featured

Pop Culture

28 Jan 2019

Bukankah Kita Semua Kapitalis Seperti Marie Kondo?

Hafizh Mulia

Siapa yang pernah menyangka kalau pekerjaan beres-beres rumah, yang seringkali diserahkan kepada Asisten Rumah Tangga (ART), bakal dibicarakan seluruh dunia dan bahkan menjadi tontonan di Netflix? Bintangnya sendiri, Marie Kondo, mungkin pernah tak percaya kalau hobinya membereskan rumah akan membuatnya terkenal. Namun, itu lah yang kini terjadi. Dengan nama program Tidying Up with Marie Kondo, Netflix menayangkan reality show mengenai kegiatan beres-beres rumah.

Buat kalian yang belum mengenal Marie Kondo, ia adalah seorang konsultan pengorganisasian barang-barang. Mungkin sebagian dari kalian tidak percaya, namun pekerjaan ini benar-benar ada. Marie Kondo, melalui metode KonMari yang digagasnya, menawarkan jasa konsultasi pengorganisasian barang-barang, khususnya barang-barang di rumah. Metode ini memiliki ciri khasnya sendiri. Seperti apa metode tersebut?

Metode KonMari, Beres-beres Sambil Bersyukur

Marie Kondo telah menjadi seorang profesional dalam membereskan rumah di umur 19 tahun. Awalnya, ia menawarkan jasa beres-beres rumah pada teman-temannya. Ia membuka jasa beres-beres ini demi mendapatkan uang jajan tambahan. Sukses membereskan rumah teman-temannya, nama Marie Kondo semakin tersebar luas sebagai pemberes rumah profesional di Jepang. Dalam satu waktu, Marie Kondo pernah memiliki daftar tunggu hingga enam bulan lamanya. Selang beberapa tahun, ia pun menjadi selebriti Jepang atas dasar kemampuannya menjadi konsultan beres-beres rumah. Di tahun 2011, ia menuliskan buku pertamanya yang berjudul Jinsei ga Tokimeku Katazuke no Mahō. Buku tersebut begitu laris dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris di tahun 2014 dengan judul The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Metode beres-beres KonMari berangkat dari ajaran Shinto. Secara esensial, Vox melihat metode ini dibagi menjadi dua tahap yang berbeda.  Yang pertama, tahap mengumpulkan seluruh barang dalam satu kategori yang sama. Lalu kedua, tahap memilih barang mana yang dapat menimbulkan kebahagiaan untuk pemiliknya. Barang-barang yang menimbulkan kebahagiaan (spark joy) menurut Kondo boleh disimpan. Sedangkan yang tidak, dapat dibuang. Sebelum dibuang, Kondo menekankan pentingnya berterima kasih pada barang tersebut karena telah berjasa pada kehidupan kita. Selain itu, metode KonMari ini juga menekankan pentingnya bersyukur atas rumah yang kita tempati karena telah memberikan perlindungan.

Dalam pelaksanaannya, metode KonMari memiliki banyak rincian spesifik. Beberapa di antaranya adalah pertama, menyimpan barang yang jarang dipakai di tempat yang sulit dijangkau, dan barang yang sering digunakan di lokasi yang lebih mudah diakses. Kedua, metode ini juga menyarankan pengorganisasian barang-barang dalam kotak-kotak yang berbeda dan transparan, sesuai dengan kategorinya. Ketiga, KonMari menyarankan kita untuk melipat pakaian secara vertikal.

Hal-hal spesifik ini lah yang seringkali tidak terpikirkan oleh banyak orang yang menjadi kliennya. Mereka hanya mengorganisasikan barang sesuai kebutuhannya, tetapi tidak melihat aspek aestetik dan fungsionalitas yang lebih jauh. Para kliennya juga seringkali bermasalah dengan barang timbunan yang sebenarnya sudah tidak berguna lagi. Melalui KonMari, Kondo memberikan kita saran-saran agar dapat hidup lebih rapi dan teratur. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya hidup sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan.

Fenomenal, Membuat Marie Kondo Dipuja Sekaligus Dikritisi

Semakin mendunianya nama Marie Kondo ternyata membuat ia menjadi sosok yang kontroversial. Di mata penggemarnya, ia bagaikan malaikat yang diberi wahyu untuk mengubah kelakukan banyak orang. Para penggemarnya menjadikan ia sebagai satu referensi utama demi hidup yang lebih teratur. Tidak sedikit orang yang akhirnya tercerahkan dan membereskan rumahnya sesuai dengan metode KonMari.

Di sisi lain, nama Kondo juga tak luput dari kritik. Ada yang menganggapnya sebagai seorang kapitalis perampok para pemalas. Ada yang ragu kalau aura positif Kondo hanya bagian dari persona depan kamera. Beberapa lainnya juga merasa bahwa menyimpan barang-barang yang hanya ‘menciptakan kebahagiaan’ adalah hal yang irasional. Bagaimana kalau barang tersebut tidak menimbulkan kebahagiaan, tetapi esensial dalam kehidupan? Apa harus tetap dibuang? Pertanyaan-pertanyaan yang meragukan rasionalitas ‘kebahagiaan’ ini membuat Marie Kondo menjadi omongan banyak orang.

Marie Kondo Tidak Merampok, Ia Hanya Bekerja Sesuai Kemampuannya. Bukankah Kita Juga?

Buat saya, Marie Kondo hanyalah sumber hiburan. Saya hanya pernah menonton tayangannya di Netflix, membaca sedikit karya tulisnya, dan membaca ulasan beberapa orang. Saya tidak pernah mempraktikkan KonMari dan tidak berpikir untuk melakukannya dalam waktu dekat. Meski demikian, saya bukannya anti pada gagasan yang ia bawa. Menurut saya, kritik yang dilayangkan oleh banyak orang justru salah sasaran dan cenderung menyalahkan kemampuan yang ia miliki. Apalagi mengatakan ia sebagai perampok para pemalas. Marie Kondo justru menawarkan solusi sebaik yang ia mampu. Jika menggunakan analogi yang sama dengan ‘Marie Kondo sebagai perampok para pemalas’, berarti semua konsultan, baik itu keuangan, pemerintah, bisnis, atau konsultan lainnnya adalah para perampok juga. Kan faktanya tidak demikian. Begitu pun teknologi yang kita bayar. Teknologi yang hadir telah memudahkan kehidupan manusia. Untuk menggunakan jasa teknologi tersebut, tentu kita membayar sejumlah uang yang menjadi harganya. Besar harapannya, dengan teknologi tersebut, hidup kita jadi jauh lebih mudah. Apa itu artinya teknologi merampok kita? Kan tidak.

Marie Kondo adalah seseorang yang berhasil memanfaatkan kemampuan yang ia miliki menjadi uang. Hal itu jelas tidak salah. Bukankah kita juga? Kita memiliki kemampuan masing-masing dan berharap mendapatkan bayaran optimal dari apa yang kita tawarkan. Marie Kondo pun demikian.

Hafizh Mulia adalah mahasiswa tingkat akhir program sarjana di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Tertarik dengan isu-isu ekonomi, politik, dan transnasionalisme. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Twitter dengan username @kolejlaif.

Share: Bukankah Kita Semua Kapitalis Seperti Marie Kondo?