Dilarang Ngomong di KRL, Memangnya Berbahaya?

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menyusun protokol kesehatan yang akan diterapkan pada masa kelaziman baru (new normal). Setidaknya akan ada sejumlah kebijakan baru untuk melengkapi protokol kesehatan yang telah berjalan selama tiga bulan terakhir. Salah satunya, menurut VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba, pengelola akan mengimbau para pengguna KRL untuk tidak berbicara secara langsung maupun melalui telepon genggam selama berada di dalam gerbong, sebab aktivitas itu berpotensi memercikkan droplet, medium penularan utama COVID-19.

Anne mengatakan bahwa pemeriksaan suhu tubuh penumpang serta marka social distancing di kereta dan stasiun bakal terus diterapkan. Para pengguna KRL juga diwajibkan mengenakan masker.

"Kami juga meminta pengguna KRL untuk memanfaatkan fasilitas wastafel tambahan yang ada di stasiun untuk cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum dan sesudah naik KRL," kata Anne dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/5). 

Para petugas akan dilengkapi dengan alat pelindung, termasuk face shield. Menurut Anne, penggunaan pelindung wajah bakal disiapkan secara bertahap untuk seluruh petugas yang berhadapan langsung dengan penumpang mulai beberapa hari ke depan. "Mungkin akhir bulan ini sudah bisa implementasi di semua stasiun dan lintas," ujarnya.

Selain itu, sejalan dengan aturan PSBB yang masih berlaku, Anne menyebut jumlah penumpang dibatasi maksimum 60 orang untuk tiap kereta. Pembatasan ini dijalankan dengan penyekatan penumpang di sejumlah titik sehingga jumlah yang berada di peron dan di dalam kereta terkendali. 

Bahkan, bila diperlukan, petugas juga melakukan buka tutup pintu masuk stasiun. "Dengan masih berlakunya PSBB di wilayah Jakarta dan sekitarnya, mari kita tetap patuhi anjuran dari pemerintah untuk tetap di rumah. KRL masih beroperasi hanya untuk mereka yang benar-benar memiliki kebutuhan mendesak dan dikecualikan dalam PSBB," ujarnya.

Saat dihubungi Asumsi.co, Rabu (27/5), Adli Hakim, Manager External Relations PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) tak berkenan memberikan penjelasan lebih rinci soal imbauan agar penumpang tak berbicara selama di dalam kereta, serta soal kemungkinan adanya imbauan-imbauan lain bagi penumpang KRL dalam kelaziman baru.

Bahaya Droplet

Sejumlah orang dinilai berpotensi menyebarkan COVID-19 lewat cairan yang dikeluarkan saat berbicara dengan orang lain, selain melalui cairan saat batuk dan bersin. Aktivitas berbicara memang menghasilkan tetesan air atau droplet yang ukurannya bervariasi. Droplet yang berukuran lebih besar ternyata malah memicu risiko yang lebih kecil, karena akan cepat jatuh ke tanah. Sementara droplet yang lebih kecil, dapat mengalami dehidrasi dan bertahan di udara seperti aerosol.

Peneliti National Institutes of Health dan Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania dalam korespondensi New England Journal of Medicine mengungkapkan hal tersebut. "(Droplet kecil) ini memperluas jangkauan spasial partikel menular yang dipancarkan," kata para penulis seperti dilansir Health, Selasa (26/05).

Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus menguji tetesan bermuatan SARS-CoV-2 dan seberapa jauh ia menyebar saat seseorang berbicara. Yang jelas, penelitian menunjukkan banyak droplet yang dihasilkan melalui aktivitas berbicara. Matthew Meselson, PhD, seorang ahli genetika dan biologi molekuler di Universitas Harvard mengatakan, temuan ini menunjukkan pentingnya memakai masker untuk mencegah infeksi virus Corona.

Aturan jarak sosial sejauh enam kaki atau dua meter juga melindungi dari tetesan yang keluar dari berbicara. Lalu, apakah berbicara keras meningkatkan penyebaran COVID-19? Ya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) secara khusus menyebut suara keras sebagai kemungkinan vektor untuk COVID-19.

CDC, dalam Laporan Morbiditas dan Mortalitas yang terbit Selasa (12/5), menyelidiki aktivitas paduan suara yang ternyata bisa menularkan COVID-19. Praktik paduan suara tersebut berlangsung selama 2,5 jam pada Selasa (10/3) lalu di Skagitt County, Washington.

Dalam acara itu terdapat 61 orang yang hadir, di mana satu orang diketahui bergejala. Hari-hari berikutnya, sebanyak 53 kasus diidentifikasi, termasuk 33 kasus dikonfirmasi dan 20 kemungkinan kasus.

Laporan CDC selanjutnya menyebut bahwa transmisi COVID-19 di tempat latihan paduan suara kemungkinan difasilitasi oleh jarak yang sangat dekat antara orang yang satu dengan yang lainnya. Aktivitas saat bernyanyi itulah yang disebut-sebut membantu menyebarkan COVID-19.

Tapi ini bukan pertama kalinya berbicara dengan suara keras dihubungkan dengan lebih mudahnya penyebaran tetesan. Dikutip dari The New York Times, Kamis (14/5), penelitian dari National Academy of Sciences of the United States of America menemukan bahwa ucapan keras bisa menyebarkan ribuan tetesan cairan oral per detik.

Laporan yang diterbitkan Rabu (13/5) itu mengonfirmasi total volume jumlah tetesan meningkat melalui suara yang keras saat berbicara. Peneliti juga menemukan, tetesan itu sangat kecil sehingga durasinya bisa bertahan di udara bisa sampai 14 menit. 

Kombinasi emisi tetesan kecil dan kemampuannya untuk tetap tersuspensi di udara dalam ruang tertutup selama waktu tertentu dapat menjelaskan bagaimana COVID-19 bisa dengan cepat menyebar di ruangan yang orang di dalamnya tidak menunjukkan gejala atau hanya gejala yang sangat ringan, seperti di kantor, panti jompo, kapal pesiar dan ruang terbatas lainnya.

Untuk melihat berapa banyak tetesan yang dihasilkan selama percakapan normal, para peneliti di Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal serta Universitas Pennsylvania, yang mempelajari kinetika molekul biologis di dalam tubuh manusia, meminta sukarelawan untuk mengulangi kata-kata “stay healthy" beberapa kali. 

Para peserta berbicara di ujung kotak terbuka, sementara para peneliti menerangi bagian dalamnya dengan laser hijau, dan melacak butiran semburan yang dihasilkan oleh pembicara. Hasil dari pemindaian laser itu menampilkan sekitar 2.600 tetesan kecil dihasilkan per detik saat berbicara. 

Ketika para peneliti memproyeksikan jumlah dan ukuran tetesan yang dihasilkan pada volume yang berbeda berdasarkan studi sebelumnya, mereka menemukan bahwa berbicara lebih keras ternyata bisa menghasilkan tetesan yang lebih besar, serta jumlah yang lebih besar.

Hasil penelitian terbaru lainnya menunjukkan bahwa hanya mengartikulasikan suara tertentu juga bisa menghasilkan jumlah partikel pernapasan yang jauh lebih tinggi. Lafal "th" dalam kata "healthy", misalnya, adalah pelontar tetesan yang sangat efisien. 

Penelitian lainnya, yang diterbitkan pada Januari 2020 oleh para peneliti dari University of California, menemukan bahwa suara vokal "e" dalam kata “need” ternyata menghasilkan lebih banyak tetesan daripada "a" di kata "saw," atau "o" dalam kata "mood."

Namun, yang belum diketahui oleh para peneliti adalah apakah semua tetesan yang dihasilkan dari berbicara, batuk dan bersin, yang disebut-sebut membawa partikel, bisa sama-sama menularkan virus? Studi baru lainnya dari Linsey Marr, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan di Virginia Tech, menyebut bahwa menjaga jarak fisik dari orang lain adalah cara paling efektif untuk membantu memperlambat penyebaran virus Corona.

"Berdasarkan bukti ini dan lainnya, akan lebih bijaksana untuk menghindari percakapan tatap muka secara langsung dengan orang lain, kecuali Anda berada berjauhan dan di ruang yang berventilasi baik, termasuk di luar ruangan," kata Dr. Marr. Studi ini juga menyoroti pentingnya memakai masker selama interaksi sosial.

Related Article