Sosok JJ RIzal yang Tiba-Tiba Masuk Tim Pertimbangan Monas

Ada yang pernah dengar dengan yang namanya Tim Monas? Jadi, baru-baru ini Pemprov DKI kini baru ngebentuk Tim Pertimbangan Penyelenggaraan Kegiatan/Acara di Kawasan Monumen Nasional (Monas).

Tim yang dibentuk Gubernur DKI Jakarta ini memiliki beberapa tugas. Seperti yang dituang dalam Keputusan Gubernur 267 tahun 2018, pada pada 2 Februari 2018, tugas Tim Monas di antaranya yaitu;

  1. Melakukan penelitian dan penilaian terhadap dokumen dan persyaratan serta kelayakan penyelenggaraan kegiatan/acara di Kawasan Monumen Nasional;
  2. Menyusun laporan hasil penelitian dan penilaian terhadap dokumen dan persyaratan serta kelayakan penyelenggaraan kegiatan/acara di Kawasan Monumen Nasional; dan,
  3. Memberikan pertimbangan dan rekomendasi kepada Gubernur dalam rangka penyelenggaraan kegiatan/acara di Kawasan Monumen Nasional. 

Tim Monas  ini akan bertugas selama 2 tahun sejak Keputusan Gubernur itu diteken, dan masa tugas mereka bisa diperpanjang 1 kali. Nah, yang bikin heboh ini, ada nama sejarawan JJ Rizal yang masuk sebagai anggota tim tersebut, tapi Rizal sendiri membantahnya.

Rizal mengatakan dirinya tidak menerima surat apa pun dari pihak Pemprov DKI Jakarta terkait pengangkatannya sebagai anggota tim pertimbangan Monas. Dia pun kebingungan. 

"Saya ga pernah terima surat resmi pengangkatan sbg tim monas ini, hanya ada undangan rapat yg agendanya ga jelas en pas buat saya jadi ga pernah ikut,” tulis JJ Rizal dalam akun Twitternya saat menjawab ucapan selamat dari akun Bonnie Triyana.

Bahkan, Rizal mengaku bahwa dirinya tidak mengerti dengan maksud dan tujuan dengan dibentuknya Tim Monas tersebut. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa yang diperlukan untuk menjadikan Monas sebagai ruang terbuka aneka acara adalah tim ahli cagar budaya (TACB Jakarta).

Sayangnya, meskipun seperti ada penolakan dari JJ Rizal, Keputusan Gubernur tersebut sudah terlanjur di teken. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pun sempat meyakini bahwa penempatan nama JJ Rizal sudah dikomunikasikan sebelumnya.

"Tapi saya yakin sudah ada dari aparat pemprov yang menghubungi, karena begitu dimasukkan di SK [Surat Keputusan] kan harus ditanyakan kesediaannya, dan saya yakin Pak Anhar Gonggong, JJ Rizal, maupun Pak Asro itu sudah, kan yang lain dari aparat sipil negara, Pemprov kan, jadi nanti saya akan telpon Pak JJ Rizal, saya sendiri memang belum berkomunikasi," kata Sandi pada media di SMK Negeri 27 Jakarta, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Agustus 2018.

Belakangan, Sandi meralat ucapannya, dia memastikan pemerintah DKI memang belum sempat berdiskusi dengan JJ Rizal ihwal pembentukan Tim Pertimbangan Monas.

Tapi Kenapa Nama JJ Rizal Bisa Terpilih? Siapakah beliau?

JJ Rizal adalah seorang sejarawan, penulis, dan juga pendiri Komunitas Bambu, sebuah komunitas yang banyak menerbitkan buku-buku dengan tema sejarah, budaya, dan humaniora. Pria kelahiran Jakarta, 12 Februari 1972 ini sempat jadi perbincangan pengguna media sosial karena terlibat perang kata dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, sejak saat itu ia dikenal dengan gerakan sosial Save Depok.

Tidak hanya lahir di Jakarta, tapi ia memang berasal dari keluarga Betawi, bahkan Ayahnya memasukkannya ke sekolah silat, dengan alasan maraknya tragedi tawuran. Setelah tamat SMA, ia meneruskan kuliah di Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan lulus tahun 1998 dengan skripsi Sitor Situmorang: Biografi Politik 1956-1967.

Kini, selain sebagai editor buku, ia juga rajin mengirimkan tulisan ke berbagai majalah dan harian skala nasional. Selama 2001 – 2006 ia menjadi kolomnis sejarah Batavia-Betawi-Jakarta di sebuah majalah Internasional yang berpusat di Belanda, MOESSON Het Indisch Maandblad di Belanda.

Pada 2009 ia mendapat Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta. Tulisannya tentang Junghuhn di National Geographic Indonesia terpilih sebagai “The Best International 2010” oleh National Geographic International Magazine. Kemudian pada 2011, ia mendapat Jakarta Book Awards IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Jakarta sebab dianggap telah ‘share knowledge and change lives through books’.

Kalau melihat dari latar belakangnya yang kuat dengan darah Betawi dan pencapaiannya, ya wajar sih kalau beliau bisa terpilih. Apalagi Monas merupakan salah satu monumen yang kuat nilai sejarahnya dan harus dilestarikan. Tapi miskomunikasi antara kedua belah pihak pastinya harus diselesaikan terlebih dahulu.

Related Article