Isu Terkini

Bursa Ketum PBNU: Dari Said Aqil Hingga Gus Yahya

Tesalonica — Asumsi.co

featured image
nu.or.id

Muktamar ke-34 NU akan diselenggarakan pada 23 hingga 25 Desember 2021 di Lampung. Sudah ada tiga kandidat Kiai Senior NU yang siap untuk maju dalam bursa Muktamar ke-34 untuk menempati posisi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021-2026.

Nilai-Nilai Aturan

Muktamar adalah forum tertinggi dalam pengambilan keputusan di organisasi NU. Selain itu, forum ini juga memiliki sejumlah agenda penting yang dibahas, seperti menetapkan Rais Aam, pemimpin umum NU, menetapkan fatwa-fatwa atas persoalan tertentu mencakup masalah keagamaan, persoalan mutakhir dalam kehidupan yang berbangsa dan bernegara, serta rekomendasi.

Terlepas dari itu, ada sejumlah etika dan aturan yang perlu dicermati oleh calon kandidat Ketum PBNU berdasarkan nilai-nilai Islam dengan pendekatan demokrasi liberal.

Dikutip dari situs NU, dalam nilai Islam memang tidak baik untuk mengajukan diri sebagai pemimpin, karena pengurus wilayah dan cabang NU sebagai pemilik hak suara yang dapat mengajukan calon di forum muktamar. Dukungan minimal dalam jumlah tertentu dapat mendukung calon untuk dianggap layak.

Sehingga, deklarasi pencalonan di forum ini dianggap tidak sesuai etika dalam tata nilai NU. Lebih lanjut, persetujuan dari Rais Aam yang merupakan pemimpin tertinggi NU. Keputusan  darinya menjadi hal utama yang paling krusial. Nyatanya,  jika Rais Aam terpilih tidak setuju maka pencalonan akan batal, meski telah mendapat dukungan yang begitu besar.

Selain itu, Rais Aam juga bekerja sama dengan jajaran tanfidziyah yang merupakan pelaksana operasional organisasi sehari-hari. Ketua umum tanfidziyah memiliki informasi yang detail dibanding lainnya dan dapat memastikan keselarasan visi antara rais aam dan ketua umum tercermin.

Aturan ini menjadi diskusi panjang bagi kalangan para pengurus NU tingkat wilayah dan cabang yang punya hak atas suaranya. Namun, saat ini sudah ada tiga kandidat yang berpotensi seperti Said Aqil Siroj, Yahya Cholil Staquf, dan Marzuki Mustamar. Berikut profilnya:

Said Aqil Siroj

Said Aqil Siroj diketahui lahir di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat pada 3 Juli 1953. Orang tua dari Said, yakni Aqiel Siroj salah satu Kiai NU yang terkenal di Cirebon termasuk dalam jejaring ulama di Karesidenan Cirebon.

Said sempat meraih pendidikan tinggi dari sarjana hingga doktor di  Universitas King Abdul Azis, Jeddah pada 1980 hingga 1982. Ia kembali mengenyam pendidikan studi masternya di Universitas Ummul al-Qura, Mekkah, Arab Saudi pada 1982 hingga 1987 dan mendapat gelar doktor pada 1987 hingga 1994.

Ketika era kepemimpinan PBNU Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gusdur, Said pernah menduduki posisi sebagai Katib Aam PBNU. Selanjutnya, dia pernah berada dalam lingkup pemerintahan sebagai anggota MPR Fraksi Utusan Golongan NU sejak 1999 hingga 2004.

Kisah perjalanan Said di lingkup NU juga tidak berhenti sampai di situ. Ia sempat menjabat sebagai pemimpin PBNU periode 2010 hingga 2015 dan terpilih kembali di Muktamar Jombang periode 2015 hingga 2020. Hingga kini juga Said masih tercatat sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan komisaris utama merangkap komisaris independen PT Kereta Api  Indonesia (Persero).

Yahya Cholil Staquf

Yahya Staquf lahir di Rembang, Jawa Tengah pada 16 Februari 1966. Ayah dari Yahya, yakni Muhammad Cholil Bisri yang merupakan tokoh NU terkenal sekaligus salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Tercatat, Yahya sempat meraih pendidikan formalnya di Pesantren, seperti di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Selanjutnya, mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Yahya juga pernah menjabat di lingkup pemerintahan sebagai juru bicara mantan presiden Abdurrahman Wahid dan sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 2018 hingga 2019.

Ia aktif sebagai pembicara internasional di luar negeri saat ini. Yahya sempat menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel untuk memperjuangkan perdamaian Israel dan Palestina pada 2018.

Marzuki Mustamar

Marzuki Mustamar lahir di Blitar, Jawa Timur pada 22 September 1996. Ia merupakan pimpinan Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad, Gasek, Malang, Jawa Timur.

Ia sempat meraih pendidikan formalnya di Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono. Marzuki kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Malang pada tahun 1990 dan program master di Universitas Islam Lamongan (UNISLA) pada 2004.

Selain itu, ia tercatat sebagai dosen di Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Negeri Maliki Malang. Marzuki juga menempati jabatan sebagai ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang selama dua periode sebelumnya.

Ia sempat menjadi anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang dan Dewan Pertimbangan MUI Jawa Timur.

Baca Juga

Share: Bursa Ketum PBNU: Dari Said Aqil Hingga Gus Yahya