mengundang protes dari banyak laki-laki. Mereka menganggap kebijakan ini sebagai sebuah “reverse discrimination” dan kolega-kolega perempuan mereka kini diperlakukan secara spesial. “Kebijakan ini terlalu fokus pada perempuan—merampas hak laki-laki,” kata salah satu pemrotes.

Film Kim Ji-young, Born 1982 dan Gerakan #MeToo memperlihatkan bahwa kekerasan dan diskriminasi gender bersifat sistemik dan berpola serupa di negara mana pun. Kasus Kim Ki-duk punya kemiripan yang begitu kentara dengan kasus Harvey Weinstein. Penolakan undang-undang perlindungan korban kekerasan seksual di Korea punya kemiripan dengan penolakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di Indonesia.

Jamie Chang, penerjemah buku Kim Ji-young, Born 1982 ke bahasa Inggris mengatakan bahwa isu yang dibawa buku ini akan mudah beresonansi dengan orang-orang di luar Korea. “Kita bilang kepada diri kita bahwa misoginisme di Korea atau budaya timur berbeda dari negara-negara lain, tapi itu tidak benar,” kata Jamie, dilansir BBC.

 

Artikel ini mengalami revisi pada 4 November 2019. Poin yang direvisi adalah tanggal kematian Jang Ja-yeon, yaitu pada 2009, bukan pada Maret lalu.

Related Article