Asal Usul Orang Indonesia: Dari Moyang Afrika Sampai Gen Taiwan

Hidup dalam keragaman sudah jadi takdir orang Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat Indonesia hidup dalam berbagai aspek perbedaan mulai dari bahasa, budaya, agama, suku, hingga warna kulit. Sayangnya, hari-hari ini masih ada saja pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan perbedaan itu untuk membenturkan banyak kepentingan menjadi konflik.

Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh, coba saja tengok momentum Pemilu 2019 kemarin yang dimanfaatkan sebagai ajang unjuk membangun sekat di antara masyarakat oleh pihak-pihak tertentu. Isu-isu terkait suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dimainkan. Orang-orang dengan mudahnya saling hujat hingga terkotak-kotakkan dalam kelompok-kelompok “cebong," "kampret," hingga "kadrun”.

Padahal, Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700 bahasa dan 500 populasi etnik dengan budaya yang beragam. Atas dasar apa rasa kebencian begitu mudahnya tumbuh subur dan digunakan sebagai alat dan komoditas politik untuk memberangus sesama masyarakat Indonesia?

Jika ditelisik lebih jauh, perbedaan dan keragaman manusia di tanah air memiliki akar sejarahnya. Untuk mengetahui asal-usul orang Indonesia, majalah sejarah Historia.id melakukan tes DNA terhadap 16 orang Indonesia yang dipilih dari berbagai latar belakang. Di antaranya adalah Najwa Shihab, Ariel "Noah," Mira Lesmana, Ayu Utami, Grace Natalie, Budiman Sudjatmiko, dan Riri Riza.

Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana menjelaskan bahwa proyek pengujian DNA bertujuan untuk menekan isu politik identitas di Indonesia yang marak terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Bonnie menyebut bahwa dalam berpolitik, orang cenderung mengikuti kelompok atau memilih pemimpin yang memiliki kesamaan identitas, misalnya berasal dari suku bangsa atau agama yang sama.

Baca Juga: Suku Baduy dalam Pusaran Politik Indonesia

"Maka dari itu, adanya pengetahuan leluhur asli melalui tes DNA merupakan pengetahuan penting yang memberikan pencerahan bahwa masalah pribumi dan non pribumi tidak relevan lagi," kata Bonnie saat ditemui di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (15/10/19).

Bagaimana Hasil Tes DNA Sejumlah Publik Figur?

Tiga politikus yang ikut dalam proyek tes DNA, yakni dua politikus PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Budiman Sudjatmiko, serta Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, ketiganya punya asal usul yang beragam. 

Lewat hasil tes DNA, moyang Hasto dan Budiman ternyata sebagian besar berasal dari Asia Timur. Keduanya juga punya jejak moyang dari Timur Tengah, yang kemungkinan besar dari Samaria (saat ini di Palestina).

Usai mengetahui dari mana asal usul dirinya, Hasto pun mengaku tak kaget dan justru sedari awal meyakini bahwa Indonesia memang terdiri dari manusia-manusia yang berbeda latar belakang suku, etnis, bahasa, dan sebagainya. Justru perbedaan itu harus dirayakan sebagai bagian dari upaya untuk mempersatukan bangsa.

Sejarawan Bonnie Triyana saat membuka pameran Proyek DNA Asal Usul Orang Indonesia di Museum Nasional, Selasa (15/10/19). Foto: Ramadhan/Asumsi.co

“Sejak awal saya meyakini bahwa Nusantara adalah titik temu dari berbagai ras, etnis, dan peradaban dunia. Sehingga kita tidak bisa mengatakan diri kita asli Indonesia. Inilah kita semua, perpaduan dari berbagai etnis dunia,” kata Hasto di Museum Nasional, Selasa (15/10).

Pada kesempatan yang sama, Budiman malah agak terkejut melihat hasil tes DNA dirinya. Sambil tertawa, aktivis 1998 itu langsung spontan menjelaskan panjang lebar soal garis keturunannya yang baru ia ketahui tersebut, terutama gen Samaria dari Timur Tengah yang mencapai 0,04 persen.

“Saya terkejut ini, kok, kita satu partai sama-sama turunan. Kalau dalam Alkitab, Yesus menyebut The Good Samaritan, yakni orang Samaria yang baik. Orang Samaria yang menolong sesamanya tanpa melihat asal usul dan agamanya, dan kelihatannya cocok dengan ideologi kita, Bung Hasto. Marhaenisme,” kata Budiman.

Memasuki abad ke-21, ternyata ada orang Samaria yang datang ke Indonesia yakni Yaqob bar-Karoza yang tinggal bersama istri dan anaknya di Surabaya. Yaqob, dalam wawancaranya bersama minanews.net pada 2016 lalu, mengungkapkan banyak hal seputar kaumnya.

Salah satu fakta yang diungkapkan Yaqob adalah soal jumlah orang Samaria saat ini yang hanya kurang dari 1.000 orang di seluruh dunia. Sedikitnya populasi orang Samaria ternyata tak lepas dari rantai penganiayaan yang dialami selama ini.

Perlu diketahui, bahwa orang Samaria merupakan penduduk wilayah Palestina bagian utara, yang pada dulu kala adalah wilayah kerajaan Israel Utara. Bangsa Yahudi sendiri pada masa silam terbagi menjadi Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yudea di Selatan. Lalu, pada 722 SM, Kerajaan Utara ditaklukkan Kerajaan Assyria. 

Karen Armstrong dalam “Perang Suci dari Perang Salib hingga Perang Teluk (2001)”, menulis bahwa 10 suku di bagian utara Israel diusir, lalu dipaksa untuk bergabung dan, dengan dasar agama dimusnahkan. Kesepuluh suku yang hilang itu selamanya lenyap dari sejarah.

Kemudian, pada prosesnya, orang Yahudi yang menetap itu akhirnya bercampur dengan orang-orang Assyria, yang akhirnya menjadi orang Samaria. Punya akar dari Yudaisme yang sama, orang Samaria dan Yahudi memiliki perbedaan besar dalam meyakini situs sakral mereka.  

Orang-orang Yahudi percaya bahwa situs suci mereka ada di Yerusalem (Al-Quds), sementara orang Samaria percaya bahwa situs tersuci dalam Yudaisme adalah gunung Gerizim yang berada di utara Palestina. 

Permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria pun semakin menjadi-jadi, lantaran orang Samaria mendirikan Bait Allah sendiri di Gunung Gerizim. Dalam sejarahnya, perbedaan inilah yang membuat keduanya berselisih sepanjang sejarah.

Baca Juga: Galeri Foto: Potret Para Kartini Tangguh Suku Baduy

Namun, meski orang Samaria menganut agama Yahudi, bangsa Yahudi sendiri menganggap bahwa kepercayaan kaum Samaria sebagai “keyakinan tak sempurna dalam Yahudi” atau tidak murni lagi. Inilah jadi salah satu faktor penyebab orang Samaria selalu dipandang rendah oleh Yahudi pada umumnya.

Yonky Karman dalam “Merentang Sejarah, Memaknai Kemandirian: Menjadi Gereja Bagi Sesama (2009)”, menulis bahwa di antara kelompok di luar Yahudi yang tidak dianggap sesama, mungkin orang Samaria yang paling tidak disukai oleh orang Yahudi.

Meski begitu, Steve Olson dalam “Mapping Human History: Gen, Ras, dan Asal Usul Manusia (2002)” menulis bahwa orang Yahudi dan orang Samaria setidaknya punya satu kesamaan, yakni sama-sama pernah mengalami sejarah penyiksaan. Komunitas-komunitas Samaria yang hidup di bawah Kerajaan Romawi mengalami penganiayaan kejam, lalu komunitas-komunitasnya di Syiria dan Mesir justru sudah punah, dan pada akhir abad ke-19, jumlah orang Samaria hanya 150 orang.

Berbeda dari Hasto dan Budiman, Grace ternyata punya garis leluhur yang juga beragam. Dia juga punya gen dari Asia Timur sebesar 76,92 persen, diaspora Asia (orang-orang Asia yang menyebar ke Amerika Utara) sebesar 21,96 persen, Asia Selatan 1,11 persen, dan Afghanistan (Timur Tengah) 0,01 persen.

Sebelumnya, Grace pun mengungkapkan bahwa dirinya berasal dari Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung, meski ia sendiri tak tahu pasti di mana kampung halaman leluhurnya. Berdasarkan cerita dari sang ibu dan pengalaman bertemu dengan saudara, ia mengetahui kakek buyut dari pihak ibu sudah lama tinggal di Bangka. Kemudian, leluhur Grace menikah silang dengan orang tempatan. Kondisi itulah yang membuatnya tak tahu jelas garis keturunan dari nenek moyangnya lantaran sudah mengalami percampuran.

Sejumlah publik figur saat mengumumkan hasil tes DNA di Museum Nasional, Selasa (15/10/19). Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Sementara itu, vokalis band Noah, Nazril Ilham alias Ariel memiliki 79,78 persen gen Asia Selatan (India, Bangladesh, Tamil, Nepal), 15,14 persen gen Asia Timur (Jepang), 5,03 persen gen diaspora Asia, dan 0,05 persen gen Yunani.

Jurnalis Najwa Shihab ternyata merupakan sosok yang paling unik. Putri ulama besar Quraish Shihab ini ternyata memiliki sepuluh fragmen DNA dari sepuluh leluhur yang berbeda.

Nana, sapaan akrabnya, memiliki fragmen DNA dengan komposisi masing-masing sebesar 48,54 persen Asia Selatan, Afrika Utara 26,81 persen, Afrika 6,06 persen, Asia Timur 4,19 persen, diaspora Afrika 4,15 persen, Timur Tengah 3,48 persen, Eropa Selatan 2,20 persen, Eropa Utara 1,91 persen, dan diaspora Asia 1,43 persen. 

Keberagaman gen itu seolah mematahkan stereotipe selama ini yang menganggap garis keturunan Nana bersifat tunggal yakni dari Arab saja. Dari hasil tes DNA itu, jelas terbukti bahwa darah Arab dalam diri Nana hanya 3,48% saja dan tidak lebih dominan dari darah Asia dan Afrika. “Jadi, yang waktu dulu manggil-manggil aku onta salah. Ternyata Middle Eastern-nya hanya tiga persen, saudara-saudara,” kata Nana.

Alur Kedatangan Moyang Nusantara dari Afrika

Ahli genetika dari Lembaga Eijkman Prof Herawati Supolo Sudoyo mengungkapkan bahwa genetika orang Indonesia tersusun atas berbagai gen dari bangsa-bangsa di dunia yang datang dalam empat gelombang migrasi pada masa lalu. Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa ada empat gelombang migrasi spesies Homo Sapiens, manusia modern, ke Nusantara.

“Moyang Indonesia itu ya asalnya dari Afrika, spesifiknya dari Sub Sahara. Karena kan kita bagian dari homo sapiens dan homo sapiens itu asalnya dari Afrika. Sebelum kemudian mengembara ke tempat-tempat lain termasuk ke Nusantara,” kata Hera pada kesempatan yang sama di Museum Nasional, Selasa (15/10).

Homo Sapiens sendiri mengembara selama ratusan ribu tahun dari benua Afrika. Lalu, sekitar 50.000 tahun yang lalu, sampailah gelombang migrasi pertama di kepulauan Nusantara. Jadi dari 150.000 tahun, 100.000 tahun, mereka berjalan mengembara melewati lingkungan yang berbeda, seperti hutan yang lebat, sehingga orang-orangnya pasti akan mengecil karena untuk mencegah penguapan.

Selain itu, rambut mereka juga kemungkinan akan lebih keriting. Jadi, dalam perjalanannya, kondisi itulah yang membuat orang-orang Indonesia berbeda. Maka dari itu, Kepulauan Nusantara pada akhirnya menjadi menarik bagi para peneliti genetika karena keberagaman genetika. Lokasi Kepulauan Nusantara yang strategis mengalami empat gelombang migrasi manusia modern.

Gelombang migrasi pertama sendiri datang dari Afrika melewati jalur selatan Asia menuju Paparan Sunda. "Gelombang pertama ini mereka jalan saja dari Afrika, waktu itu Kalimantan, Jawa, dan Sumatera masih menjadi satu daratan dan lautnya pendek.”

Hera menjelaskan bahwa migrasi gelombang pertama dilakukan oleh kelompok besar dan berlangsung dalam waktu ratusan ribu tahun lamanya. Manusia yang bermigrasi pada gelombang pertama ini mengembara melewati perjalanan panjang dan berbagai lingkungan, seperti melewati gurun, lalu masuk ke hutan, mengalami perubahan cuaca, sehingga hal itu memaksa mereka untuk bisa beradaptasi.

Kondisi itu pada akhirnya mempengaruhi perubahan fisik mereka. Setidaknya ada dua kunci mengapa mereka mengalami perubahan secara fisik, yakni adaptasi dan seleksi. Dalam hal ini, seleksi artinya hanya mereka-mereka yang superior yang bisa hidup dan mempertahankan kehidupannya di situasi yang baru. 

Pada gelombang kedua, para penutur Austro-asiatik bermigrasi dari Asia daratan menuju Vietnam dan Kamboja melewati Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang pada masa itu masih menyatu. Migrasi ini terjadi sekitar 10.000-30.000 tahun yang lalu dan jadi salah satu bagian yang berpengaruh besar pada distribusi atau proporsi genetika leluhur orang Indonesia. 

"Apakah manusia gelombang kedua ini berkompetisi atau berperang dengan manusia gelombang pertama untuk berebut lahan? Ternyata tidak, karena kalau melihat dari DNA itu ada campurannya, terjadi kawin-mengawin antara mereka," ucap Hera.

Situasi itu menunjukkan bahwa orang Indonesia sebenarnya sangat toleran lantaran mereka kebanyakan tidak saling berperang untuk mendapatkan lahan, tetapi yang terjadi adalah pembauran. Hera menyebut, sejak dulu kala ternyata masyarakat yang telah menetap menerima masyarakat yang baru, dan yang baru juga beradaptasi dengan masyarakat yang lama.

Jejak dari leluhur orang Indonesia yang datang pada gelombang kedua itu jelas sekali misalnya ditemukan pada mereka-mereka yang tinggal di Indonesia bagian barat. “Jawa, Sunda, itu tinggi sekali genetika Austro-asiatiknya, yakni dari Asia daratan, dari daerah Mon-Khmer. Orang Gayo misalnya dari Sumatra Utara, di sana juga ada Austro-asiatiknya, bahkan budayanya pun masih bisa ditemukan.”

Lalu, gelombang ketiga migrasi, para penutur Austronesia dari Formosa atau Taiwan zaman dulu, datang membawa paket budaya neolitik berupa gerabah, beliung, seni, bahasa, teknologi maritim, pengolahan makanan, serta domestikasi hewan. Migrasi ketiga ini terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.

“Jadi teknologi yang kita miliki sekarang itu sebenarnya diperkenalkan oleh orang-orang yang berbahasa Austronesia. Mereka ini datang turun ke bawah, ke selatan, masuk lewat Filipina, Sulawesi, Kalimantan, dan kemudian berbelok, ada yang lewat Jawa, dan kemudian nantinya di tahun-tahun seterusnya itu ada yang sampai ke Madagaskar,” ujarnya.

Sementara migrasi gelombang keempat terjadi pada zaman sejarah. Pada masa ini bangsa India, Arab, dan Eropa datang ke Nusantara. Pembauran pun menjadi semakin kompleks. Nah gelombang keempat yang juga memengaruhi latar belakang genetik orang Indonesia itu, terjadi saat masa perdagangan.

“Kita sudah memiliki kerajaan-kerajaan dan terjadi hubungan antar kerajaan tersebut melalui macam-macam seperti perdagangan dari Cina, dari India, dan dari Arab. Yang sering orang lupa juga adalah perdagangan rempah, di mana saat itu banyak sekali orang-orang yang kemudian kawin dan beranak pinak di sini, sehingga memengaruhi genetika kita.”

Pada akhirnya, penelitian genetika membuktikan bahwa memang tak ada pemilik gen murni di bumi Nusantara, lantaran orang-orang Indonesia memang merupakan campuran beragam genetika. Sehingga dikotomi menyesatkan soal “pribumi dan non pribumi” yang selama ini kerap jadi narasi perpecahan, harusnya tidak lagi relevan hari ini. 

Diskriminasi SARA yang masih kerap dimainkan hingga hari ini pun mestinya sudah selesai dan sama sekali tak perlu diperdebatkan lagi. Jadi, setelah mengetahui dengan jelas ragam gen yang ada dalam diri orang-orang Indonesia, lantas masih adakah yang berani mengaku paling Indonesia di antara orang-orang Indonesia lainnya?

Related Article