Faisal Basri: Masalah Pandemi Nggak Bisa Pakai Resep Ekonomi

“Ekonomi bisa recover, nyawa manusia tidak,” kata ekonom Faisal Basri. 

Hingga 30 Maret, pemerintah Indonesia mencatat telah terdapat 122 orang yang meninggal dunia akibat COVID-19. Itu pun belum mempertimbangkan kasus-kasus kematian yang mungkin tidak tercatat. Sementara itu karantina wilayah belum jadi opsi.

Jokowi yang lebih memilih melakukan “pembatasan sosial berkala besar yang didampingi dengan kebijakan darurat sipil” menuai protes dan kritik dari berbagai kalangan. Pemerintah tak hanya menolak menetapkan lockdown, tetapi juga dianggap melepas tanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan masyarakat jika karantina wilayah diberlakukan—seperti yang diterapkan dalam UU No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Menurut Faisal, lockdown atau karantina adalah satu-satunya cara untuk memperlambat penyebaran virus Corona. “Tidak ada cara lain. Negara-negara lain yang sudah melakukan perang gerilya lebih awal, sudah menunjukkan penurunan kasus. Beberapa negara Eropa seperti Italia dan Spanyol memang punya jumlah kasus puluhan ribu, tetapi slope peningkatannya melambat setelah lockdown efektif dilakukan,” ujar Faisal Basri lewat Talk Show Online: Indonesia dan Dunia Setelah Corona di kanal Youtube Asumsi.

Sementara itu, walaupun jumlah kasus di Indonesia masih dalam kisaran 1.000, slope atau tren peningkatan kasusnya jadi yang kedua tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat. Tanpa adanya intervensi signifikan dari pemerintah, dikhawatirkan jumlah kasus di Indonesia akan melonjak tinggi—seperti yang telah terjadi di Amerika Serikat, Italia, dan Iran. “Suka atau tidak suka, Indonesia adalah negara yang slope peningkatannya paling tajam setelah Amerika Serikat. Usaha kita jadi sia-sia karena kita belum memutus mata rantai penyebaran virus.”

Presiden Jokowi berdalih tak memilih karantina wilayah karena tidak ingin Indonesia kacau seperti India. Diketahui bahwa lockdown yang dilakukan secara mendadak dan tanpa persiapan optimal oleh Perdana Menteri Narendra Modi telah membuat ribuan hingga jutaan penduduk India kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan sumber makanan.

Terlepas dari itu, dengan persiapan yang matang, Faisal mengatakan Indonesia mampu melakukan lockdown. “Waktu krisis finansial global, kita mampu menghabiskan 650 triliun rupiah untuk bailout perbankan. Jika dibandingkan dengan PDB dan kurs kita sekarang, relatif bisa,” kata Faisal.

Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah tidak bekerja sendiri. “Bayangkan jika satu orang kaya mampu merangkul 10 orang rentan di Indonesia, sisanya pemerintah. Saya rasa krisis ini akan tertangani. Tinggal mekanismenya seperti apa, logistik diperkuat, bulog bekerja secara efektif, pasar primer dibuka. Ini kan bukan lockdown seperti tahun '65, ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa,” lanjut Faisal.

Jika Indonesia menunggu terlalu lama untuk melakukan karantina wilayah atau lockdown, justru pemulihan ekonominya akan semakin lama. “Kasus di kita masih ribuan, belum ratusan ribu. Modal kita adalah membuat puncak kurvanya selandai mungkin, sehingga efek terhadap ekonominya itu maksimal paling lama satu bulan. Setelah itu kita bisa rebound. Ayo kita melakukan perang gerilya, pastikan di dalam tiap rumah kita tidak ada musuh,” kata Faisal.

Faisal memprediksi sektor-sektor usaha yang akan paling cepat rebound setelah dunia pulih dari pandemi COVID-19, yaitu sektor yang berkaitan dengan perjalanan, mobilitas, dan pasar saham. “Kegiatan yang terkait dengan perjalanan—transportasi, hotel, dan retoran—anjlok duluan. Kalau krisis ini telah selesai, logikanya itu yang akan paling duluan rebound. Orang sudah menunda berbulan-bulan untuk tidak bepergian, mobilitas pun meningkat.”

Menurut Faisal, tak ada waktu untuk berwacana jika virusnya saat ini “sudah berada di ulu hati kita.” Saat ini, yang jadi pertaruhannya adalah nyawa manusia dan nasib tenaga medis di seluruh Indonesia. “Yang terjadi sekarang adalah kondisi yang barangkali tidak pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban dunia. Pandemi ini telah mengenai 200 negara dan teritori, praktis seluruh dunia sudah kena. Dan obatnya tidak bisa ekonomi, karena ekonomi itu ada resepnya. Yang bisa dilakukan adalah membuat kemerosotan itu tidak terlalu dalam, sehingga bisa rebound lebih cepat.”

Related Article