[Part 1] Calo Tiket Sepakbola, Masalah Lain yang Harus Diberantas Satgas Anti Mafia Sepakbola

Sepakbola Indonesia sedang memasuki fase amat penting sejak sebulan terakhir. Upaya memberantas mafia yang selama ini menodai kesucian sepakbola nasional tengah berlangsung. Satgas Anti Mafia Bola bentukan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, yang diketuai Hendro Pandowo dan wakilnya Krishna Murti, saat ini tengah bekerja keras mengusut dugaan pengaturan skor di sepakbola Indonesia.

Seperti ada harapan baru, kehadiran Satgas Anti Mafia Bola itu pun benar-benar membuat masyarakat sepenuhnya mendukung. Bahkan, di awal Januari 2019, kabarnya sudah ada total 278 laporan yang masuk terkait dugaan adanya aksi kotor pengaturan pertandingan skor atau match fixing. Sekitar 60 laporan ditingkatkan menjadi penyelidikan.

Di samping soal mafia pengatur pertandingan yang merusak wajah sepakbola nasional, ada juga masalah-masalah lain yang selalu menghantui dunia bal-balan di tanah air sejak lama. Misalnya saja soal distribusi tiket dan banyaknya calo-calo yang berkeliaran di setiap laga besar Timnas Indonesia. Soal keberadaan calo memang sulit ditolak.

Jika melihat kembali postingan Wakil Ketua Satgas Anti Mafia Bola Krishna Murti di akun Instagram resminya pada Sabtu, 29 Desember 2018 lalu, ada keresahan yang muncul soal bagaimana distribusi tiket di laga-laga sepakbola nasional selalu buruk. Calo pun jadi biang. Namun di luar itu, Krishna menawarkan sistem distribusi tiket yang dianggap baik.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Krishna Murti (@krishnamurti_bd91) on

Sistem distribusi tiket yang terstruktur rapi dengan penggunaan data pribadi sehingga bisa menekan oknum-oknum calo yang berhasrat memborong tiket dan menjual kembali dengan harga berkali lipat. Namun, hal itu tentu tak mudah. Krishna dan stakeholder lainnya perlu bekerja ekstra keras untuk menghapus budaya percaloan yang sudah mengakar.

Calo Tiket Sepakbola yang Tak Pernah ‘Punah’

Calo tiket seperti sudah jadi pelengkap dari sebuah pertandingan sepakbola, entah itu di level klub maupun level tim nasional. Mereka, yang berperan sebagai calo musiman itu, memang punya perannya tersendiri dalam perkembangan dan pertumbuhan sepakbola. Di manapun itu, ada saja segelintir calo, termasuk di ajang kelas dunia seperti Euro 2016 dan Piala Dunia 2018.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), orang yang menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah; perantara; makelar. Di dunia sepakbola, keberadaan calo ini tak pernah punah. Seperti apa pun dunia berkembang dan mengalami modernisasi, tampaknya calo memang tak bisa lepas dari sepakbola.

Baca Juga: Simon McMenemy Latih Timnas Indonesia, Gantikan Bima Sakti

Dalam sebuah pertandingan besar di sepakbola Indonesia, biasanya animo dan hasrat suporter untuk menyaksikan langsung ke stadion memang sangat besar. Seperti sudah menjadi tradisi, dalam situasi seperti itu, tiket pertandingan pun biasanya dengan cepat ludes terjual bahkan jauh sebelum hari H pertandingan. Bagi yang antri panjang dan menunggu semalaman suntuk di lokasi pembelian, biasanya akan berujung sia-sia.

Dari situasi ramai saat berburu tiket itu lah, calo biasanya tumbuh subur dan beraksi untuk menjalankan bisnisnya. Mereka, para calo, juga ikut serta membeli tiket, berbaur bersama ratusan bahkan ribuan suporter lainnya. Namun, beda dengan suporter yang memang ingin menonton, calo justru menjual kembali tiket-tiket yang sudah didapat kepada suporter yang tak kebagian dan sangat membutuhkan tiket.

Tengok saja pada pertandingan final Piala AFF U-16 2018 antara tuan rumah Indonesia vs Thailand yang berlangsung 11 Agustus 2018 lalu di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Saat itu, antusiasme masyarakat yang tinggi, meski yang main hanya timnas junior, membuat tiket habis dengan cepat. Namun, setelah loket pembelian tiket ditutup, calo-calo pun langsung bertebaran di sekitar stadion.

Tapi tunggu dulu, yang menarik adalah definisi calo ini sendiri selalu dipertanyakan. Sebenarnya dalam praktiknya, pengertian calo yang baku itu seperti apa sih? Setidaknya ada berbagai persepsi yang selama ini muncul soal calo dan aksinya yang kerap dibenci banyak orang itu. 

Pertama, apakah bisa dianggap calo saat kita sengaja meminta bantuan kepada orang lain untuk membeli tiket pertandingan sepakbola lalu memberinya upah atas usahanya mengantri di loket atau membeli via online? Kedua, apakah bisa dianggap calo jika ada seseorang yang rela mengantri dari awal atau beradu cepat di laman online untuk membeli tiket, lalu menjualnya lagi demi mendapat untung dan kemudian kita membeli tiket tersebut dari orang itu?

Atau yang ketiga apakah bisa dianggap calo jika ada seseorang yang bisa dengan mudah, tanpa usaha dan bersusah-susah mendapatkan tiket karena faktor punya ‘orang dalam’? Setidaknya tiga definisi di atas lah yang kerap muncul dan orang-orang menganggapnya sebagai calo. 

Mungkin, definisi calo dari poin pertama dan kedua, masih bisa dimaklumi karena berbagai faktor yang sudah dijelaskan di atas. Bahwa calo juga sama-sama mengantri saat membeli tiket di loket bersama suporter lainnya, bahwa calo menjual kembali tiket yang sudah ia dapatkan dari usaha susah payah demi mendapatkan untung. Bukan kah itu haknya juga kan? Apakah dilarang?

Baca Juga: Catatan 2018 Asumsi: Suka Duka Olahraga Nasional

Misalnya saja ada kejadian di mana calo diamuk massa dengan main hakim sendiri dan digelandang ke kantor Polisi, apakah hal itu dibenarkan? Ada kah aturan atau pasal yang mereka langgar? Rasanya jika calo itu sudah mengantri seperti suporter lainnya untuk membeli tiket dengan rasa lelah yang sama, itu haknya juga kan? Apalagi untuk menjualnya lagi, tentu enggak ada urusan dengan orang lain.

Nah, kalau definisi yang ketiga, mungkin itulah definisi calo yang sebenarnya dan dibenci banyak orang selama ini. Sosok calo yang tanpa perlu usaha keras, tanpa perlu mengantri dan berpanas-panasan menunggu berjam-jam demi mendapatkan tiket, tapi hanya dengan mengandalkan kenalan ‘orang dalam’ lalu dengan mudahnya mendapatkan sejumlah tiket, dan akhirnya dijual kembali dengan harga mahal. Siapa yang enggak kesal kan? Oknum calo seperti ini lah yang harus dibersihkan. (Bersambung...)

Related Article