Boeing 737 Max 8, Tercanggih dan Terlaku Tapi Ternyata Produk Gagal

Kecelakaan tragis pesawat Boeing 737 MAX 8 Lion Air di Perairan Karawang akhir bulan kemarin masih menjadi bahan pembicaraan di berbagai lini. Boeing sendiri dilaporkan tengah bersiap untuk memperingatkan maskapai bahwa ada kesalahan dalam seri pesawat terbarunya yang dapat membuat pesawat “menukik secara tiba-tiba”.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 itu pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2017 silam, setelah dikirim langsung dari Boeing Company yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat. Pihak Lion Air Group, dalam postingan di Twitter resminya tertanggal 3 Juli 2017, pernah mengunggah kedatangan pertama pesawat Boeing 737 MAX 8. Diketahui kalau Lion Air memesan total 218 unit Boeing 737 MAX 8 untuk penerbangan Arab Saudi, Korea, China, dan seluruh rute domestik.

"Pemberitahuan dari Boeing akan mengatakan bahwa pembacaan yang keliru dari sistem pemantauan penerbangan jet dapat menyebabkan pesawat 'tiba-tiba menukik'," demikian yang dikutip Russia Today dari Bloomberg, Kamis, 8 November 2018.

Peringatan itu didasarkan pada investigasi kecelakaan pesawat Lion Air Flight JT 610 pada 29 Oktober 2018 yang jatuh dan menewaskan 189 orang di dalamnya. Data yang diambil dari perekam penerbangan mengungkapkan bahwa pesawat mengalami masalah dengan indikator kecepatan udara selama empat penerbangan terakhirnya.

Data itu juga menunjukkan bahwa dalam beberapa keadaan, misal saat pilot menerbangkan pesawat secara manual, jet Boeing seri Max akan secara otomatis berusaha menurunkan hidung pesawat jika mendeteksi bahwa adanya aerodynamics stall yang menyebabkan mati mesin. Meskipun dari hasil rekaman belum diketahui apakah masalah tersebut berhubungan dengan isu angle of attack.

Detail mengenai buletin yang akan dikeluarkan Boeing belum diketahui, tetapi peringatan tersebut mungkin akan menjadi langkah konkret pertama hasil dari penyelidikan kecelakaan. Boeing memiliki prosedur yang memungkinkan pilot untuk terus terbang jika pembacaan angle of attack mengalami kesalahan.

Diklaim Tercanggih dan Sangat Laku Namun Gagal Produksi

Pesawat 737 MAX termasuk pesawat baru yang diklaim tercanggih yang dikeluarkan oleh Boeing. Pesawat itu juga laku keras dengan ratusan di antaranya telah selesai dan dikirimkan ke berbagai maskapai, termasuk Lion Air.

Dengan usianya yang baru dua rahun sejak diproduksi pabrikan Amerika Serikat pada 2016 dan diuji coba pada tahun yang sama pada 29 Januari, kemudian tiga bulan setelahnya, sertifikasi dari regulator AS dikantongi pada 3 Maret 2017.

Berjenis 737 Max 8, pesawat dengan berbadan ramping ini merupakan armada generasi keempat yang menawarkan efisiensi, daya jelajah lebih tinggi, dan kenyamanan dalam bilik kabin. Berkat kecanggihannya itulah 737 Max 8 menjadi produk terlaris dalam sejarah Boeing dengan pesanan 4.783 unit pesawat (per September 2018) dari seluruh dunia, dan Lion Air menjadi maskapai pertama di dunia yang menerima pesawat tersebut yakni pada 16 Mei 2017 dengan harga per unitnya dibanderol US$117,1 juta atau Rp1,8 triliun per unit.

Namun, ditulis Reuters pada Selasa, 30 Oktober 2018, Boeing sudah menghentikan uji coba pesawat jenis 737 Max 8 karena masalah pada mesin. Informasi itu sendiri juga disampaikan langsung oleh perusahaan yang bekerja sama dengan General Electric Co dan Safran SA.

Juru Bicara Pembuat Mesin CFM International Jamie Jewel mengatakan Safran SA sebenarnya menemukan adanya masalah pada piringan logam besar yang digunakan dalam turbin bertekanan rendah di belakang mesin. Maka Boeing langsung melarang 21 pesawat terbaru mereka untuk terbang.

Bukan hanya Boeing 737 MAX saja, bahkan pendahulunya yaitu Boeing 787 Dreamliner juga sudah lebih dulu bermasalah. Pada Februari 2013 misalnya, perusahaan mengajukan proposal rencana perbaikan baterai pesawat jenis lithium ion jet kepada Federal Aviaton Administration (FAA) untuk produk pesawat terbaru mereka.

Dalam proposal itu disebutkan, rencana perbaikan kualitas baterai pesawat karena ada insiden baterai yang dipakai itu menimbulkan panas yang luar biasa dua bulan sebelumnya. Pada saat itu, Maskapai All Nipon Airways yang membawa pesawat Boeing 787 di Boston mengalami kebakaran pada baterai mereka. Pun dengan Japan Airlines 787 di Jepang yang juga mengalami baterai sangat panas. Usai kejadian itu, sebanyak 50 Boeing 787 Dreamliner telah dilarang terbang selama hampir lima minggu di seluruh dunia oleh Federal Aviation Administratio (FAA).

“Keamanan publik dalam terbang adalah prioritas utama. Dan kami tidak mengizinkan 787 kembali terbang secara komersial sampai yakin keputusan yang diambil merupakan solusi tepat untuk memperbaiki kegagalan baterai tersebut,” kata perwakilan FAA.

Peristiwa kecelakaan jatuhnya pesawat terjadi pada Senin, 29 Oktober 2010 pagi pukul 06.33 WIB itu pun langsung mendapatkan respons dari pelaku pasar saham. Di pasar saham New York Stock Exchange (NYSE) pada Senin, waktu setempat saham Boeing anjlok 6,59 persen.

Jatuhnya saham Boeing memang hanya respons sementara dari para investor, sebab pada dasarnya kinerja Boeing cukup mengkilap. Misalnya, pada laporan keuangan kuartal III-2018, mereka mampu membukukan pendapatan sebesar 25,1 miliar dolar AS, yang artinya naik 3,71 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu. 

Related Article