Isu Terkini

Gibran Wacanakan “Work From Solo”, Bisa Picu Kecemburuan Daerah?

OlehIrfan Muhammad

featured image
Foto: Wikipedia

Belum tuntas polemik Work from Bali yang dicanangkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, kini muncul wacana "Work from Solo". Dicanangkan oleh Wali Kota Surakarta yang juga putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, wacana ini juga punya alasan sama: Mendukung destinasi wisata lokal yang ambruk karena pandemi.

​Namun, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menilai hal ini bisa menimbulkan kecemburuan dari pengelola destinasi pariwisata lainnya. Sebelum "Work from Solo", beberapa hari ke belakang, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta juga tergiur melakukan program yang sama untuk daerahnya.

"Ya pasti ini akan menimbulkan kecemburuan. Karena harusnya sejak awal tidak perlu menyebut lokasi. Cukup "Work from Destination" misalnya. Kan destinasi pariwisata Indonesia bukan hanya Bali," kata Trubus kepada Asumsi.co, Minggu (30/5/21).

​Lagi pula perlu dicermati lebih dulu terkait pelaksanaan kebijakan ini. Menurut Trubus, mau bekerja dari mana pun, syarat dan kondisi yang untuk memerintahkan Aparatur Sipil Negara bekerja dari daerah tertentu harus disiapkan secara matang.

 Baca juga: Gibran Pecat Bawahan, Pencitraan 100 Hari Jadi Wali Kota?

​Sepanjang pengetahuannya saat ini belum ada kejelasan anggaran dari mana ongkos untuk para ASN ini bekerja di destinasi wisata. "Dari tujuh kementerian ini mau menggunakan anggaran yang mana? Malah menurut saya ini kontraproduktif dengan permintaan Kementerian Keuangan yang hendak melakukan penghematan (anggaran)," ucap dia.

​Pertanyaan yang sama adalah siapa saja ASN yang diberangkatkan. Dan bagaimana pemantauannya saat mereka sampai dan bekerja di destinasi wisata tertentu.

​"Akan lebih banyak jalan-jalannya atau bekerjanya? Itu juga sulit nanti pengawasannya. Malah kesannya yang muncul nanti kayak piknik gratis saja," ucapnya.

​Menurut Trubus dalam teori kebijakan publik dikenal yang namanya cost and benefit. Kalau melihat dari wacana kerja dari tempat wisata, antara ongkos dengan keuntungannya masih lebih mahal ongkosnya. Sementara, keuntungannya, Trubus menilai belum bisa diukur dengan baik.

​"Jadi saya kira kebijakan ini belum tepat. Waktunya sendiri enggak mendukung. Apalagi di tengah kasus Covid-19 yang sedang merangkak naik," ucap dia.

​Tidak Bijak

​Epidemilog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut kebijakan bekerja dari tempat wisata tidak bijak karena situasi pandemi Covid-19 yang sedang serius. Kondisi ini merata terutama Jawa dan Bali. Dengan begitu pergerakan orang menjadi cukup rentan pada penularan.

"Baik di perjalanan maupun di tujuan. Kondisi Bali sendiri kan bukan dalam kondisi yang terkendali. Bali bukan salah satu daerah yang masuk radar minimum requirement test WHO. Sehingga pemahaman terhadap kondisi pandemi di wilayah ini sangat minim," kata Dicky kepada dihubungi terpisah.

​Kalau pun mau membuat kebijakan seperti ini, hendaknya menunggu sampai Juli. Karena perlu diperhatikan dulu lonjakan kasus yang terjadi di bulan Mei dan Juni mengingat kemarin sempat ada arus mudik.

​"Potensi meledak kok ini. Serius banget. Jadi kalau ada yang menyebut ini (aman), situasi ekonominya mungkin paham, tapi tidak memahami situasi pandemi. Dan ini berbahaya," ucap dia.

​Kebijakan ini pun tak mempertimbangkan azas keadilan untuk daerah lain. Karena pukulan pandemi pada ekonomi adalah sama. "Jadi bekerja ya bekerja saja. Bukan dari Bali tapi dari rumah. Kalau mau pulihakan Bali ya kendalikan situasi pandeminya. Pandeminya belum pulih mau kerja di mana pun akan jadi masalah. Makanya ini bukan solusi di tengah pandemi yang tidak terkendali," ucap dia.

​Sebelumnya, mengutip Liputan 6, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka siap mengajukan program "Work From Solo" atau bekerja dari Solo untuk mendukung pemulihan pariwisata lokal.

Baca juga: Kaesang-Erick Thohir Jadi Pemilik Saham, Bisakah Persis Solo Berjaya?

​Menurut Gibran, Solo yang nyaman potensial untuk melakukan program seperti yang dicanangkan Luhut di Bali. Saat ini usulan tersebut memang belum ia ajukan. Tetapi dari segi fasilitas, Gibran yakin kotanya siap.

​"Teman-teman hotel juga sudah divaksin semuanya," katanya.

​Terkait hal itu, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Surakarta siap mendukung program "Work From Solo". Menurutnya Kota Solo jadi kota yang dijuluki kota ternyaman. Selain itu, vaksinasi juga sudah berjalan dengan cepat pada sektor kepariwisataan, baik dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) maupun Asita.

​Sementara Kompas, menyebut Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Singgih Raharjo juga mengusulkan hal yang sama. Mengingat, amenitas atau fasilitas pendukung pariwisata di Yogyakarta juga tak kalah dengan Bali.

​Singgih menyampaikan, koneksi internet di Yogyakarta, baik itu di hotel-hotel maupun di destinasi wisata juga dinilai mumpuni untuk bekerja melalui daring.​

Share: Gibran Wacanakan “Work From Solo”, Bisa Picu Kecemburuan Daerah?