Film Asal Nigeria Didiskualifikasi, Masihkah #OscarsSoWhite?

Lionheart (2018), film Nigeria pertama yang dikirim ke Academy Awards untuk bersaing dalam kategori Film Panjang Internasional Terbaik, didiskualifikasi karena sebagian besar dialognya berbahasa Inggris. Kategori yang sebelumnya bernama Film Panjang Berbahasa Asing Terbaik ini hanya menerima film yang diproduksi di luar Amerika Serikat dan sebagian besar dialognya tidak berbahasa Inggris.

Lionheart berefleksi pada kebiasaan kebanyakan orang Nigeria berbicara. Sebagai negara bekas jajahan Inggris, hampir semua orang Nigeria berbicara dalam bahasa Inggris—walaupun mereka juga punya bahasa lokal, yaitu bahasa Igbo. Bahasa Inggris pun telah jadi bahasa nasional Nigeria.

Sutradara film Ava Duvernay (@ava) menyadari kejanggalan ini. Lewat Twitter, ia menyampaikan protesnya ke The Academy. “@TheAcademy mendiskualifikasi submission pertama Nigeria untuk penghargaan Film Panjang Internasional Terbaik karena dialognya berbahasa Inggris. Tapi Inggris adalah bahasa resmi Nigeria. Apakah @TheAcademy melarang negara ini berkompetisi selamanya?” kata Ava.

Ini juga bukan kali pertama Academy Awards dan penghargaan Film Panjang Internasional Terbaik-nya dirundung kontroversi. Film Utopia (2015) asal Afghanistan dan film The Band’s Visit (2007) asal Israel juga didiskualifikasi karena alasan yang sama.

Namun, mengingat kategori ini baru saja berganti nama dari “berbahasa asing” jadi “internasional” pada April ini, parameter dan persyaratan pendaftaran yang masih mengadopsi pakem lama jadi dipertanyakan. Mengapa kategori ini masih berpatokan pada bahasa, seolah-olah bahasa Inggris adalah bahasa eksklusif Hollywood dan Amerika Serikat?

“Pada April 2019, kami mengumumkan bahwa nama kategori penghargaan film berbahasa asing berubah jadi film panjang internasional. Kami juga mengonfirmasi bahwa peraturan untuk kategori tersebut tidak berubah. Intensi penghargaannya tetap sama—untuk mengakui pencapaian film yang dibuat di luar Amerika Serikat dan berbahasa selain Inggris,” kata perwakilan Academy Awards, dilansir oleh Los Angeles Times.

Kontroversi diskualifikasi film Nigeria ini jadi mengundang banyak pertanyaan. Bukan hanya parameter dan persyaratan untuk masuk Oscars, tetapi juga pertanyaan tentang eksistensi kategori Film Panjang Internasional Terbaik itu sendiri.

Mengapa ada kategori ini? Mengapa film-film di luar Amerika Serikat tak sama-sama bersaing saja dalam kategori Film Panjang Terbaik—bukankah Academy Awards mengklaim ajang penghargaan ini berskala internasional?

Selama ini, film di luar Amerika Serikat memang bisa bersaing di kategori Film Terbaik. Namun, hingga 2019, hanya 10 film berbahasa asing yang pernah dinominasikan, dan tak pernah ada yang menang. Posisi Film Internasional Terbaik pun jadi dipertanyakan: apakah derajat kategori ini—yang berarti derajat film-film di luar Amerika Serikat—lebih rendah?

Lulu Wang, sutradara film The Farewell (2019) juga mempertanyakannya. Filmnya yang dibuat di Amerika Serikat ini tak bisa bersaing dalam kategori Film Panjang Internasional Terbaik, meskipun dialog karakter-karakternya dalam bahasa Mandarin.

“Apakah sebuah ‘film asing’ bisa berbahasa Inggris? Apakah sebuah film lokal bisa berbahasa asing? Apa artinya menjadi asing? Dan menjadi orang Amerika?” kata Lulu Wang di Twitternya, @thumbelulu.

Bias dan Kurang Beragamnya Oscars

Academy Awards atau Oscars sejatinya tak pernah lepas dari kontroversi. Tagar #OscarsSoWhite ramai di media sosial pada 2015. Tagar yang dimulai oleh aktivis April Reign ini mengkritik daftar nominasi dan pemenang penghargaan Oscars yang didominasi oleh orang kulit putih. Tak hanya warna kulit, persentase perempuan yang menerima nominasi pun kalah telak.

Hal ini bukan disebabkan oleh sedikitnya film-film award-worthy yang dihasilkan oleh orang non-kulit putih dan perempuan. Proses pemilihan dan penyaringan Oscars sendiri penuh dengan bias. Pada 2012, Los Angeles Times mengeluarkan studi yang menunjukkan bahwa 94% anggota pemilih nominasi-nominasi Oscars adalah orang kulit putih, 77% adalah laki-laki, dan 54% berusia lebih dari 60 tahun.

Tagar ini tak berhenti di media sosial. Hollywood dan Oscars mulai berbenah diri. Pada 2018, nama-nama perempuan masuk ke dalam nominasi untuk pertama kalinya. Rachel Morrison jadi perempuan pertama yang mendapat nominasi sinematografer terbaik untuk filmnya Mudbound. De Rees jadi perempuan pertama yang menerima nominasi skenario adaptasi terbaik dan perempuan berkulit hitam kedua dalam sejarah yang pernah dinominasikan dalam kategori penulis.

Ada pula Greta Gerwig, sutradara Lady Bird (2017) yang menjadi perempuan kelima yang dinominasikan sebagai sutradara terbaik dan Jordan Peele dengan filmnya Get Out (2017) yang juga menjadi orang kulit hitam kelima yang menerima nominasi tersebut.

Namun, kemajuan itu mentok kembali di tahun berikutnya. Pemenang Film Panjang Terbaik 2019 adalah Green Book (2018), film tentang orang kulit putih yang bekerja sebagai supir seorang kulit hitam. Pada dasarnya, film ini berbicara tentang rasisme dari kacamata orang kulit putih: alih-alih membiarkan orang kulit hitam menceritakan perjuangan mereka, film ini malah menggambarkan orang kulit putih sebagai sang penyelamat.

Kemenangan Green Book adalah pengulangan dari kemenangan Driving Miss Daisy (1989) yang punya premis problematis serupa dan memenangkan kategori sama pada 1990. Green Book menang dari film-film dengan premis dan gaya tutur yang lebih powerful, seperti Roma (2018), The Favourite (2018), BlacKkKlansman (2018), dan bahkan Black Panther (2018)—membuat kredibilitas Oscars kembali dipertanyakan.

Kecacatan Eksistensi Film Internasional Terbaik

Dengan panjangnya sejarah bias dan kurang beragamnya daftar nominasi Oscars, jadi tak mengherankan ketika proses pemilihan di baliknya juga banyak masalah. Sejak 1947 hingga 2019, telah terdapat 68 pemenang Film Panjang Internasional Terbaik. Sebagian besar penghargaan diberikan kepada film-film Eropa, yaitu sebesar 83%. Sementara itu, film dari Afrika hanya pernah menang sebanyak tiga kali dan dari Asia tujuh kali.

Aturan non-bahasa Inggris nyatanya tak menghentikan film-film Barat menguasai Oscars. Jika aturan ini diterapkan untuk memastikan terjadinya keragaman nomine-nominenya, niat tersebut hanya membuat film-film Eropa semakin mendominasi daftar pemenang—sementara film-film Asia dan Afrika semakin dipinggirkan.

Aturan lain yang dianggap bermasalah adalah persyaratan bagi satu negara untuk hanya bisa mendaftarkan satu film setiap tahunnya. Film tersebut hanya bisa dipilih oleh sebuah komite film di negara masing-masing. Persyaratan ini bukan saja membuat dua atau lebih film dari sebuah negara dengan potensi menang yang sama tak bisa sama-sama didaftarkan, tetapi juga menimbulkan konflik-konflik kepentingan di dalam negara itu sendiri.

Federasi Film India yang bertugas untuk memilih perwakilan film dari India untuk bersaing di Oscars, misalnya, dituduh bias oleh sutradara Bhavna Talwar. Bhavna mengklaim bahwa terpilihnya film Eklavya: The Royal Guard (2007), film karya sutradara lain, disebabkan oleh kedekatan personal antara para pembuat filmnya dengan anggota federasi.

Dipilihnya film oleh sebuah komite yang diakui negara telah memberikan celah bagi negara-negara tertentu untuk hanya mau mendaftarkan film yang berpotensi mengharumkan nama negara atau mengandung propaganda pro-pemerintah. Akhirnya, film-film yang kritis atau anti-pemerintah berakhir tak diloloskan.

Proses dan persyaratan rumit yang mesti dilalui film-film internasional untuk masuk ke Oscars membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah penghargaan film internasional terbaik Oscars benar-benar memenangkan film internasional terbaik?

Belum lagi ketika berbicara tentang siapa penerima penghargaan ini. Negara menjadi pemenangnya—sementara pembuat film hanya mewakili untuk menerima hadiahnya. Akhirnya, banyak pembuat film yang berakhir tak pernah mendapatkan penghargaan Oscars—padahal film mereka telah menang. Sutradara Federico Fellini, misalnya, telah menyumbangkan empat filmnya sebagai pemenang penghargaan Film Internasional Terbaik. Namun, namanya sendiri dianggap tak pernah memenangkan Oscars.

Guy Lodge dalam The Guardian menuliskan bahwa kategori ini, “secara fundamental sudah cacat.” Ia berpendapat bahwa kategori Film Internasional Terbaik seharusnya tak perlu ada. “Fakta bahwa The Academy belum juga menghargai film yang tak berbahasa Inggris (dengan setara) memperlihatkan tak relevannya Oscars di perfilman dunia,” katanya.

Terlepas dari segala kontroversi tersebut, mungkin kita perlu mengingat kembali perkataan Bong Joon-ho, sutradara film Parasite (2019), beberapa waktu lalu. “Oscars itu lokal sekali,” katanya. Kita bisa terus-terusan memprotes dan mengkritik ketidakadilan Academy Awards. Namun, kita juga bisa menggeser paradigma kita yang menganggap Oscars sebagai tolak ukur utama perfilman dunia.

Green Book yang terpilih sebagai film terbaik—ketika saingannya adalah Roma—telah membuktikan bahwa Oscars sejatinya adalah ajang bagi-bagi hadiah bagi sesama film Hollywood. Mungkin sudah waktunya bagi Oscars untuk berhenti menggadang-gadang dirinya sebagai ajang penghargaan internasional dan sudah waktunya bagi kita untuk turut mengakui itu.

Related Article