Berkah Pandemi bagi Jomblo

Pandemi COVID-19 adalah mimpi buruk bagi pasangan yang berencana menikah. Mau tak mau, harus rencana harus ditunda. Ada pasangan yang optimistis untuk menyelenggarakan pesta di akhir tahun dengan harapan wabah akan mereda di pertengahan tahun. Banyak juga pasangan yang mengundurkan pesta hingga waktu yang belum bisa dipastikan, atau bahkan membatalkan rencana sepenuhnya.

Kalau tak salah, Juni tahun lalu saya menghadiri hingga enam resepsi pernikahan sanak famili dan teman yang diselenggarakan di dalam maupun luar kota. Waktu itu rasanya tiada akhir pekan tanpa kondangan. Sudahlah kehilangan kesempatan rebahan di Sabtu dan Minggu, kekesalan semakin menjadi karena di sela-sela acara pasti ada yang bertanya, “Kapan menyusul?”

Saya harus menahan diri untuk tidak bertanya balik: "Kapan menyesal?"

Manusia adalah ahlinya perbandingan. Si jomblo dibanding-bandingkan dengan yang sudah menikah, seolah yang sudah menikah lebih baik daripada yang belum atau tidak menikah. Padahal, tidak semua orang merasa terjebak dan sengsara dengan kesendiriannya. Ada orang-orang yang secara sadar memilih untuk menjomblo dan baik-baik saja.

Tentu saya tidak memusuhi orang-orang yang memilih untuk menikah. Namun, saya merasa perlu mempertanyakan keajegan skenario hidup kebanyakan orang: menikah dan berkeluarga. Menikah atau tidak sejatinya adalah hak asasi manusia. Tetapi meyakini pernikahan sebagai satu-satunya cara untuk berbahagia membuat kita terlihat seperti katak dalam tempurung. Daripada sibuk bertanya “Kapan nikah?” ke para jomblowan dan jomblowati, ada baiknya kita bertanya dulu ke diri kita masing-masing, “Mengapa kita harus menikah?”

Menikah karena cinta adalah jawaban realistis sekaligus paling klise yang seringkali diumbar. Kebanyakan orang menikah karena mencintai pasangannya. Keputusan untuk menikah, katanya, diambil saat sedang cinta-cintanya dengan si dia. Di tahap ini biasanya kita sungguh sangat yakin bahwa si dia adalah jodoh kita, orang yang ditakdirkan untuk mendampingi kita dalam susah maupun senang, saat sehat maupun sakit. Layaknya iman yang percaya tanpa melihat dan mengamini tanpa menguji, begitulah keyakinan kita selama ini tentang jodoh dan cinta. Keyakinan yang sudah di ubun-ubun itulah yang membuat orang berani membeli beberapa gram cincin dan bertanya, “Will you marry me?” kepada pasangannya. 

Nyatanya, banyak orang menikah karena sudah tidak tahu lagi cintanya mau diapakan atau mau dibawa ke mana. Bagi yang sudah lama berpacaran pasti paham dengan kondisi ini, “Sudah dua tahun pacaran tapi kok dia diem-diem aja ya?” Awalnya pertanyaan ini hanya tersimpan di dalam hati. Tapi lama-lama si empunya pertanyaan tidak tahan juga karena si dia tak kunjung memberi kepastian. Akhirnya, kegelisahan itu diungkapkan lewat kalimat “Beib, hubungan kita ini arahnya mau ke mana sih?” 

Sama seperti rasa kantuk, gelisah pun menular. Yang ditanya ikut-ikutan gelisah dan berpikir keras untuk menjawab pertanyaan jebakan ini. Salah-salah, hubungan yang sudah terjalin selama ini akan berakhir saat itu juga. Meskipun keduanya sama-sama tahu arah perbincangan ini, tapi nampaknya tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Yang jelas, hubungan pacaran setelah munculnya pertanyaan itu tidak akan sama lagi. Lamaran yang diajukan setelahnya, baik dalam tempo yang sesingkat-singkatnya maupun selambat-lambatnya, sesungguhnya adalah hasil perenungan pasangan terhadap nasib cinta mereka. Keputusan menikah justru dipilih saat kita sedang putus asanya dengan cinta. 

Menikah di mata banyak orang adalah bukti cinta sejati. Seolah cinta yang terjalin selama pacaran tidak masuk hitungan karena ketulenannya diragukan. Katanya menikah adalah tanda kedewasaan cinta. Seolah pacaran selama bertahun-tahun itu kadarnya hanya cinta monyet anak SD belaka. Ada juga yang bilang menikah menunjukkan pasangan kita serius dengan kita. Seolah niat kita memacari anak orang sama dengan antusiasme kita main PUBG. Nuansa serius yang menaungi pernikahan membuat kita berpikir bahwa menikah adalah keputusan besar dalam hidup. Kalau memang begitu, keputusan besar biasanya membutuhkan persiapan atau modal yang tak kalah besar juga. Lalu, apakah pernikahan bermodalkan cinta saja cukup? Yang sudah atau pernah menikah pasti tahu jawabannya. 

Kita menikah karena memang begitulah sewajarnya. Ketika anggapan ini diamini oleh banyak orang, kita pun terseret ke dalam pusaran kewajaran dan keharusan untuk menikah. Kalau tak kunjung menikah, kita adalah manusia yang tidak wajar dan berbeda dari manusia kebanyakan. Masalahnya, tidak semua orang sanggup menjadi yang berbeda itu. Kalau boleh memilih, menjadi anggota dari yang kebanyakan itu akan membuat hidup kita lebih ringan, nyaman, dan bebas dari tuntutan. Sebaliknya menjadi yang berbeda artinya menjalani hidup yang penuh pertanyaan, cibiran, dan gunjingan setiap hari. Para jomblo tentunya sudah sangat paham dengan kelelahan hidup macam itu. Makanya, menikah karena ikut-ikutan, buat saya, lebih masuk akal ketimbang menikah karena cinta.

Manusia modern memandang relasi cinta layaknya pipa ledeng dan mereka adalah air yang ada di dalamnya. Pipa memiliki lubang masuk dan keluar, masuknya sebagai sepasang kekasih keluarnya sebagai suami istri. Jalur pipa lurus-lurus saja, kalau sudah berpacaran ya arahnya cuma satu, menikah, apa lagi? Kalau sudah menikah, ya punya anak, apa lagi? Manusia-manusia yang masuk ke dalam pipa hidupnya mengalir di dalam silinder sempit. Mengikuti rute pipa, kalau jalurnya lurus ya lurus, kalau belok ya belok. Air di dalam pipa tidak bisa beristirahat sejenak karena akan menyebabkan mampet. Ia akan terdorong oleh teman-temannya, menggelontor bersama menuju lubang pembuangan. 

Tapi, ada juga air yang merembes dari pipa tersebut. Merekalah yang kita sebut sebagai si jomblo. Mereka yang berhasil selamat dari kungkungan pipa itu, menurut saya, layak disebut sebagai penyintas. 

Menikah dan berkeluarga, bagi kebanyakan orang, adalah keharusan, bukan pilihan. Karena hukumnya “wajib” maka sejak kecil kita sudah main rumah-rumahan. Ada yang berperan sebagai ibu, bapak, anak, dan anjing peliharaan seperti dalam kartun Crayon Shinchan. Beranjak remaja, kita bermimpi mengencani bintang-bintang idola sambil berharap kelak punya pacar yang wajahnya mirip dengan mereka. Lulus dari masa remaja, kita mulai merancang kehidupan berkeluarga dalam bayangan kita. Para laki-laki getol bekerja dalam rangka mempersiapkan diri menjadi kepala keluarga dan tulang punggung yang serba ada. Sedangkan, para perempuan merawat diri sambil membayangkan pernikahan impian mereka dan anak-anak lucu yang mengisi hari-harinya. Percayalah, tidak ada satupun dari kita yang semasa hidupnya luput dari bayang-bayang menikah dan berkeluarga.

Sekali lagi, saya katakan bahwa tidak ada yang salah dari menikah dan berkeluarga. Tapi, sesekali tidak ada salahnya juga untuk menanyakan mengapa kita harus menikah dan berkeluarga. Salah satu ciri orang dewasa, katanya, adalah punya pilihan. Kita merasa berhak memilih segala hal yang menyangkut diri kita: mau makan apa, kerja apa, tinggal di mana, mau kemana, bahkan dengan siapa kita menjalin cinta. Tidak ada seorang pun yang dapat melarang-larang orang dewasa, termasuk keluarga kita. Orang tua kita suka bilang kalau kita berhak memilih pendamping hidup kita nantinya. Eits, jangan senang dulu, menganggap wejangan itu sebagai kebebasan sesungguhnya adalah kecerobohan fatal. Bukankah itu tandanya orang tuamu ujung-ujungnya nyuruh kamu nikah, Nduk? Kalau kamu mengiyakan nasihat orang tuamu, itu artinya kamu gadaikan kebebasanmu untuk memilih alternatif hidup bahagia selain dengan menikah. 

Menikah tidak sama dengan tawuran, jadi sebaiknya tak usah ikut-ikutan. Menikah juga bukan balapan MotoGP, jadi tak perlu susul-susulan.

Tanpa bermaksud tertawa di atas penderitaan pasangan yang tidak jadi menikah tahun ini, akhirnya saya bisa menikmati akhir pekan dengan leluasa. Sungguh nikmat rasanya tidak perlu bangun pagi untuk nyalon dan memusingkan dresscode. Lebih nikmat lagi karena saya tidak perlu berhadapan dengan sanak famili atau kerabat yang punya perhatian berlebih dengan hidup orang lain saat musim mantenan. Mungkin bukan hidup saya yang sedang mereka pusingkan, melainkan hidup mereka sendiri. Lagi pula buat apa ambil pusing dengan mereka yang sibuk bertanya “kapan nikah” tapi tidak berniat membiayai pernikahan saya nantinya?

 

Nicky Stephani. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya. Suka mencermati dan mengkaji budaya populer, gender, dan seksualitas di waktu luangnya.

Related Article