Bagaimana Pandemi Mengubah Cara Kita Memanfaatkan Teknologi

Wabah COVID-19 mengubah tiap aspek kehidupan kita. Selagi physical distancing diterapkan dan wabah tak kunjung reda, kegiatan yang tadinya dilakukan tatap muka terpaksa bermigrasi ke dunia maya. Rapat dan pekerjaan kini dikoordinasi secara jarak jauh melalui aplikasi seperti Zoom, Google Hangouts, dan Slack. Konser yang padat pengunjung berganti showcase intim dari ruang tamu atau studio pribadi. Gedung kampus dikosongkan dan kegiatan belajar mengajar pindah ke ruang chat. 

Menurut prediksi sejumlah pakar, perubahan dadakan ini kemungkinan bakal menentukan cara kita menggunakan teknologi di masa depan. Benar, tidak semua hal bisa dilakukan secara maya. Namun, selagi kita terpaksa beradaptasi, lambat laun kita sadar bahwa ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan secara daring ketimbang yang kita kira.

Ambil contoh penanganan medis. Menurut Ezekiel J. Emanuel, akademisi dan pakar kebijakan kesehatan di University of Pennsylvania, pandemi saat ini menegaskan pentingnya pengembangan telemedicine. Aplikasi yang memungkinkan dokter memeriksa pasien dengan gejala ringan melalui video call--seperti Halodoc di Indonesia--akan mengurangi beban infrastruktur medis. 

Selain itu, teknologi telemedicine yang mumpuni bakal amat berguna dalam situasi pandemi. Pertama, ia akan memastikan sebanyak mungkin orang tetap menerima penanganan medis. Hanya karena semua orang tumbang karena COVID-19, bukan berarti migrenmu tidak perlu ditangani, kan? 

Namun, kalau kamu harus keluar rumah, naik transportasi umum, dan menunggu di RS untuk diperiksa dokter umum, kamu tak hanya harus berdesak-desakan di RS yang morat-marit. Kamu juga berisiko terpapar virus. 

Setelah pandemi ini reda, telemedicine sepatutnya menuai investasi lebih. Ia terlalu lama dipandang sebagai kemewahan dan teknologi yang eksklusif. Di masa depan, bisa saja ia jadi metode penanganan medis yang paling mudah diakses.

Sudah tentu, bukan hanya pekerja medis yang hidupnya dimudahkan oleh pertemuan daring. Dalam pandemi ini, peranti lunak kolaboratif atau aplikasi video conference seperti Zoom bertambah populer. Di Cina, penggunaan Microsoft Teams melonjak 500 persen di komputer dan 200 persen di ponsel. 

Pengguna Zoom pun bertambah drastis hari-hari ini--meski mereka merahasiakan angkanya. Tak heran bila CEO Zoom, Eric Yuan, memprediksi bahwa pandemi ini akan berujung pada “pergeseran mendasar dan permanen” dalam cara orang bekerja. Walaupun, sekali lagi, sudah tentu hal ini hanya berlaku pada pekerja-pekerja kerah putih yang sekarang bisa ongkang-ongkang kaki dan “work from home.”

Bagi kelompok yang beruntung ini, kultur kerja di masa depan bisa jadi lain sama sekali. Seperti diprediksi Katherine Mangu-Ward, editor kepala Reason Magazine, banyak orang mulai sadar bahwa ada kalanya bekerja lebih efektif dilakukan di rumah. Mereka tersadar bahwa ke kantor setiap hari dan menghabiskan sekian jam di jalan bukan cara paling efektif untuk bekerja. 

“Banyak orang bisa bekerja secara efektif dari rumah bila mereka dapat mengunduh 1-2 aplikasi dan diberi izin oleh bosnya,” ucap Mangu-Ward. Setelah badai ini reda dan dunia bisnis kembali “seperti sediakala”, kantor-kantor bakal kelabakan memaksa pekerjanya masuk setiap hari dan malah buang-buang waktu di kantor. “Krisis ini membuat kita sadar bahwa, ternyata, banyak sekali pekerjaan dan rapat yang seharusnya lewat email saja.”

Semakin kuatnya kultur work from home tentu tak hanya menguntungkan orang-orang yang senang bangun siang seperti saya. Jika work from home semakin marak, hal ini juga menguntungkan penyandang disabilitas, lansia, orang yang bertempat tinggal jauh dari kantor, dan siapa saja yang susah payah tiba di kantor setiap hari. Manfaatnya dua arah: studi membuktikan bahwa work from home meningkatkan produktivitas dan berujung pada membaiknya kesehatan mental pekerja serta keseimbangan kerja-kehidupan.

Sentimen serupa diutarakan oleh Jonathan Tanner, peneliti untuk Overseas Development Institute. Bagi perusahaan multinasional yang mengharuskan pekerjanya wara-wiri ke luar negeri, “Berinvestasi supaya staff di negara-negara lain mendapat koneksi internet yang mumpuni lebih murah ketimbang menerbangkan mereka ke luar negeri terus-menerus,” tulis Tanner.

Kondisi serupa juga diproyeksikan terjadi untuk kegiatan belajar mengajar. Kampus dan sekolah mau tidak mau harus mempersiapkan metode belajar virtual dan menyediakan opsi tersebut bagi pelajarnya. Mau tidak mau, negara pun mesti menggarap serius peraturan serta perlindungan untuk pendidikan informal seperti homeschooling. Bila anak-anak sekolah bisa mendapat pendidikan berkualitas dan dijamin negara selama mereka di rumah, kenapa tidak murid pendidikan informal?

Namun, proyeksi paling menggembirakan justru hadir untuk ranah media sosial. “Sosial” kembali jadi kata paling penting dalam media sosial. Menurut kolumnis The New York Times Kevin Roose, pandemi ini seolah mengembalikan internet kepada fitrahnya. Dunia maya menjadi ruang bagi kita untuk saling terhubung, berbagi informasi, dan merancang solusi praktis untuk masalah-masalah bersama.

Penyebabnya sederhana. Kita sering bilang bahwa seseorang bisa punya dua sisi--persona di dunia maya dan diri dunia nyata amat berbeda. Sekarang, mau tidak mau hampir semua interaksi kita terjadi di dunia maya. Obrolan yang lebih santai, pertemuan dengan kerabat dan kawan-kawan baik, serta sejuta hal lain yang biasanya jauh dari ranah medsos yang toksik kini kembali mengudara. 

Medsos kini tak lagi jadi tempat seseorang membaca linimasa secara pasif dan marah-marah atau pusing karena semiliar berita buruk. Kini, ia kembali jadi tempat orang saling bertemu, berbagi, dan tertawa. Tentu kamu tidak kaget bila riset membuktikan bahwa pengguna medsos yang aktif mengobrol dengan kerabat dan teman--alih-alih mengkonsumsi konten dan berita secara pasif--cenderung lebih sehat mentalnya.

Namun, ini bukan perubahan yang serta merta terjadi. Platform-platform raksasa seperti Google, Twitter, dan Facebook memperketat standar penggunanya dan secara aktif menghapus konten yang dianggap hoaks tentang pandemi COVID-19. Twitter, misalnya, melacak dan menghapus konten yang dinilai menganjurkan publik melanggar imbauan otoritas terkait pandemi. Misalnya, tweet yang menyuruh orang mengabaikan aturan social distancing

Sedangkan di Inggris, Google, Facebook, dan Twitter bekerjasama resmi dengan National Health Service (NHS, BPJS-nya Inggris) untuk mengarahkan publik ke informasi yang tepercaya. Melalui Google, pencarian terkait Coronavirus akan otomatis diarahkan ke situs-situs tepercaya, sementara Facebook dan Twitter memverifikasi lebih dari 800 akun resmi pemerintah yang mendistribusikan informasi akurat.

Di masa depan, kerja sama seperti ini tentu berujung pada pertanyaan menggelitik. Beberapa tahun terakhir, platform seperti Facebook dianggap abai menangkal hoaks dan konten penuh kebencian. Bila ternyata mereka mampu bertindak serius untuk menghajar hoaks, kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dilakukan terus di masa depan?

Masalahnya jelas. Semua hipotesis ini bakal terus jadi mimpi di siang bolong bila akses internet kita belum merata dan berkualitas. Kalaupun perubahan kultural itu terjadi, menurut Deborah Tannen, profesor linguistik di Georgetown University, orang-orang yang tak punya akses mudah terhadap internet cepat bakal jadi korban. 

Selagi langkah digital berderap maju tak gentar dan para pekerja kerah putih video conference sambil mandi bath bomb, pekerja kerah biru, lansia, dan orang-orang di wilayah rural makin terjepit. Kevin Roose punya cara lain untuk menggambarkan proses mengerikan ini. Bila kesenjangan digital tak lekas dijembatani, katanya, orang-orang rentan ini akan “terkucil dari komunitas digital” yang perlahan-lahan dibangun.

Di situlah letak masalah Indonesia. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Polling Indonesia, jumlah pengguna internet kita memang terus bertambah. Pada 2018, 64,8 persen dari penduduk Indonesia dapat mengakses internet dengan satu atau lain medium. Namun, kualitas akses internet kita belum merata.

Percuma berbicara tentang bagaimana Zoom mengubah kultur kerja bila kawan kita di Nusa Tenggara Timur harus menunggu buffering selama dua pekan. Spekulasi tentang telemedicine, sekolah rumah, dan medsos pun akan selamanya jadi spekulasi bila tak diimbangi dengan akses internet merata serta literasi digital yang diperkuat. 

Related Article