Politik

Blak-blakan PSI Soal Tiba-tiba Giring Jadi Ketum

Ray Muhammad — Asumsi.co

featured image
Antara/HO-PSI

Partai Solidaritas Indonesia resmi memiliki Ketua Umum baru. Giring Ganesha Djumaryo, mantan vokalis band Nidji ini resmi ditunjuk sebagai Ketum untuk menggantikan Grace Natalie yang kini mengemban jabatan baru sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina PSI.

Pemilihan Giring ibarat petir di siang bolong. Sebab, sosoknya yang masih seumur jagung di dunia politik tiba-tiba bisa langsung mendapat kepercayaan untuk memimpin sebuah partai politik.

Giring seolah menyingkirkan sosok lain di internal atau eksternal PSI yang secara pengalaman mumpuni untuk memimpin sebuah partai.

Pertimbangan Internal

Proses pemilihan Giring sebagai Ketum PSI terbilang berbeda dari mayoritas partai. Partai berlambang bunga ini tidak menggelar Kongres atau Musyawarah Nasional untuk memilih Ketum baru.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, Isyana Bagoes Oka menyampaikan proses pemilihan Giring sudah sesuai dengan prosedur partai. Giring dipilih berdasarkan kesepakatan internal.

“Yang jelas saya ingin menggarisbawahi bahwa proses ini tidak tiba-tiba. Kami memang memiliki kesepakatan internal, untuk melakukan sirkulasi kepemimpinan setiap 5 tahun sekali, tentunya dengan tetap menerapkan mekanisme yang demokratis-meritokrasi,” ujar Isyana kepada Asumsi.co, Selasa (30/11/2021).

Isyana tidak memaparkan secara rigid proses internal yang digunakan oleh PSI ketika memilih Giring sebagai Ketum. Namun, ketentuan yang tertuang dalam AD/ART PSI, Dewan Pembina merupakan pihak yang menentukan siapa yang menjadi Ketum PSI. Saat ini, posisi itu dijabat oleh Jeffrie Geovanie.

Adapun terkait dengan proses sirkulasi kepemimpinan PSI, Isyana memaparkan dimulai ketika Grace mendapatkan beasiswa S2 di Singapura. Dia menyebut PSI butuh sosok yang menjalankan roda kepemimpinan sehari-hari di DPP PSI.

Nama Giring pun muncul untuk menjadi Pelaksana Tugas Ketum PSI. Bukan tanpa alasan, Isyana mengklaim Giring ditunjuk setelah PSI meminta sebuah lembaga survei untuk melakukan survei kepada publik maupun masyarakat yang mengaku sebagai pemilih PSI.

“Nama Bro Giring muncul tertinggi dalam survei itu,” ujarnya.

Setelah itu, Isyana menyampaikan Mahkamah Partai dan DPP mengecek ulang rekam jejak dan memastikan Giring memiliki nilai yang sama dengan PSI, memiliki kemampuan manajerial sebagai seorang pemimpin parta, serta memiliki komitmen dan political will untuk membesarkan PSI.

Sesuai Keinginan Partai

PSI menilai Giring adalah sosok yang sesuai dengan kebutuhan partai karena memiliki kompetensi dan integritas. Bahkan, Giring disebut telah telah membuktikan diri berjuang bersama PSI di garda terdepan dan telah dikenal sebagai wajah anak muda kreatif.

Setelah itu, Isyana menyampaikan Giring diuji kemampuan kepemimpinannya selama satu tahun sebagai Plt Ketum PSI. Namun, PSI telah membuat kesepakatan bahwa posisi ketua umum tidak akan diberikan padanya jika tidak memenuhi Key Performance Indicator (KPI) yang ditetapkan.

“Setelah setahun, Dewan Pembina dan DPP mengevaluasi semua KPI dan ternyata bro Giring berhasil,” ujar Isyana.

Puncaknya, Dewan Pembina PSI yang diwakili oleh Grace sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina dan Raja Juli Antoni sebagai Sekretaris Dewan Pembina kemudian mengumumkan hasil ketetapan sekaligus melantik kepengurusan DPP PSI di forum nasional partai yang disebut Kopdarnas pada tanggal 16 November 2021. Forum itu diklaim dihadiri oleh semua DPW dan DPD PSI.  

“Proses dan suasana berjalan dengan lancar. Semua pengurus menerima transisi kepengurusan DPP dengan mulus, tanpa ada politik uang,” ujarnya.

Selain Giring, pada kesempatan itu DPP PSI juga menunjuk Dea Tunggaesti sebagai Sekjen DPP PSI.

Rekam Jejak

Sebelum terjun ke dunia politik, Giring dikenal sebagai musisi dan vokalis Nidji. Ia juga merupakan Presiden Indonesia eSport Premiere League yang turut digagas olehnya. Giring juga membidani lahirnya startup, kincir.com.

Giring memutuskan untuk mengundurkan diri dari grup musik yang membesarkan namanya di dunia hiburan itu pada tahun 2017 dan bergabung dengan PSI. Ia mengungkapkan alasan terbesarnya terjun ke dunia politik adalah ingin menjadi bagian untuk membuat Indonesia menjadi negara dan bangsa yang lebih baik lagi.

“Dan, juga saya ingin membuat Indonesia (menjadi) negara yang terbaik buat keluarga saya,” kata Giring seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, ia juga mengaku terinspirasi dengan sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang membuatnya tergugah mendalami dunia politik dan menghilangkan sikap apatis sebagai anak muda terhadap negeri ini.

Giring tercatat pernah maju sebagai calon anggota legislatif pada Pileg 2019 di Daerah Pemilihan Jawa Barat 1. Kala itu, ia berhasil mendulang 97.069 suara.

Di sisi lain, Giring pernah mengungkapkan keinginannya kepada publik untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden untuk periode 2024-2029. Keinginannya menjadi capres ini pun disampaikan melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya.

Video tersebut memperlihatkan baliho bergambar wajah pria kelahiran 14 Juli 1983 ini yang bertuliskan “Giring untuk Presiden 2024” dan bersanding dengan lambang PSI. Ia mengungkapkan alasan keinginan menjadi presiden karena kepeduliannya terhadap politik Indonesia yang semakin besar.

“Izinkan dan beri kesempatan kepada saya untuk melayani seluruh rakyat Indonesia. Saya percaya kita akan bangkit berdiri untuk Indonesia yang semakin jaya!” tuturnya.

Tugas Berat

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai popularitas bukan hal utama yang harus dipegang oleh Giring. Sebab, menjual popularitas tidak cukup untuk menjadi ketua partai.

Giring juga perlu memperhatikan tugas-tugas penting menjadi seorang pemimpin partai salah satunya mengkonsolidasi partai. Ray mengatakan hal ini masih menjadi pertanyaan juga bagi banyak pihak apakah Giring mampu untuk menjalankan kebijakan tersebut.

“Memang untuk menaikkan elektabilitas, Giring mampu mengelolanya. Namun, fungsi ketua partai tidak hanya sekedar elektabilitas, namun juga mengkonsolidasi, manajemen, memutuskan perkara penting, dan seterusnya,” ujar Ray kepada Asumsi.co.

Berkaca dari itu, Ray menyarankan PSI untuk tetap mempertahankan sisi demokratisnya, terutama ketika mereka melakukan seleksi di internal hingga calon legislatif.

“PSI adalah partai yang berbasis semangat reformasi dan selektifnya mereka dalam menyeleksi. Mengingat hal ini jarang dilakukan oleh beberapa partai lainnya,” ujarnya.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar mengingatkan seluruh kader PSI harus siap menanggung dampak setelah Giring menjadi Ketum. Pasalnya, dia berpendapat Giring gagap dinamika politik.

Hal itu terlihat dari beberapa peristiwa kontroversi Giring. Idil melihat mungkin Ketum DPP PSI ini ingin langsung to-the-point tanpa basa-basi untuk komentar soal kebijakan pemerintah atau lingkup politik di Indonesia.

“Saya sepakat dengan cara Giring yang to-the-point, tapi menjadi pilihan penting bagi Giring untuk dapat belajar lebih dalam tentang penggunaan narasi politik yang lebih sesuai,” ujar Idil kepada Asumsi.co, Kamis (18/11/2021).

Sensasi di dunia partai politik, kata Idil memang wajar untuk meningkatkan eksistensi parpol tersebut, namun perlu ditegaskan narasi atau komunikasi politiknya harus diperbaiki agar tidak menyimpang ke jalur yang salah.

Menjadi tugas besar bagi Giring untuk menganalisis, membaca, dan mendalami dinamika politik yang benar. Tidak hanya untuk Giring, tapi hal ini menjadi komponen utama menjadi seorang pemimpin di parpol untuk mendelegasikan banyak hal kepada kader masing-masing.

Baca Juga:

Share: Blak-blakan PSI Soal Tiba-tiba Giring Jadi Ketum