Baru Dua Bulan Kampanye, Sandiaga Telah Jual Setengah Triliun Saham Saritoga

Masa kampanye baru berjalan dua bulan, tapi calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno sudah menjual saham perusahaannya di Saratoga hingga lebih dari Rp500 miliar. Pelepasan saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) ke investor asing bukanlah yang pertama kali terjadi. Kemarin, Rabu, 5 Desember 2018, kode saham SRTG yang merupakan kode bagi penjualan sahamnya kembali di lepas ke asing senilai Rp 18,88 miliar. 

Transaksi terjadi pada pukul 11.40 WIB dengan jumlah volume saham 5 juta senilai Rp 3.776/saham. Di mana broker yang bertindak sebagai penjual adalah PT Mahakarya Artha Sekuritas dan PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai pihak pembeli. Sempat tersiar kabar kalau penjualan saham itu untuk kebutuhan kampanye.

Sang pendiri perusahaan, Sandiaga Uno pun akhirnya mau mengakui bahwa penjualan saham Saratoga dilakukan untuk membiayai kampanye Pemilu dan Pilpres 2019. Sandi bilang, penjualan itu ia harus lakukan karena belum ada donasi yang cukup untuk membiayai kebutuhan kampanye.

"Seperti saya sudah ungkapan. Bahwa saya dengan Pak Prabowo untuk memastikan giat kampanye tetap bergulir. Karena sampai kini belum ada donasi, dan saya sampaikan siap untuk terus all out. Makanya saya jual kembali saham, untuk membiayai progres kampanye ini," ujar Sandiaga, Rabu, 5 Desember 2018.

Namun perlu diketahui, bahwa dalam kurun waktu dua bulan saja, Sandiaga telah sembilan kali bolak-balik menjual saham Saratoga (SRTG) yang jika dijumlah totalnya mencapai Rp 502,95 miliar. Tentunya, saham milik Sandiaga di SRTG sekarang berkurang, dari sebelumnya 702,71 juta saham (25,9%) menjadi 672,62 juta saham (24,79%), dengan rincian sebagai berikut:

- 2 Oktober: 12 juta unit saham dengan harga Rp3.776/saham
- 3 Oktober: 39,4 juta unit, dengan harga Rp3.776/saham
- 8 Oktober: 28 juta saham, dengan harga Rp3.776/saham
- 9 Oktober: 2,1 juta saham, dengan harga Rp3.802/saham
- 26 November: 10 juta saham, dengan harga Rp3.776/saham
- 27 November: 5 juta saham, dengan harga Rp3.776/saham
- 28 November: 15,9 juta saham, dengan harga Rp3.776/saham
- 3 Desember: 10 juta saham, dengan harga Rp3.776/saham
- 4 Desember: 10,9 juta saham, dengan harga Rp3.776/saham

Sandiaga sendiri telah digaet untuk mendampingi Ketua Umum Partai sekaligus calon presiden nomor urut 02 Gerindra Prabowo Subianto jadi pasangannya di Pilpres 2019 sejak 9 Agustus 2018 lalu. Itu artinya, proses kampanye Sandiaga bersama Prabowo baru berjalan sekitar dua bulan, dan kampanye mereka masih akan berlangsung hingga 13 April 2019, atau tersisa sekitar lima bulan lagi.

Jika dua bulan saja Sandiaga sudah menghabiskan setengah triliun rupiah, maka untuk masa kampanye lima bulan ke depan, bisa-bisa Sandiaga masih membutuhkan dana hingga lebih dari Rp1 triliun. Namun Sandiaga enggan untuk berkomentar terkait perkiraan dana kampanye yang harus ditanggungnya.

"Bendahara akan menyampaikan kebutuhan dana kampanye, dan itu yang akan saya penuhi," kata Sandiaga.

Saratoga Berdiri Saat Indonesia Sedang Krisis Ekonomi

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) merupakan perusahaan investasi yang didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno pada tahun 1997. Kala itu, sebagian besar investor memindahkan investasinya keluar dari Indonesia karena karena adanya krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri.

Namun, Sandiaga dan Edwin tetap memutuskan untuk berinvestasi pada perusahaan batu bara yang bernama Adaro pada tahun 2001. SRTG akhirnya ikut memfasilitasi Adaro agar bisa menjadi perusahaan batubara pit-to-port yang terintegrasi. Usaha itu pun membuahkan hasil, Adaro menjadi IPO terbesar di pasar modal Indonesia pada tahun 2004.

Setelah kejayaan itu, SRTG bersama dengan Provident Capital berinvestasi pada sebuah perusahaan telekomunikasi independen yang pada saat itu hanya memiliki tujuh menara di Indonesia. Benar saja, lagi-lagi SRTG kembali berhasil membuat perkembangan.

Pada tahun 2013, Saratoga berhasil tercatat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mulai memasuki pasar modal Indonesia. Saratoga pun lulus menjadi perusahaan investasi aktif pertama yang tercatat di Indonesia. Kini, investasi Saratoga milik Sandiaga memiliki banyak sektor seperti sumber daya alam, infrastruktur, dan konsumer.

Kira-kira, setelah Pilpres 2019 nanti berakhir, bagaimana kabar Saratoga?

Related Article