Alasan di Balik Kedatangan 500 TKA asal Cina

Kedatangan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina ke Sulawesi Tenggara sempat tertunda karena pandemi COVID-19. Mereka tadinya akan dipekerjakan di Kawasan Industri Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara—tepatnya di bawah PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS). Tujuannya: pemasangan 33 tungku smelter milik PT OSS.

Juru bicara Menko Maritim dan Investasi, Jodi Mahardi, mengatakan bahwa para TKA tersebut diperlukan untuk mempercepat pembangunan smelter yang teknologinya belum dikuasai oleh tenaga kerja Indonesia. Semakin cepat pembangunan ini rampung, semakin lekas pula kawasan industri itu dapat menyerap tenaga kerja dalam negeri.

“Dengan TKA ini proses pembuatannya bisa jauh lebih cepat daripada jadwal yang dialokasikan,” ujar Jodi kepada Asumsi.co dalam program Pangeran Mingguan (11/6).

Jodi mengatakan komposisi tenaga kerja asing di kawasan industri Sulawesi Tenggara tak pernah lebih banyak ketimbang jumlah tenaga kerja lokal. Di Morowali, misalnya, terdapat 39.500 tenaga kerja lokal dan 5.500 TKA. Begitu pula di Konawe yang jumlah tenaga kerja lokalnya sebesar 11.084 dan tenaga kerja asingnya sebanyak 706. “Dan mereka ini nanti pulang. Jadi mereka di sini paling lama ada yang 2 bulan, 3 bulan, sampai 6 bulan—tergantung pekerjaannya. Begitu sudah operasional, mereka pulang—digantikan oleh tenaga kerja Indonesia,” katanya.

Walau tertahan pandemi, 500 TKA asal Cina ini tetap akan diberangkatkan ke Indonesia jika kasus COVID-19 sudah surut. Diperkirakan, mereka akan didatangkan secara bertahap mulai Juli mendatang.

Pemerintah pun berkomitmen untuk memberdayakan SDM lokal dan mentransfer ilmu ke mereka. Salah satunya, dengan membangun politeknik di Morowali yang ditargetkan dapat menghasilkan 600 wisudawan S1 teknik ke depannya. Selain itu, pemerintah juga mengirimkan 22 penerima beasiswa untuk belajar ilmu metalurgi di Cina.

“Yang kita lakukan adalah memperkuat sistem pendidikan di sana, dari SMP sampai SMA. Jadi wisudawan-wisudawan ini bisa diterima di politeknik ini. Kita juga mengirim 22 penerima beasiswa untuk belajar metalurgi ke Cina. Targetnya, pada 2024, ada sekitar 3.000 orang yang bisa dilatih untuk program S1, S2, S3, dan kejuruan. Jadi memang bertahap supaya kita punya kemandirian.”

Rencana kedatangan 500 TKA Cina ke Indonesia sempat memicu protes. Para akademisi mempertanyakan keputusan pemerintah untuk memberikan izin kedatangan pekerja asing di tengah wabah COVID-19 dan penerapan PSBB. Begitu pula dengan sejumlah anggota DPR yang menganggap pemerintah tak adil karena mendatangkan TKA di saat banyak masyarakat Indonesia terhantam PHK. Gubernur beserta DPRD Sulawesi Tenggara pun satu suara menolak kedatangan mereka.

Namun, pemerintah bergeming. Apa yang membuat pembangunan smelter pengolahan bijih nikel demikian penting?

Bahan Baku Mobil Listrik

PT Virtue Dragon Nickel Industry yang akan mempekerjakan 500 TKA asal Cina ini adalah anak perusahaan Cina, De Long Nickel Co.LTD, yang telah berdiri sejak 2014. Perusahaan ini menginvestasikan US$5 miliar atau setara Rp75 triliun untuk membangun pabrik pengolahan nikel menjadi feronikel di kawasan industri Konawe. Targetnya, pada 2020 ini, kapasitas produksi smelter akan ditingkatkan menjadi 3 juta ton per tahun.

Selama ini, bijih nikel yang ada di Indonesia paling banyak diolah menjadi stainless steel—seperti yang dilakukan oleh PT Obsidian Stainless Steel. Namun, semakin ke sini, nikel juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan baterai lithium untuk mobil listrik yang sedang gencar dikembangkan di seluruh dunia. Baterai Lithium Nickel Cobalt Mangan (NCM) 811 yang diproduksi oleh Cina, misalnya, akan dipasarkan secara luas kepada produsen mobil listrik seperti Volkswagen, General Motors, dan BMW.

“Sebut saja Prancis dan, kalau nggak salah, Swiss yang pada 2040 ini sudah nggak boleh ada combustion car. India bahkan targetnya 2035. Kita punya sumber nikel terbesar di dunia, jadi ya sangat berpotensi. Makanya kita kirim mahasiswa-mahasiswa kita untuk belajar hidro metalurgi—supaya kita bisa jadi global supply chain untuk baterai lithium. Jadi major player,” jelas Jodi.

Cadangan nikel di Indonesia memang yang terbesar sedunia, yaitu 23,7% cadangan global. Australia berada di urutan kedua dengan 21,5% dan diikuti oleh Brazil dengan 12,7%. Bagi pemerintah, Indonesia punya kesempatan besar untuk tak hanya mengekspor nikel mentah atau bijih nikel dengan harga murah—tetapi mengolahnya menjadi produk-produk turunan dengan harga jual yang jauh lebih tinggi.

Bijih nikel yang telah diolah menjadi feronikel memiliki nilai hingga 10 kali lipat lebih tinggi. Jika diolah menjadi stainless steel, nilainya menjadi 19 kali lipat lebih tinggi.

Pemerintah Indonesia telah melarang ekspor bijih nikel mulai Januari 2020 lalu. Kebijakan itu tertuang dalam Permen ESDM No. 11 Tahun 2019 tentang "Perubahan Kedua Atas Permen ESDM No. 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara."

Larangan ini juga telah diatur dalam UU Pertambangan Mineral dan Batubara No. 4 Tahun 2009. Pada Pasal 95 huruf c, pengusaha pertambangan diwajibkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan batubara di dalam negeri. Pasal 170 pun mengatakan perusahaan wajib melakukan pemurnian bahan baku selambat-lambatnya 5 tahun sejak UU diundangkan—sehingga dapat diolah menjadi bentuk lanjutan dengan nilai lebih tinggi.

Saat ini, Indonesia telah mampu mengolah nikel menjadi stainless steel. Ke depannya, bijih nikel juga akan diolah menjadi carbon steel, baterai lithium, hingga kendaraan listrik. “Dalam waktu setahun dua tahun udah carbon steel. Baterai lithium is the next step. Asal kita konsisten. Jangan sampai kita buka lagi ekspor barang mentah,” ungkap Jodi.

“Kita punya all the resources. Tapi gimana caranya supaya jangan resources-nya aja yang diserap terus dijual keluar, terus mereka yang mengembangkan industri hilirisasi di sana, mereka yang menikmati, mereka yang menciptakan lapangan kerja. Selama ini kita gitu, kan. Apa yang dilakukan pemerintah sekarang adalah membangun hilirisasinya di Indonesia. Kita paksa mereka ke sana,” lanjutnya.

Related Article