post

Current Affairs

Di Balik Keributan tentang Foto Jenazah COVID-19 Karya Joshua Irwandi

Ramadhan, 21 Juli 2020

Musisi Anji Manji melontarkan komentar kontroversial terhadap foto jenazah pasien COVID-19 yang dibungkus plastik karya fotografer National Geographic Joshua Irwandi. Menurut Anji, ada banyak kejanggalan pada foto yang mewabah di media sosial tersebut. Banyak warganet yang bertanya, apakah Anji tahu proses panjang di balik kerja jurnalistik?

Joshua memotret jenazah COVID-19 yang seutuhnya terbungkus plastik. Dalam foto yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Rabu (15/7/20), Joshua menyampaikan pesan yang sangat kuat agar masyarakat Indonesia tidak lagi abai terhadap protokol kesehatan, bahwa virus SARS-CoV-2 memang benar-benar ada dan bukan "konspirasi elite global" seperti yang diyakini sebagian orang.

"Foto ini terlihat powerful ya. Jenazah korban cvd (COVID-19, -red). Tapi ada beberapa kejanggalan," kata Anji di akun Instagram pribadinya, sembari mencantumkan foto karya Joshua Irwandi, Minggu (19/7).

Anji juga menyoroti kemunculan caption dengan nada seragam dari akun-akun berpengikut banyak yang turut mengunggah foto tersebut. Anji curiga ada key opinion leader (KOL) yang mengarahkan opini publik. Anji juga menyoroti soal keleluasaan sang fotografer memotret jenazah COVID-19, melebihi keluarga.

View this post on Instagram

A post shared by Joshua Irwandi (@joshirwandi) on Jul 14, 2020 at 11:57pm PDT

Mendiskreditkan Profesi Pewarta?

Pada akhirnya, Anji menghapus unggahan foto beserta pernyataannya tersebut dari Instagram. Namun, sebelumnya, Sekretaris Pewarta Foto Indonesia (PFI) Hendra Eka menyayangkan sikap Anji di media sosial.

“Saudara Anji sudah menghubungi saya via telpon pada pukul 11.47 (Senin, 20 Juli 2020). Anji sudah meminta maaf terkait postingannya di Instagram. Anji juga berjanji untuk segera menghapus postingan tersebut dan meminta maaf secara terbuka,” kata Hendra saat dihubungi Asumsi.co, Senin (20/7).

Pihak PFI menganggap Anji mendiskreditkan profesi pewarta dengan menyamakan produk jurnalistik yang otentik dengan cara kerja buzzer, influencer, atau Youtuber. Menurut Hendra, Anji seharusnya mencantumkam keterangan lain yang berkaitan dengan produk jurnalistik karya Joshua, sehingga masyarakat juga teredukasi dengan baik, dan tidak ada opini liar atau penghakiman terhadap karya tersebut.

“Anji juga seharusnya lebih bijak dalam mengunggah setiap postingan, agar tidak terjadi bias eksplisit maupun implisit, mengingat followers Instagramnya yg cukup banyak,” ucap Hendra.

Hendra menjelaskan bahwa proses pengambilan karya foto jurnalistik tersebut cukup panjang, di mana pewarta foto wajib untuk mendapatkan izin dari pihak rumah sakit terkait. Selain itu, tentu saja harus memaruhi protokol kesehatan yang ketat.

“Joshua bahkan membawa dua buah kamera, satu kamera khusus yang diletakan di ruang isolasi, tidak dibawa keluar dari ruangan itu,” ujarnya.

Ada Proses Panjang dalam Tugas-tugas Jurnalistik

Nyimas Laula, jurnalis foto yang berbasis di Bali ikut menanggapi komentar Anji. Menurut Nyimas, fotografi jurnalistik tak bisa dipandang sama dengan kerja fotografer pada umumnya.

“Jelas foto yang kita ambil untuk cerita-cerita jurnalistik menuntut proses panjang. Sebagai jurnalis, kita harus mematuhi kode etik jurnalistik,” kata Nyimas saat dihubungi Asumsi.co, Senin (20/7). “Nggak mungkin kita hanya masuk ke rumah sakit, lalu kita foto-foto, yang ada kita diusir security,” ucapnya.

Menurut Nyimas, seorang pewarta atau jurnalis foto tidak boleh merekayasa sama sekali, juga tidak boleh mereka ulang suatu kejadian untuk dipotret. Sebuah karya foto jurnalistik harus selalu apa adanya.

“Dari unggahan Anji, muncul asumsi bahwa foto karya Joshua Irwandi seakan-akan dibuat atau direkayasa untuk menakut-nakuti masyarakat. Dari komentar-komentar warganet kita bisa lihat banyak asumsi liar muncul dari caption Anji,” kata kontributor The New York Times tersebut. "Dan ini bisa menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap media atau jurnalis."

Bicara sebuah foto jurnalistik yang mendapat perhatian khalayak, ada sebuah foto karya pewarta foto Jakarta Globe Mas Agung Wilis saat demonstrasi protes hasil Pemilu 2019 di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 22 Mei 2019. Foto itu menunjukkan seorang polisi sedang videocall dengan anaknya saat beristirahat setelah menjalankan tugas mengamankan demonstrasi.

“Foto karya Mas Agung Wilis itu sama viralnya dengan yang sekarang. Hampir sama, mungkin foto Joshua lebih besar karena banyak diskusi-diskusi dan memantik orang berasumsi dari foto ini, tapi itu jadi hal lumrah,” kata Nyimas.

Ada pula foto hasil karya pewarta foto Kompas Garry Lotulung pada saat Aksi Tolak RUKHP di Belakang Gedung DPR/MPR, Palmerah, Jakarta, Rabu, 25 September 2019. Dalam foto Garry, terlihat seorang pelajar STM menggenggam telepon seluler dan membawa sebuah bendera merah putih, berlari di tengah kabut gas air mata sembari menyeka matanya.

Foto tersebut langsung mewabah dan memicu perdebatan. Tentu saja banyak pujian untuk foto karya Garry, yang dianggap memiliki komposisi kuat dengan momen yang pas. Di sisi lain, ada juga yang beranggapan foto itu justru membuat sang anak STM berurusan dengan pihak kepolisian karena dianggap melecehkan bendera Merah Putih saat itu.

“Bagaimana satu foto itu mudah dipahami oleh semua orang sehingga semua orang ini bisa relate dengan foto tersebut. Jadi itu yang menyebabkan orang itu mau men-share ulang foto itu, dan kemudian fotonya viral,” kata Nyimas.

“Ya mungkin perlu riset lebih jauh melihat karya-karya foto jurnalistik yang sudah viral sebelum ini. Sebenarnya nggak ada ya konspirasi-konspirasi KOL (Key Opinion Leader) itu. Menurut saya ini sangat-sangat organik. Toh memang sebelumnya di Indonesia belum pernah lihat foto yang sejenis, jadi itu sudah jadi hal yang nggak aneh kalau misalnya foto ini viral,” ujarnya menutup pembicaraan.