Isu Terkini

Profesor Muda Indonesia Diduga Catut Nama Akademisi Malaysia dalam Penelitiannya

Yopi Makdori — Asumsi.co

featured image
Kumba Digdowiseiso[tengah]/Portal Unas

Seorang akademisi Indonesia membuat resah sejumlah akademisi di beberapa perguruan tinggi Malaysia lantaran diduga mencatut nama mereka tanpa izin. Sejumlah nama akademisi Malaysia tersebut dicantumkan sebagai penulis pendamping dalam penelitian akademisi Indonesia.

Retraction Watch melaporkan, Kumba Digdowiseiso yang tercatat aktif sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (Unas), Jakarta, telah membuat marah sekelompok akademisi Negeri Jiran itu atas tindakannya tersebut.

“Kami bahkan tidak tahu siapa orang ini,” kata Profesor Keuangan di Universiti Malaysia Terengganu, Safwan Mohd Nor.

Nor mengaku “sangat marah” ketika pertama kali mengetahui namanya telah digunakan sebagai penulis pendamping dalam penelitian Kumba tanpa sepengetahuannya.

Menurut Nor, dirinya menerima byline yang tidak diinginkan pada empat makalah yang diterbitkan dalam jurnal yang tidak diindeks oleh Web of Science milik Clarivate. Dia menengarai bahwa jurnal-jurnal tersebut merupakan jurnal predator.

Jurnal predator merujuk pada penerbitan akademis yang mengenakan biaya penerbitan tulisan kepada penulis dan tidak memeriksa mutu dan keabsahan dari tulisan yang terkandung di dalamnya.

“Sepertinya ini seperti jurnal penipuan atau predator,” kata Nor kepada Retraction Watch.

Setidaknya 24 staf di universitasnya tanpa disadari telah ditambahkan ke daftar penulis makalah Kumba.

Sementara itu, Kumba kepada Retraction Watch mengaku telah menghubungi salah satu dosen di universitas tersebut dan mengatakan bahwa masalah tersebut telah diselesaikan. Namun banyak nama staf yang masih dipublikasikan secara online .

Selama 2024 saja, Kumba tercatat telah menerbitkan setidaknya 160 makalah. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universiti Malaysia Terengganu, Azwadi Ali mengakui bahwa Kumba sempat mengunjungi universitas Malaysia tahun lalu.

Ali mengatakan Kumba bertemu dengan manajemen untuk membahas mobilitas mahasiswa, kuliah tamu, dan potensi kolaborasi penelitian.

“Tapi kami tidak tahu hal ini mungkin terjadi,” kata Ali.

Namun menurut Nor, Kumba tidak bertemu dengan dosen fakultas dan tidak pernah disepakati kerja sama. “Dia baru saja datang berkunjung dan tiba-tiba kami melihat nama kami di makalah itu,” kata Nor.

Namanya telah dihapus dari salah satu makalah, tetapi tiga makalah lainnya masih mencantumkan Nor sebagai penulis . “Saya tidak pernah terlibat dalam salah satu makalah ini, tidak pernah menyetujui penggunaan nama saya tanpa keterlibatan penelitian langsung, dan tidak pernah berkolaborasi dengan Kumba Digdowiseiso atau rekan penulisnya sepanjang hidup saya,” kata Nor.

Ditambahkannya, beberapa nama staf telah dihapus dari halaman utama makalah, namun tetap dalam versi PDF dan masih terindeks Google Scholar.

Ali dan Fahirah Syaliza Mokhtar, dosen lain di fakultas tersebut dan penasihat hukum universitas, mengatakan mereka telah berusaha menghubungi Kumba tetapi belum mendapat tanggapan. Mokhtar meminta agar Kumba memastikan bahwa namanya dicabut dari artikel yang ditulis Kumba.

“Jika [Digdowiseiso] ingin melanjutkan penerbitan jurnal, kami tidak mempermasalahkannya, namun kami ingin memastikan nama kami telah dicabut dari jurnal,” katanya.

Di samping dikenal sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (Unas), Jakarta, Kumba Digdowiseiso juga dikenal sebagai salah satu profesor termuda di Indonesia. Ia menerima gelar Guru Besar Ilmu Ekonomi Pembangunan di usia 38 tahun pada Oktober tahun lalu.

Share: Profesor Muda Indonesia Diduga Catut Nama Akademisi Malaysia dalam Penelitiannya