Aksi Massa: Psikologi dan Propaganda dalam 5 Babak

Hari-hari ini, telinga kita penuh dengan kata-kata “demonstrasi”, “aksi massa”, dan “unjuk rasa”. Maknanya sama: orang-orang berhimpun dalam jumlah besar untuk menyuarakan pendapat, atas nama sesuatu yang lebih besar dari diri masing-masing.

Perkumpulan ini, menurut sejarawan Yuval Noah Harari, berhubungan dengan kodrat manusia sebagai sapiens. Sapiens menguasai dunia karena ia satu-satunya spesies hewan yang dapat bekerja sama secara fleksibel dalam waktu lama. Kita dapat membentuk sebuah kesatuan, sebuah jaringan, dan di dalamnya sekumpulan orang asing mampu bekerja sama secara efektif atas suatu label, nama, atau imajinasi kolektif.

Manusia secara individu memang bisa membuat perlawanan dalam bentuk tulisan atau orasi yang menggebu-gebu. Akan tetapi, ketika manusia berkumpul dalam jumlah besar dan bercampur dalam gelora yang sama, mereka dapat membelokkan arus sejarah. Kisah-kisah yang tercatat dalam buku sejarah kita terjadi karena adanya kooperasi massa, dari revolusi, perang, dan unjuk rasa.  Cara kerja kooperasi tersebut dapat dibagi ke dalam 5 babak: stimulus, pangeran, individu, penularan, dan cinta.

Babak I: Stimulus

Reaksi dan emosi manusia dapat diprediksi. Jika ingin menghasilkan reaksi yang sama dalam pikiran banyak orang, pemanfaatan emosi dan mental cliché adalah kuncinya. Jika kita meletakkan stimulus yang tepat di hadapan sekumpulan orang, sebagian besar dari mereka akan menghasilkan reaksi yang sama. Edward Bernays dalam Propaganda (1928) memakai contoh propaganda Nazi untuk menjelaskan hal ini. Tahu bahwa orang-orang merasa jijik dengan tikus dan serangga (kesan yang tertanam di otak karena hewan-hewan itu kerap diasosiakan dengan penyakit dan ancaman biologis), Nazi memanfaatkannya dengan mengilustrasikan orang Yahudi sebagai tikus, makhluk yang menjijikan secara inheren. Dalam pidatonya, Adolf Hitler juga selalu menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan serangga, hama, dan parasit untuk menggambarkan Yahudi.

Reaksi dan emosi dapat diprediksi saat pemangku kepentingan mampu menimbulkan reaksi dari kaum yang mereka kendalikan. Misal, para penguasa memutuskan untuk melakukan hegemoni yang berhubungan dengan agama, ras, suku, etnis, dan lain-lain. Ketika massa berkumpul dalam jumlah besar untuk membela salah satu karakter tersebut, reaksi masa dapat digunakan sebagai alat propaganda lebih lanjut.

Stimulus dalam aksi massa pada tanggal 22 Mei lalu lebih didominasi oleh stimulus agama, meskipun mungkin ada faktor-faktor lain. Pemakaian atribut juga menjadi sesuatu yang dianggap krusial dalam suatu kerumunan dengan sasaran yang sama (unjuk rasa terhadap pengumuman KPU), tetapi merasa ada perbedaan kepentingan (politis dan agama), penggunaan atribut seperti bendera, spanduk, dan lain-lain bukan hanya simbolik dan penunjuk eksistensi, tapi juga dianggap bisa mempererat rasa persaudaraan serta kesadaran kolektif.

Hal ini disebut sebagai domino effect dalam propaganda, taktik yang terbukti jitu dalam propaganda politik menggunakan narasi kita versus mereka, pada awal abad ke-19. Inilah yang disebut sejarawan Eli Zaretsky sebagai faktor pembentuk populisme modern yang selama ini kita kenal.

Babak II: Pangeran

Bukan, bukan Pangeran Siahaan. Bukan pula Pangeran Diponegoro. Menurut Antonio Gramsci, istilah prince sebagaimana dijelaskan Niccolo Machiavelli tidak dapat diterapkan di dunia modern. Ia berpendapat bahwa Modern Prince merupakan ekspresi dan pembawa kehendak kolektif nasional, bukan sosok nyata yang dapat dipegang hidungnya. Kata Gramsci, untuk menerjemahkan prince versi Machiavelli dalam dunia modern, seseorang harus membuat distingsi. Sang pangeran dapat berwujud kepala negara, pejabat pemerintahan, atau seorang pemimpin politik yang berambisi merengkuh kekuasaan lebih besar. Sasarannya bisa untuk menguasai negara, mengganti bentuk negara, dan seterusnya.

Eli Zaretsky juga turut menjelaskan poin-poin krusial yang dibawa oleh modern prince yang dimiliki suatu kumpulan massa dalam membentuk ide-ide populis mereka. Politik dapat menghegemoni tindakan mereka secara tidak sadar. Individu yang terisolasi dan individu yang berada di dalam kerumunan akan bertindak dengan cara yang berbeda untuk hal yang sama.

Massa menganut suatu ilusi cinta kepada pangeran mereka, baik itu berupa individu atau karakteristik tertentu. Menurut Sigmund Freud, psikologi kelompok selalu memiliki kecondongan untuk dipimpin. Oleh karena itu semua ucapan­ sang pangeran, entah rasional atau tidak, akan dianggap sebagai komando yang wajib dipatuhi. Mereka mengalami suatu keadaan di mana realitas dan penilaian tertangguhkan, sehingga mereka tidak bisa menilai klaim-klaim yang dilontarkan pangerannya secara objektif.

Babak III: Individu

Pada 1895, Gustave Le Bon menulis The Crowd: A Study of the Popular Mind untuk menunjukkan bahwa dalam kelompok massa, pelbagai rumor, nabi-nabi palsu, ketakutan, atau gairah irasional dapat merasuki kerumunan dan menyesatkan mereka secara mudah. Ada tiga tahap pembentukan massa, yaitu submergence, contagion, dan suggestion. Submergence merupakan tahap di mana individu dalam perkumpulan massa mulai kehilangan individualitas dan tanggung jawab pribadi. Contagion adalah fase di mana tendensi individu dalam massa tanpa ragu mengikuti emosi dominan dari massa. Terakhir, suggestion ditunjukkan dengan adanya "shared hereditary (racial) unconscious."

Saat individu berada dalam kerumunan, terjadilah “deindividuasi”. Kondisi ini dipengaruhi faktor-faktor tertentu dalam kerumunan yang mampu melemahkan kontrol pribadi dan menjauhkan diri dari identitas pribadi mereka. Di dalam proses deindividuasi, terdapat tiga faktor yang berperan. Pertama, anonimitas: “Jadi, aku tidak bisa ditemukan n”; kedua, penyebaran tanggung jawab: “Jadi, saya tidak bertanggung jawab sendirian atas tindakan ini”; dan ketiga, ukuran massa: semakin besar suatu kerumunan, selubung anonimitas semakin besar dan tanggung jawab tersebar semakin luas.

Hal-hal di atas bukan hanya terjadi pada massa yang bergerombol di suatu lokasi, melainkan juga terhadap "massa" di dunia maya dalam, misalnya, sebuah utasan di mana para anonim tak segan-segan menyebarkan kebencian.

Babak IV: Contagion

Dalam bahasa Indonesia, contagion berarti penularan atau penjangkitan. Inilah efek yang dimiliki seorang individu dalam kelompok terhadap anggota lain di dalam kelompok yang sama. Penularan emosi atau gairah tersebut dapat meluas dalam skala yang besar. Berada dalam kerumunan menyebabkan individu dapat mengekspresikan keinginan terdalamnya, tanpa dihambat tanggung jawab pribadi, ego pribadi, atau sesederhana “Ih, malu, ah... aib.” Kendali diri tidak lagi berlaku apabila individu sudah membaur dengan kerumunan. Individu-individu dalam kerumunan didorong oleh insting primal. 

Menurut Freud, insting primal galibnya terbenam apabila individu berada dalam isolasi. Namun, dalam kerumunan, ia sanggup mengubah individu yang biasanya tenang menjadi brutal dan tidak terkendali. Psikologi kelompok mendorong keluar insting primal dalam diri masing-masing.

Dalam kerumunan, manusia mampu menjadi makhluk impulsif, intoleran, dan bertendensi untuk melakukan hal-hal yang ekstrem. Pembunuhan, heroisme, pertaruhan nyawa yang konyol, misalnya, lazim terjadi dalam psikologi kelompok menurut Freud. Jika ada kerumunan massa yang beraksi di jalan dan seseorang di dalam kelompok berteriak, “Bakar!” maka terbakarlah. “Jarah!”, maka terjadilah demikian.

Babak V: Cinta

Freud menyamakan sikap kerumunan massa terhadap pangerannya dengan ciri-ciri seseorang yang jatuh cinta. 

Ada magical suggestibility: apa saja yang keluar dari mulut sang pangeran adalah sihir penggugah, kata-katanya mutlak dan tidak patut dipertanyakan. Echo chamber yang menyelubungi kerumunan membuat perintah pemimpin menjadi lebih efektif memasuki ke alam bawah sadar mereka.

Berikutnya adalah overvaluation of object. Apabila kita jatuh cinta kepada seseorang dan ia memberikan sesuatu, kita akan menyimpannya dan memandanginya setiap malam. Dalam massa, penilaian itu merujuk benda kepunyaan atau yang diasosiasikan dengan label yang mereka anut atau pemimpin mereka. Kemudian ada suspension of reality testing and judgement, karena kenyataan terdistorsi layaknya "dunia milik berdua." Setiap individu dalam kerumunan massa akan kesulitan memberikan pertimbangan akan aksi mereka. Kira-kira, kayak bucin yang dibutakan cinta gitu, deh. Apa saja yang dilakukan pasangannya terlihat elok. Hal yang sama berlaku untuk kebencian yang dikobarkan di tengah massa. Kebencian akan berlaku absolut di kepala mereka. Dengan narasi kita melawan mereka, kelompok lain bisa dengan gampang dipandang sebagai musuh.

Jatuh cinta memungkinkan desire of extremes, atau kerelaan melakukan hal-hal ekstrem termasuk pengorbanan. Bagi sang pangeran, massa tak berkeberatan melakukan apa saja yang menunjukkan pengabdiannya.

Sigmund Freud menambahkan bahwa berahi terhadap sosok atau label tertentu dalam kerumunan massa adalah kunci utama untuk bersatu. Kerumunan itu kemudian mengalami regresi: bertindak seperti anak kecil yang membutuhkan afirmasi dan persetujuan dari orang tuanya.

Dalam khazanah psikologi Freudian, ada dua insting dasar yang memotivasi tindakan manusia, yaitu agresi, yang menghasratkan kehancuran dan penaklukan, dan libido, bagian dari id yang mengikat dan meleburkan individu dalam kerumunan. Libido mencakup Eros yang bertanggung jawab atas perasaan senasib dan comradeship. Insting-insting primal tersebut tak hanya berlaku bagi kerumunan sementara seperti massa aksi, tetapi juga kelompok yang bertahan lama seperti kesatuan tentara.

Manusia, sebagai makhluk sosial, takkan pernah lepas dari sifat kooperatif sepanjang peradaban. Saintis menyelidiki hal tersebut untuk memajukan kehidupan bersama, perusahaan memanfaatkannya untuk memahami pasar, dan politikus menggunakannya untuk meraih kekuasaan--sebagian tak malu-malu mengolahnya jadi ide-ide populis, menciptakan narasi "kerakyatan" yang pada akhirnya mengkhianati rakyat itu sendiri.

Mengutip lagu seorang teman, Sal Priadi, saya ingin mengatakan "Jangan bertengkar lagi ya? Ok? Ok!" Tetapi mungkinkah?

Related Article