Berjuanglah bersama Kelas Pekerja, Menyanyilah bersama Jamrud

Adakalanya kita mesti terjun, adakalanya kita menepi. Linimasa Twitter dihebohkan oleh perbincangan riuh soal privilese dalam sepekan terakhir. Meski banyak yang menyodorkan data keras, argumen ilmiah teruji, serta telaah teori yang tak berlandaskan angan-angan, tak sedikit pula yang mengambil jalan sebaliknya. Manusia-manusia dari kelompok kedua, barangkali terbiasa memandang dunia lewat kacamata kuda, mengeruhkan suasana dengan argumen yang paripurna absurdnya: ajakan bersyukur, tuduhan kecemburuan sosial, hingga imbauan agar sensitif terhadap kerapuhan perasaan orang-orang dengan privilese.

Semua ini bikin kepala saya pening. Harus ada yang membumikan percakapan tersebut dan mendudukkannya dalam ranah yang sesuai. Kita butuh kerongkongan yang tidak sekadar menyemburkan dahak berupa ajakan untuk bekerja lebih giat atau janji-janji surga revolusi. Kita butuh sosok yang dapat mewakili kegundahan kita sekaligus mengartikulasikannya dengan baik. Dan saya pikir, saya telah menemukannya.

Akhir pekan lalu (23/11), Asumsi.co berkesempatan menghadiri The 90s Festival, perhelatan musik tahunan yang menampilkan artis-artis beken senja kala Orba. Pada hari pertama edisi kelima festival tersebut, panggung Gambir Expo Kemayoran diramaikan oleh Naif, God Bless, Tofu, Element, Iwa K, KLa Project, Hanson, hingga Aqua. Namun, saya datang ke sana membawa tujuan lain. Dalam sanubari saya, ada tekad mulia untuk menemukan suara baru kelas pekerja Twitter.

Perjalanan ini jelas tak mudah. Akademisi Nicholas Cook (1998) pernah menulis bahwa keputusan memilih mendengarkan musik tertentu “adalah bagian penting dari proses menentukan dan mengumumkan identitas serta aspirasi hidup seseorang.” Setali tiga uang, Small (1977) berkesimpulan bahwa musik adalah “indikator kebudayaan paling sensitif” sekaligus bentuk kesenian yang “paling erat dengan sikap bawah sadar serta asumsi yang menjadi landasan kehidupan bermasyarakat kita.”

Proses tersebut berjalan dua arah. Menurut Simon Frith (2002), kelompok sosial tak selalu menyepakati nilai-nilai yang kemudian diekspresikan melalui kebudayaan. Kadang, sebaliknya pun terjadi. Melalui kegiatan kebudayaan seperti musik, individu-individu yang tadinya tercerai-berai dapat menemukan identitas bersama dan kemudian memutuskan buat berhimpun. Singkat kata, musik juga memiliki kekuatan untuk mempersatukan orang dengan latar belakang yang sekilas berbeda-beda.

Berbekal pengetahuan ini, saya berangkat ke The 90s Festival. Kawan saya telah berdandan demi menyongsong dentuman beat Aqua, sementara saya memasang seragam jamet sebab hati tertawan Jamrud. Setibanya di Gambir Expo, Element tengah menyudahi set-nya dengan lagu “Rahasia Hati” yang sensasional itu. Radar privilese saya belum menyala saat mereka tampil. Saya sekadar bergembira.

Pencarian saya baru sungguh-sungguh dimulai ketika God Bless naik panggung. Sejujurnya agak ganjil melihat grup rock veteran itu dipacak di The 90s Festival, sebab mereka berjaya pada dekade 1970-an dan 1980-an. Namun, siapa sanggup menolak para legenda? Ahmad Albar dkk. tampil enerjik, rapi, dan penuh gaya. Setlist mereka disesaki lagu-lagu hits seperti “Rumah Kita,” “Semut Hitam,” “Menjilat Matahari,” hingga “Syair Kehidupan.”

Sebetulnya hati ini agak perih menyaksikan slot keyboard tak diisi almarhum Yockie Suryo Prayogo. Tetapi penampilan beringas Abadi Soesman agak mengobatinya. Beliau tak hanya memainkan empat keyboard sekaligus. Gesper yang dikenakannya juga bergambar keyboard! Setelah kamu mengalahkan semua jagoan keyboard, ia adalah bos di level terakhir.

Pada permulaan set, mereka memainkan nomor klasik “Kehidupan.” Seolah ketuaan tak mencapai jari-jarinya, Donny Fattah Gagola memainkan bassline sadis di track tersebut selagi Ian Antono bersantai. “Tak dapatkah sejenak hentikan ambisimu? / Lihatlah peluhku, tegaklah hatiku,” nyanyi Ahmad Albar sembari lari di tempat. “Seribu satu problema / Menyesak di dalam dada / Apa itu? / Susu anakku!”

Kandidat pertama telah menyampaikan bukti yang sukar ditampik. “Kehidupan” berkisah tentang ambisi lepas kendali sebagai bahan bakar kecemasan, yang apinya dapat menghanguskan rasa kemanusiaan dan belas kasih. Ia pun bisa jadi anthem yang tepat bagi muda-mudi prekariat masa kini yang compang-camping berkat ambisi meraih beasiswa dan prospek pendapatan tak pasti. 

Favorit saya tentu “Rumah Kita,” balada yang merayakan kesederhanaan dan kemandirian, juga menggugat urbanisasi. “Hanya bilik bambu tempat tinggal kita / Tanpa hiasan, tanpa lukisan / Beratap jerami, beralaskan tanah / Namun semua ini punya kita,” kata Ahmad Albar. “Haruskah kita beranjak ke kota / yang penuh dengan tanya?” 

Nun jauh di sana, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono tersenyum dan membuka ponselnya. Dengan riang, ia menghubungi teman-teman seband-nya di Elek Yo Band. “Ayo konco,” ucapnya, seraya meraih stik drum. “Aku telah menemukan lagu baru untuk kita porak-porandakan.”

Malam kian larut, keringat membuncah, dan panggung The 90s Festival dimeriahkan oleh legenda europop Aqua. Prinsip saya gampang: band mana pun yang menenteng piano berwarna pink ke atas panggung pasti keren. Aqua membuktikan nama besarnya dengan penampilan yang tak saja enerjik, tetapi juga rapi secara teknis dan kualitas suara. 

Kita mungkin mengenal mereka berkat single “Barbie Girl” yang luar biasa catchy itu, dan tak satupun jiwa urung berdansa saat mendengar nomor tersebut dimainkan. Perayaan Aqua terhadap hidup yang penuh sandiwara dan pretensi itu bikin saya tersenyum lebar. “Benar kata Debord,” pikir saya sembari berjoget. “Hidup memang plastik, dan memang fantastik.”

Namun, momen terbaik mereka hadir di nomor “My Oh My.” Duet vokalis Lene Nystrom dan Rene Dif saling sahut, seperti sepasang kekasih yang merajuk. “My oh my, do you wanna say goodbye? / To rule the country, baby, you and I?” tanya Lene. “Gotta steal from the rich when they don’t know I’m comin’ / Gotta give to the poor, no time for lovin” balas Rene. “My oh my, don’t you cry, 'cause there’s no way I’m staying / I will leave, say 'bye bye,' I’m going my way.”

Sebentar. Mencuri dari yang kaya, memberi kepada yang miskin, tiada waktu untuk bercinta? Apakah lagu ini diilhami perpisahan Tan Malaka dengan pacarnya demi menapaki jalan perjuangan? Apakah Aqua diam-diam bersimpati kepada para partisan? Belum putus pikiran ini di kepala saya, mereka menutup set dengan nomor klasik “Roses Are Red.” Hei Aqua, tahu apa yang merah selain mawar? Perlawanan kelas pekerja.

Tetapi, mohon maaf, bukan mereka juaranya. Pencarian saya tuntas di Jamrud. Lagu-lagu mereka tak hanya sedap di kuping, tapi juga amat dekat dengan keseharian kelas pekerja. Siulan dan nyanyian Krisyanto di “Waktuku Mandi” digambarkan cukup untuk bikin seorang nenek-nenek jantungan dan burung peliharaan kabur--artinya, latar lagu tersebut adalah kampung kota yang sempit dan hampir tak ada ruang privat. Bukan tidak mungkin, jika kampung imajiner tersebut sungguh-sungguh ada, Dea Anugrah bakal bernapsu mengunjunginya untuk Asumsi Distrik.

“Kabari Aku,” tentang siksaan rindu, terasa seperti lagu kebangsaan buruh migran yang membusuk di luar negeri. “Inginku berenang ke kotamu,” jerit Krisyanto. “Tapi pasti tenggelam dan kau sedih.” Bagaimana caranya menulis lirik romantik sembari menertawakan tropes romansa itu sendiri? Jenial.

Intan berlian lirikal Jamrud yang lain tersebar di sana-sini. Bagian “mungkin butuh kursus merangkai kata” dalam “Pelangi di Matamu,” misalnya, mengingatkan kita akan keinginan para pekerja memperbaiki kondisi hidupnya dengan cara mencari kursus-kursus yang kadang kelewat ajaib. Jamrud pun nyinyir terhadap urbanisasi dan modernitas asal jadi. “Surti & Tejo” mengisahkan seorang bocah desa yang jadi kemaki setelah lama tinggal di kota, dan sentimen serupa menguar di “Asal British.” Krisyanto bernyanyi dengan bahasa Inggris morat-marit untuk mengejek temannya yang keminggris. Bayangkan: mereka sudah bikin lelucon Jaksel sebelum lelucon Jaksel jadi populer.

Cemooh serupa membanjir pula dalam “Ningrat,” lagu yang brilian dari segi musik maupun lirik. Berkisah tentang sepasang kekasih yang terbentur feodalisme Jawa, sarkasme Jamrud bikin saya terpingkal-pingkal. Bahasa kiasan mereka--pacaran seperti “main ludruk,” “tiap datang disuguhin keris”--selalu presisi. Lebih-lebih, menirukan omongan orang tua Jawa dalam bahasa Jawa awur-awuran adalah taktik subversi budaya yang patut diacungi jempol.

Namun, lagu yang meyakinkan saya bahwa pencarian saya usai di Jamrud adalah “Berakit-rakit.” Semestinya, sembilan puluh lima persen argumen tentang privilese di Twitter disudahi dengan tautan lagu itu saja. Simak lirik mereka dengan saksama. “Aku masih di sini, di atas bumi ini / Tempatku makan, minum, ee, dan segalanya / Merdekalah katanya,” kata Krisyanto, sinis. “Tapi aku tak bisa nyanyi di rumah sendiri / Tubuh pasti luka atau jadi berita / Dijemput dan menghilang.”

Patut dicatat bahwa lagu tersebut dirilis pada tahun 1998. Luka pascareformasi masih menganga, memori publik tentang petrus masih segar, dan penghilangan paksa aktivis sedang jadi buah bibir. Berteriak tentang tak bisa nyanyi di rumah sendiri sebab kamu akan “dijemput dan menghilang” adalah wujud keberanian pilih tanding.

Jamrud sadar bahwa tak ada yang indah dari nasib terkutuk semacam itu. “Ini bukan kisah sinetron, yang sabar selalu menang di akhir episode,” ucapnya, memperingatkan. Kembali ke manuver humor yang tiada duanya, mereka memelesetkan pepatah lama di reff: “Berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita ke tepian / bersakit dahulu, senang pun tak datang,” kata Krisyanto. “Malah mati kemudian.” Hanya dalam satu reff, mereka mengartikulasikan kemiskinan struktural dengan lebih baik ketimbang para intelektual karbitan di linimasa.

Penelitian SMERU Institute membuktikan bahwa kesengsaraan kelas pekerja yang disuarakan Jamrud nyata adanya. Belum lama ini, mereka menerbitkan riset yang memaparkan dampak latar belakang ekonomi keluarga terhadap nasib anak-anak di masa depan. Mereka menemukan bahwa anak yang tinggal di keluarga miskin saat berusia delapan sampai 17 tahun mengalami penalti pendapatan sebanyak 87% dibandingkan anak dari keluarga sejahtera.

Kondisi semasa kecil, bahkan sejak dalam kandungan, punya dampak jangka panjang yang mengerikan. Anak dari keluarga miskin kekurangan gizi, berisiko putus sekolah atau terpecah konsentrasinya di sekolah karena harus membantu keluarga secara keuangan, dan sulit mengakses peluang-peluang hidup yang lebih mudah diakses anak dari keluarga sejahtera. Dampak ini tidak dinegasikan oleh program pengentasan kemiskinan dari pemerintah. “Begitu seorang individu mengalami kondisi “syok negatif” saat kecil, dampaknya akan terasa terus bahkan sampai mereka dewasa,” tulis laporan tersebut.

Bahkan, karena akses ke pangan, pendidikan, dan peluang kerja yang lebih sedikit, pendapatan dan peluang yang diterima anak dari keluarga miskin tak jauh beda dengan orang difabel. Secara tak langsung, temuan SMERU Institute mengimplikasikan bahwa lahir dari keluarga miskin adalah suatu rintangan yang nyaris setara dengan disabilitas fisik.

Sebetulnya, Indonesia belakangan ini mulai berubah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat ketimpangan ekonomi penduduk Indonesia menurun hingga level 0,382 dalam rasio gini pada Maret 2019. Semakin dekat dengan 0, ekonomi semakin merata. Indonesia konsisten menurunkan tingkat rasio gini sejak 2015, dan angka yang dicapai pada Maret 2019 adalah level terendah sejak 2011.

Hingga kini, temuan dari Katadata menunjukkan bahwa masih terdapat delapan provinsi yang memiliki angka ketimpangan di atas rasio gini nasional. Provinsi tersebut adalah DI Yogyakarta (0,423), Gorontalo (0,407), Jawa Barat (0,402), Sulawesi Tenggara (0,399), DKI Jakarta (0,394), Papua (0,394), Sulawesi Selatan (0,389), dan Papua Barat (0,386). Patut dicatat bahwa Jamrud berasal dari Jawa Barat, provinsi dengan tingkat ketimpangan ekonomi tertinggi ketiga di Indonesia.

Hanya, tak sedikit yang lebih pesimis ketimbang BPS. International NGO Forum in Indonesian Development (INFID) mengadakan survei tahunan untuk mengukur Indeks Ketimpangan Sosial Indonesia. Indeks tersebut mengukur persepsi publik terhadap ranah-ranah di negara ini yang masih timpang, misalnya peluang kerja, pendapatan, hingga akses ke pendidikan. Dalam temuan mereka pada 2018, Indonesia mentok pada skor 6, naik 0,4 dari tahun 2017. Artinya, meski di atas kertas ketimpangan sosial di Indonesia mengecil, publik tidak berpendapat demikian.

Pemaparan dari World Bank agak menjelaskan mengapa banyak orang Indonesia begitu pesimistis. Dalam paper yang dilansir ulang oleh Tirto, World Bank melaporkan bahwa bagi-bagi kue di Indonesia tidak merata. Pertumbuhan ekonomi dalam satu dekade terakhir hanya sungguh-sungguh menguntungkan 20 persen orang terkaya. Mereka pun mengidentifikasi empat setan kesenjangan yang masih menghantui Indonesia: ketimpangan kesempatan dan akses, ketimpangan upah dalam dunia kerja, pemusatan kekayaan yang tinggi (10 persen orang terkaya memiliki 77 persen kekayaan negara), dan guncangan seperti PHK dan bencana alam.

Tak hanya di perkotaan, kebijakan yang meleset pun menggagalkan upaya penyejahteraan desa. Riset terpisah dari SMERU menunjukkan bahwa program pemberdayaan desa saat ini punya persoalan fatal: indikator kesuksesannya tidak efektif. Hanya empat dari 23 indikator yang dinilai sungguh-sungguh pas untuk mengukur pemberdayaan masyarakat miskin. Walhasil, program pemberdayaan desa pun hanya menguntungkan “masyarakat yang sudah memiliki sumber daya komprehensif dalam hal pengetahuan, finansial, informasi, dan jejaring sosial.” Adapun masyarakat miskin pedesaan, yang justru paling membutuhkan program tersebut, terpaksa menyanyikan “Berakit-rakit” sambil mencaci nasib.

Saya pikir semua ini cukup untuk menahbiskan Jamrud sebagai penyambung lidah kelas pekerja. Diskusi ngalor-ngidul mana pun soal privilese pasti tak akan lengkap tanpa melibatkan mereka. Jamrud adalah pelita, obor, sinar cemerlang dalam kegelapan. Jamrud adalah ideologi. Namun, sebagaimana semua ideologi, ia tak boleh beku dan menolak revisi. Kita boleh merayakan keakraban Jamrud dengan kenyataan kelas pekerja sembari menyadari betapa seksis sekaligus problematiknya sebagian lirik mereka--misalnya dalam lagu “Otak Kotor” atau “Hamil 3 Bulan.” Di sanalah kita mesti melibatkan diri. Tangan berjalinan, memandu, mendorong, memberi tauladan. Kalau Jamrud berhasil jadi interseksional, habis sudah kalian semua.

Jamrudlah triumvirat yang sungguh-sungguh kita butuhkan. Lupakan Marx, Engels, Lenin, and so on, and so on. Lupakan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Kita punya Azis MS, Ricky Teddy, dan Paduka yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi Krisyanto. Bersama mereka, kita dapat menyongsong masa depan dengan berani.

Related Article