Tak Seperti Kata Prabowo, Laporan Bank Dunia Sebut Pertumbuhan Indonesia Baik-baik Saja

Debat Pilpres putaran kelima akan dilaksanakan tanggal 13 April 2019. Debat terakhir ini akan membahas soal ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, serta industri. Dari tema-tema tersebut,  pembahasan seputar kondisi ekonomi Indonesia akan menarik untuk disimak.

Indikasi ini sudah terlihat dari kampanye akbar pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga di Stadion Utama Gelora Bung Karno hari Minggu (7/4) kemarin. Dalam kampanye akbar tersebut, Prabowo mengutarakan bahwa ibu pertiwi seolah-olah diperkosa, dengan kekayaan yang diambil terus-menerus dan hak rakyat yang diinjak-injak.

“…melawan pemimpin yang menipu rakyat, Ibu Pertiwi diperkosa. Kekayaan diambil terus, hak rakyat diinjak-injak…” ujar Prabowo dalam kampanye akbar tersebut, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Luhut: Pertumbuhan Indonesia Baik-Baik Saja

Ungkapan Prabowo tersebut ternyata menuai respons dari kubu calon presiden nomor urut 01 yang juga berstatus petahana. Luhut Binsar Panjaitan, yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman, menuturkan bahwa  kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini cukup baik. Ia juga menjelaskan bagaimana di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia berada dalam pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan angka inflasi yang rendah.

“Indonesia negara besar dengan sumber daya alam yang hebat. Pertumbuhan kita bagus. Jadi kalau orang bilang Ibu Pertiwi diperkosa, mungkin diperkosa dia kali,” ujar Luhut dalam sebuah seminar yang dilaksanakan di Jakarta, Senin (8/4). Ia pun melanjutkan ucapannya, “Kekayaan kita sangat besar. Penduduk kita 269 juta. GDP US$1,1 triliun. Muslim 230 juta lebih. Inflasi rendah, paling 3 persenan.”

Luhut pun berkomentar terkait ucapan “Lima persen ndasmu,” yang diutarakan Prabowo dalam kampanye akbar tersebut. Menurutnya, ucapan itu adalah hal yang kasar. Ia juga berargumen bahwa ekonomi lima persen ini sudah diakui dunia sebagai hal yang baik.

“Kalau dibilang lima persen baik, bukan kita aja yang bilang, semua dunia bilang baik, kalau dibilang ‘ndasmu’, aneh juga. Kok kasar begitu? Enggak sesederhana itu ngatur pemerintahan,” tutur Luhut.

Bagaimana Faktanya?

Berdasarkan siaran pers Indonesia Economic Quarterly Reports  yang dikeluarkan oleh Bank Dunia di bulan Desember 2018, Indonesia telah berhasil bertahan di tengah gejolak global yang kuat. Fundamental ekonomi makro yang kokoh dengan koordinasi kebijakan yang kuat telah membuat Indonesia bertahan dari goncangan tersebut.

Bank Dunia juga melaporkan bahwa kebijakan moneter dan fiskal yang ditujukan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro Indonesia telah membuat negara berpenduduk hampir 270 juta ini berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di angka 5,2 persen. Walau konsumsi masyarakat menurun, lonjakan konsumsi pemerintah mempertahankan kondisi konsumsi secara keseluruhan.

“Koordinasi pemerintah dalam hal kebijakan moneter, fiskal, dan nilai tukar telah membantu Indonesia melewati gejolak eksternal yang baru-baru ini terjadi,” tutur Rodrigo A. Chaves, kepala perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, seperti dikutip dari situs resmi Bank Dunia.

Untuk tahun 2019 ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pun tetap sama, yakni 5,2 persen. Meski demikian, Bank Dunia mewanti-wanti bahwa gejolak kondisi eksternal akan membawa risiko besar terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Gejolak kondisi eksternal ini seperti ketidakpastian perdagangan global dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Hal ini dapat menyebabkan arus modal keluar dan menciptakan gejolak keuangan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tak lupa, Indonesia disarankan untuk semakin memperkuat posisi eksternalnya. Hal ini termasuk meningkatkan ekspor dan investasi.

“Meski tekanan pada Rupiah telah berkurang, Indonesia harus semakin memperkuat posisi eksternalnya dengan mempercepat upaya peningkatan ekspor dan investasi,” tutur Frederico Gil Sander, Ekonom Utama untuk Bank Dunia di Indonesia.

Related Article