Isu Terkini

Menit-menit Mematikan di Tragedi Kanjuruhan

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/pras.

Salah satu korban selamat dari tragedi Kanjuruhan, Doni menceritakan menit-menit mencekam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada Sabtu (1/10/2022) malam.

Setelah pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya berakhir, Doni masih duduk di area Tribun 14 bersama sejumlah rekan dengan tiga orang anak kecil. Ia menunggu banyaknya penonton yang antre untuk keluar stadion Kanjuruhan.

“Saat itu antre normal, saya menunggu biar agak sepi. Namun, di area bawah memang sudah mulai ramai pendukung yang tidak puas,” ujar Doni, dilansir dari Antara.

Kepanikan massal: Tidak lama berselang, penonton masuk ke dalam area lapangan dan terjadi kericuhan yang berusaha dikendalikan oleh petugas. Hingga akhirnya, ada tembakan gas air mata.

“Tembakan pertama saya merasa panik, saya berdiri. Kedua, panik semua penonton. Yang tadi masih belum sepi di pintu keluar, terus dengan adanya tembakan, panik dan berhamburan,” tutur Doni.

Tembakan gas air mata ke Tribun 14 tersebut sebabkan penonton berusaha untuk segera meninggalkan Stadion Kanjuruhan. Doni juga bergegas keluar dengan memegangi anaknya yang berusia 10 tahun.

“Anak saya di depan saya, saya tidak melihat pintu itu buka atau tutup. Tapi kalau secara logika, jika pintu itu terbuka, berdesakan itu akan cepat keluar,” ucapnya, dilansir dari Antara.

Ia tertahan tidak bisa keluar dari stadion dan terdesak penonton lain yang berada di belakangnya. Beruntungnya, Doni mampu keluar dari Stadion Kanjuruhan dengan selamat bersama anaknya.

“Tidak lama berselang, anak saudara saya yang meninggal dunia itu keluar. Saya menanyakan di mana ayah dan mamanya. Kemudian saya menitipkan anak saya dan anak saudara saya itu dan berusaha mencari,” ujar Doni.

Keluarga meninggal dunia: Saat berusaha mencari dua saudaranya tersebut, Doni melihat sejumlah orang yang membopong seorang perempuan yang merupakan kakak iparnya D (30 tahun). Kemudian, terlihat pula suami kakak iparnya Y (40 tahun) dibopong oleh para penonton yang lain.

“Teman saya mencari tim medis. Anak-anak saya pulangkan dengan rekan lainnya. Saat saya kembali, keduanya sudah dinyatakan tidak ada,” tutur Doni.

Ia kecewa tembakan gas air mata diarahkan ke tribun yang mana banyak anak-anak dan perempuan.

“Yang membuat panik pertama kali adalah adanya tembakan gas air mata itu, di tribun itu ada anak kecil, ibu-ibu,” ucapnya.

Harapkan keadilan: Doni mengharapkan keadilan untuk seluruh korban yang meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan itu. “Saya mencari keadilan. Kalau untuk doa sudah cukup, kami dari keluarga ingin keadilan untuk korban,” ujar Doni.

 

Share: Menit-menit Mematikan di Tragedi Kanjuruhan