Bisa Belajar Online dengan Mudah Itu Privilese

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk menutup seluruh sekolah di Jakarta mulai Senin (16/3) hingga dua pekan ke depan demi mencegah penyebaran COVID-19.

Seiring peningkatan kasus positif COVID-19, banyak perguruan tinggi yang juga ikut menerapkan kebijakan ini. Universitas Indonesia salah satunya. Melalui surat edaran resmi, Rektor Ari Kuncoro mengatakan universitasnya akan memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh mulai Rabu (18/3) hingga berakhirnya semester genap Tahun Ajaran 2019/2020 dan meniadakan segala aktivitas pembelajaran tatap muka.

Jujur saja, sebagai mahasiswa, saya menyambut keputusan ini dengan penuh suka cita. Selain bisa menghemat ongkos dan waktu, saya juga bisa sedikit berbangga hati dan berkata dengan jumawa pada diri sendiri, “Selama satu semester penuh, saya tidak menyumbangkan polusi udara. Untuk itu, saya telah memberikan kontribusi kepada alam semesta.”

Selain itu, bagi saya, berleha-leha adalah kemewahan. Untuk apa menempuh jarak 20 kilometer tiap hari demi berdesakan di ruang kelas yang sempit dan panasnya bukan main? Belum lagi kalau pengajar datang terlambat, memeriksa kehadiran mahasiswa, dan pergi lagi setelah memberikan tugas. Untuk itu saja, sering terpikir, kalau seandainya saya bisa meminta waktu itu kembali, saya akan memakainya untuk menuntaskan satu buku tipis.

Kalaupun ada dosen yang datang tepat waktu dan mengajar sebagaimana mestinya, sering kali yang tersaji cuma monolog hampa tanpa diskusi atau perdebatan mendalam soal materi yang disampaikan.

Anita, bukan nama sebenarnya, menyetujui keberatan itu. Mahasiswa jurusan psikologi di salah satu perguruan tinggi negeri ini baru saja menyelesaikan kuliah online psikometri menggunakan aplikasi Zoom. Baginya, metode belajar ini lebih menyenangkan.

Luckily, enggak terlalu banyak makan kuota internet. Waktunya fleksibel. Bisa sambil makan snack atau multitasking, yang enggak bisa dilakukan dalam kelas normal. Kalau masih kurang paham dengan sekali penjelasan, bisa liat rekamannya, terus chat dosen atau teman. Cocok buat yang bukan fast learner kayak aku,” kata Anita.

Tapi tentu tidak semua orang merasakan pengalaman yang sama dengan saya dan Anita. Hazel, seorang siswa SMP Negeri di Jakarta, justru sebaliknya. Ia lebih memilih datang ke sekolah untuk belajar dengan tatap muka. Menurutnya, para guru tidak memanfaatkan aplikasi komunikasi jarak jauh dengan maksimal.

“Sejauh ini belum ada [video conference]. Rata-rata kalau jelasin lewat chat aja atau langsung kasih tugas, lalu dikumpulin,” kata Hazel. “Guru saya gaya ngetiknya kurang jelas, jadi banyak murid yang salah tangkap,” tambahnya.

Hal ini dibenarkan Naya, dosen muda yang mengajar pada dua perguruan tinggi sekaligus. Baginya, beberapa mata kuliah yang diampunya menggunakan metode dialog yang tidak bisa diterapkan melalui video conference.

“Karena gue nggak suka ngajar dengan cara yang kayak ceramah. Gue ngomongnya dikit aja dan kelasnya dibangun lewat diskusi. Jadi, kalaupun gue akan submit powerpoint atau tulisan gue, jadi kurang dua arah gitu lho komunikasinya. Dan walaupun gue stand by di chat room, gue yakin banget mahasiswa bakal lebih pasif, nggak kayak di kelas,” kata Naya

Naya tidak punya pilihan lain. Setelah surat dari rektorat beredar, rapat diadakan secara mendadak. Meski membahas media apa saja yang bisa digunakan, rapat tidak membicarakan soal silabus atau bagaimana menyiapkan tenaga pengajar untuk metode yang tiba-tiba berubah. Para dosen dipaksa bersiasat sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, banyak tenaga pengajar yang menjadikan hal ini sebagai formalitas dan tokenisme untuk sekadar memenuhi kewajibannya mengampu kelas. Tugas lagi, tugas lagi.

“Kemarin akhirnya gue nyoba dan nyerah karena akhirnya belum bisa mikirin apa-apa. Gue cuma ngabsen dan ngasih tugas aja, tugas laporan bacaan. Karena bener-bener bingung. Oke, mereka ngasih tau bisa pake Hangout, Zoom, dan lain-lain. Tapi, kan, metode belajar tiap mata kuliah beda-beda ya,” katanya.

Di sisi lain, saya lupa bahwa sukacita saya menyambut pembelajaran jarak jauh tak lepas dari privilese yang saya miliki. Meski tak kaya, saya punya gawai dan koneksi yang mumpuni. Bagaimana dengan yang bernasib lain?

Bagi Amri, dosen mata kuliah kalkulus di salah satu universitas swasta di Bandung, mengajar dengan tatap muka saja susahnya bukan main. Keharusan mengajar secara online membuatnya frustrasi. 

“Harus pake teknologi yang mereka nggak cakap sama sekali,” katanya mengeluh. “Mahasiswa saya rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Hal-hal yang berbau teknologi, mereka catch up-nya agak susah,” tambahnya

Hal lain yang baru terpikirkan adalah saya tidak memerlukan cara belajar khusus. Bagaimana dengan para siswa sekolah inklusif yang berkebutuhan khusus?

Reni, seorang guru di sebuah sekolah menengah inklusif swasta di Jakarta, mengatakan bahwa baginya, yang mengajar para siswa berkebutuhan khusus, ada strategi pengajaran dan tujuan yang sangat sulit sekali tercapai melalui media daring.

“Penggunaan instruksi dan material yang sifatnya virtual akan sangat berbeda dengan interaksi langsung. Khususnya untuk anak-anak yang mengalami kesulitan dalam memahami instruksi atau teks-teks bacaan yang disertai dengan hambatan lain seperti rentang fokus yang pendek,” kata Reni.

“Sejauh ini yang bisa saya berikan adalah menyederhanakan instruksi dan membaginya menjadi bentuk urutan yang dikirimkan melalui email atau Google Hangout,” tambahnya.

Biasanya, dalam kelas tatap muka, Reni memastikan agar siswa-siswanya mampu belajar dan menerima materi dengan baik. Ada dua cara: pendampingan langsung selama murid belajar dan briefing di awal sebelum pembelajaran mulai. Hal ini juga menyesuaikan tingkat kesulitan dan kemampuan belajar muridnya.

Untuk materi yang ringan dan hanya butuh penyederhanaan instruksi, biasanya ia berikan dalam bentuk briefing sebelum kelas dimulai. Pada proses ini juga ia melakukan pengecekan, pemahaman, dan penyamaan persepsi siswa terhadap materi.

Dengan metode pendampingan langsung, di dalam satu kelas bisa terdapat 2-3 guru. 1 guru yang mengajarkan materi mata pelajaran di depan dan 1-2 guru (tergantung jumlah murid berkebutuhan khusus yang ada di kelas) yang memfasilitasi murid belajar secara individual.

“Pembelajaran buat murid berkebutuhan khusus memang lebih dipersonalisasi. Akibatnya pembuatan rencana belajarnya pun berbeda dengan siswa lain meskipun mereka berada dalam satu kelas,” kata Reni.

Kalau pengajar siswa-siswa tanpa kebutuhan khusus saja dibuat repot bukan main karena perlu menyesuaikan dengan kondisi dan teknologi, bagaimana orang-orang seperti Reni dan siswa-siswanya?

 

Related Article