Efek Rumah Kaca: “Gerakan Kita Masih Perlu Latihan”

Efek Rumah Kaca selalu punya kejutan. Veteran indie rock Jakarta itu telah merilis tiga album yang mutunya bukan hanya terjaga, tetapi terus meningkat. Mereka pun telah jadi salah satu penampil live terbaik di Indonesia. Ketika saya menonton mereka di Joyland Festival 2019 tempo hari, ERK kembali bikin geleng-geleng kepala. Selama hampir setengah jam, mereka mencampuradukkan lagu-lagu dari diskografi mereka dalam medley yang beringas. 

“Joyland Festival penting bagi kami,” ucap Cholil Mahmud, sang penyanyi. “Di Joyland 2012, kami menginisiasi proyek Pandai Besi. Waktu itu, beberapa personil kami sekarang masih jadi penonton di depan panggung.”

Setelah beberapa tahun tinggal di Amerika Serikat, Cholil kembali ke Indonesia pada saat yang tepat. Selepas hura-hura Pilpres dan demonstrasi 22 Mei, ia menyaksikan secara langsung rangkaian unjuk rasa #ReformasiDikorupsi. Setelahnya, ERK terlibat dalam rangkaian diskusi "Mendesak Tapi Santuy," dan getol merawat agenda-agenda demo tersebut.

Kami menemui Cholil (C) dan bassis Poppie Airil (P), dan mengobrol dengan mereka tentang album baru ERK, kutukan grup-grup WhatsApp, serta kekaguman Cholil terhadap anak-anak STM.

 

Standar yang kalian tetapkan di album Sinestesia sangat tinggi. Seperti apa arahan musikal Efek Rumah Kaca ke depannya?

C: Menurut Reza Ryan (gitaris tambahan ERK--red) sebagai orang luar yang sudah mendengar materi album keempat kami, lagunya lebih kering. Ada suasana tandus, katanya. Memang ada rasa koboi-koboian, rada Tarantino, lebih gersang. Ada nuansa seperti “Lazuardi”, tapi enggak se-Western itu.

Sinestesia agak merepotkan saat dimainkan langsung, karena personil belum tentu lengkap dan waktu manggung belum tentu memadai. Kami ada keinginan untuk mengolah sesuatu yang sekilas sederhana, tapi belum kami eksplor dari diri kami sendiri. Bagaimana cara kami cari sisi lain dari lagu seperti “Melankolia” tanpa harus mereplikasinya? Bagaimana caranya kami bisa mainkan lagu ini bertiga, tanpa ada tambahan yang berlebihan?

 

Tema-tema apa yang rencananya dibahas di lirik album baru kalian?

C: Belakangan, gue merasa bahwa melihat orang saling memberdayakan itu enggak kalah indah dari sebuah obyek. Kalau dipandang dari segi estetika, mungkin lebih ke estetika relasional. Seni untuk masyarakat. Bagi gue, melihat keberanian Ibu Sumarsih yang sudah Aksi Kamisan lebih dari 600 kali enggak kalah indah dengan melihat lukisan. Melihat ibu-ibu Dialita berupaya menyelamatkan dirinya sendiri dengan berkesenian, lalu sekarang akhirnya mereka bisa bernyanyi bersama, itu rasanya kayak… bermekaran semua. Melihat orang berdaya itu keindahan tersendiri.

 

Bicara soal berdaya, kalian terlibat cukup aktif dalam menggalang diskusi pasca aksi #ReformasiDikorupsi.

P: Ketika demo, menurut gue banyak warna yang melebur. Gue pribadi enggak merasakan demo 1998, tapi dengan terlibat dan memantau situasi yang ada, apalagi ikut ke sana, rasanya seperti hari itu kita semua memberdayakan diri sendiri. Dan sudah lama enggak ada yang kayak begitu.

C: Di tanggal 24 September, gue pribadi merasakan aroma 1998. Di jalanan menuju Senayan banyak warga membagikan air kepada demonstran, itu mirip. Walau tentu situasinya berbeda, tapi saat itu gue merasa pengalaman itu seperti kembali. Indah sekali rasanya berada di situ. Gue senang banget melihat orang meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk memperjuangkan apa yang ia percayai.

Tapi, gerakan yang ada sekarang memang masih berproses. Pada 1998, sebenarnya sudah ada sekian banyak gerakan aktivisme mahasiswa kecil-kecilan yang bergerak sejak satu dekade sebelumnya. Kebetulan saja di 1998, mereka menemukan momentum untuk bersatu dan meledak. Di demonstrasi kemarin, gue lihat banyak teman-teman yang baru pertama kali ikut demo. Jadi ketika lihat gas air mata, mereka panik karena belum “latihan”.

Bagi orang yang di lapangan, membawa isu ini juga berat. Di 1998 ada situasi yang nyata seperti krisis ekonomi. Mayoritas orang kurang lebih sepemahaman bahwa pemerintah saat itu bermasalah. Sementara sekarang, ada narasi yang menuduh gerakan tersebut makar atau menyebut bahwa elektabilitas pemerintah masih tinggi. Lebih parah lagi, perang hoaks dan kehadiran buzzer bikin kita tidak percaya satu sama lain. Dinamikanya beda total.

 

Memang masih banyak pekerjaan rumah untuk gerakan, ya.

C: Dan mudah-mudahan, semua yang turun kemarin tahan terhadap intimidasi. Banyak informasi soal demonstran yang dihalang-halangi ke lokasi, busnya tidak boleh berangkat, itu kan melemahkan. Friksi di dalam gerakan mahasiswa sendiri ada banyak.

Faktanya, pemerintah berhasil mencitrakan dirinya menjadi Orde Baik. Terlalu prematur untuk menyatakan bahwa setelah demonstrasi kemarin, posisi pemerintah lemah. Enggak, kita harus realistis. Posisi masyarakat yang menuntut keadilan lebih lemah. Jadi, kita perlu menjaga api terus. Dan ada di jalan secara nyata ketika memang dibutuhkan.

P: Masih banyak otokritik yang diperlukan oleh teman-teman setelah aksi kemarin. Salah satunya mungkin bisa dengan diskusi terbuka yang dilakukan teman-teman Mendesak Tapi Santuy dari kampus ke kampus. Tapi, banyak catatan baik juga. Gue senang melihat demonstran kemarin jadi idola baru.

C: Sebelumnya, STM pun poros yang belum pernah ikut serta dalam aksi. Tapi kemarin mereka ikut hadir. Bisa jadi mereka belum begitu menguasai isu dan kurang paham masalah apa yang terjadi di tataran pemerintahan. Tapi pasti mereka punya alasan sendiri untuk turun dan mendukung para demonstran, termasuk mahasiswa sebagai kakaknya. 

Dan kita harus akui bahwa mereka berperan besar. Mereka ternyata lebih menguasai medan karena mereka sudah “terlatih”. Salah satu indikasi keberhasilan gerakan kemarin adalah kehadiran STM.

 

Apa tanggapan kalian soal kasus penangkapan Ananda Badudu? Apakah itu preseden buruk untuk musisi seperti kalian yang ingin berkontribusi?

C: Justru, Nanda itu preseden baik. Bahwa siapa saja bisa mencari cara untuk bersiasat dan menggalang dana secara transparan ke publik. Di luar negeri, penggalangan dana untuk demonstrasi itu sudah lumrah. Tapi di Indonesia, mungkin kurang umum. Nanda melakukan itu, gerakannya ternyata besar, dan dampaknya amat kuat. Gue senang mendengar banyak teman yang jadi kritis dan bertanya soal bagaimana Nanda mengelola dana itu, penyalurannya, dan lain sebagainya. Kita jadi belajar sesuatu dari sana, dan itu layak ditiru di lain waktu.

Menariknya, menurut kabar Nanda, sumbangannya enggak ada yang lebih gede dari Rp 1 juta. Padahal total terkumpul lebih dari Rp 100 juta. Kalau dirata-rata, tiap orang menyumbang sekitar Rp 83 ribu. Jadi, memang benar-benar uang yang ada di kantung. Uang di dompet. Bukan dari cukong atau penyandang dana besar, tapi dari masyarakat yang mau mendukung.

P: Nanda tidak kelihatan seperti tipikal artis “berapi-api” yang akan melakukan penggalangan dana semacam itu. Dan itu pesan yang baik--semua orang dengan tipikal apa saja bisa berkontribusi. Dia orangnya baik, perhatian ke semua orang, dan mungkin karena itu dia tergerak untuk bikin penggalangan dana. Sayangnya, dia dan banyak teman-teman lain yang ikut aksi harus berhadapan dengan represi yang luar biasa.

 

Lagu terbaru kalian, “Tiba-Tiba Batu”, punya banyak bait menarik tentang orang yang jadi keras kepala. Bahkan ada lirik tentang “kebencian di sana-sini, apalagi di organisasi.” Apa yang hendak kalian sampaikan?

C: Gue harap penyakit ini enggak menjangkiti gue juga, tapi kadang karena kita sudah saking terpolarisasinya, kita menolak data-data yang disodorkan pihak yang berseberangan dengan kita. Penilaian kita sudah terkunci, walaupun faktanya kabur karena kita sebenarnya hanya mendengar dari satu sisi. Akibatnya, sulit terjadi percakapan. Kita dikondisikan algoritma untuk hanya berbicara dengan orang-orang yang sekubu.

Gue merasa hal seperti ini mulai merasuk ke tingkatan keluarga, entah melalui grup-grup WhatsApp atau sumber lainnya. Kok pada enggak mau tahu ya kalau kejadiannya seperti ini? Gue melihat banyak orang di sekitar gue jadi seperti itu. Termasuk mungkin diri gue sendiri.

P: Kadang ada yang bertanya lagu itu sebenarnya menyindir siapa. Seolah-olah ada sosok tertentu yang sengaja kami serang. Tapi itu hanya karena liriknya memang relateable sekali dengan kehidupan kami sekarang. Sikap seperti itu sudah begitu mewujud, sampai semua orang mengira ada satu orang beneran yang mewakili itu semua.

C: Dan kalau orang-orang kepala batu itu berkumpul jadi satu, kan bencana!

 

Tapi, menurut kalian apakah orang-orang batu seperti itu patut dirangkul? Atau, baiknya kita bikin poros sendiri saja?

C: Sebenarnya ada contoh yang menarik dari Amerika Serikat. Kok bisa mereka memilih Donald Trump jadi presiden? Dulu mereka yang mengajari kita pemilu, lho. Pemantau pemilu kita dulu dari Amerika. Kita layak untuk menertawakan mereka.

Tapi setelah diolok-olok, Trump tetap menang. Ketika di sana, saya berpikir: jangan-jangan, kelompok liberal dan demokrat di sana gagal mempertahankan demokrasi yang mereka cita-citakan. Kenyataannya, siapapun yang memilih Trump punya alasan yang masuk akal baginya, entah untuk demokrasi atau untuk kepentingannya pribadi. Menjauhi dan mengolok-olok mereka tidak membantu. Justru mereka jadi semakin mantap dengan pilihannya, dan bahkan mungkin 2020 Trump jadi presiden lagi.

Secara pribadi, gue respek dengan orang yang terus bertarung minimal di medsos. Mencoba memberikan narasi alternatif atas apa yang berkembang. Walau dihujat, dia mau percakapan itu terus ada. Memang menghadapi orang yang berbeda pendapat butuh daya tahan, dan jelas-jelas menyebalkan. Tapi gue lebih takut lagi kalau ruang untuk berdebat itu hilang sama sekali. Seburuk-buruknya ruang bercakap kita sekarang ini, paling tidak kita masih bisa bertemu. Gue justru ngeri kalau negara kita semakin otoriter dan kesempatan berdebat itu hilang.

Related Article