Bisnis

Tahun Depan, Orang Super Kaya Bakal Lebih Banyak Belanja dan Investasi

Ray– Asumsi.co

featured image
Pixabay

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan akan terjadi penurunan orang super kaya yang menyimpan uangnya di tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen disebut menjadi pemicunya.

Dipakai Belanja dan Investasi

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, menyebutkan tren simpanan dana pihak ketiga (DPK) yang bernilai di atas Rp5 miliar tidak setinggi tahun ini.

Ia mengatakan, penyebabnya uang yang dimiliki orang-orang super kaya ini bakal lebih banyak dimanfaatkan untuk belanja dan investasi daripada disimpan di bank.

"Kami perkirakan kemungkinan tren dana pihak ketiga yang di atas Rp5 miliar tidak akan setinggi tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan naik lima persen, membuat perusahaan atau orang membelanjakan uangnya," katanya seperti dikutip dari Antara.

Purbaya menambahkan, alasan mereka memilih membelanjakan uang daripada menyimpannya karena masih menanti perbaikan ekonomi yang lebih signifikan karena kondisi pandemi yang masih terjadi sampai sekarang.

"Kami tegaskan LPS akan selalu mendorong pertumbuhan dan pemulihan ekonomi dengan mempertimbangkan ekonomi global," ujarnya.

Penurunan Suku Bunga

Purbaya mengatakan langkah pemulihan ekonomi ini, lanjut dia bisa dilakukan pihaknya jika pada tahun depan terbuka ruang untuk menurunkan suku bunga penjamin simpanan LPS.

"LPS akan selalu mempertimbangkan untuk melakukannya. Jika ekonomi diharapkan tumbuh hingga lima persen, maka pertumbuhan kredit harus mencapai dua digit," pungkasnya.

Menyikapi hal ini, Direktur Eksekutif lembaga kajian ekonomi Indef Tauhid Ahmad mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja mencapai 5 persen di tahun 2022.

Ia pun meyakini roda perekonomian Indonesia yang kian menunjukkan perbaikan. Hingga kuartal ketiga 2021, kata dia pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 3,5 persen. Namun menurut perkiraaannya, pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun ini tidak sampai 4 persen.

"Memang pertumbuhan kuartal akhir ini menurut saya, bisa saja sampai di 4 persen. Cuma kalau pertumbuhan ekonomi tahunan 2021, sepertinya hanya sampai di 3,3 persen sampai 3,5 persen nggak sampai 4 persen," ujarnya kepada Asumsi.co, Minggu (12/12/2021).

Dinilai Wajar

Menurut Tauhid, hal yang wajar jika orang super kaya memutuskan untuk lebih banyak membelanjakan uang atau memperbanyak invetasi daripada menabung di bank di tengah situasi yang masih serba tak pasti karena pandemi COVID-19.

"Perputaran uangnya nanti bisa dilihat seperti apa sejak awal tahun ini. Sektor konsumsi sih, sepertinya bakalan terus meningkat karena industri dan aktivitas niaganya sudah semakin produktif," pungkasnya.

Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho mengamini orang-orang super kaya di Indonesia yang bakal lebih ketat menyimpan uang pada tahun depan.

"Memang saat ini ekonomi sudah mulai pulih, tapi dengan kabar munculnya varian Omicron ini bikin situasi ekonomi kembali tidak pasti, membut uang yang menganggur diparkir di investasi, berupa deposito itu misalnya salah satunya," ujarnya melalui sambungan telepon.

Andy menilai langkah yang bakal diambil orang-orang super kaya ini bukanlah sesuatu yang aneh. Membelanjakan uang, lanjut dia juga merupakan langkah yang dikakukan mereka untuk terus mendorong produktifitas roda ekonomi.

"Menurutku ini masih wajar-wajar saja. Menurut mereka baik juga dibelanjakan daripada di tahan-tahan uangnya di bank. Investasi saham, deposito, maupun obligasi akhirnya juga dipilih menjadi sarana penyimpanan yang meyakinkan buat kondisi sekarang," imbuhya.

Baca Juga

Share: Tahun Depan, Orang Super Kaya Bakal Lebih Banyak Belanja dan Investasi