Keuangan

Anjlok Cryptocurrency, Tips Buat Investor Pemula

Ilham Anugrah– Asumsi.co

featured image
Unsplash/André François McKenzie

Di pasar kripto, harga Bitcoin kembali melemah. Hingga perdagangan Kamis (20/5/2021), sempat naik di angka Rp 587 juta. Berdasarkan data dari Indodax, sempat menyentuh ke angka Rp 529 juta pada 19 Mei lalu.

Menurut CEO Indodax, Oscar Darmawan, Bitcoin mengalami penurunan 13 % ke level US$ 38.215,90 atau setara dengan Rp 529 juta. Sekitar US$ 280 miliar atau Rp 4.004 triliun (kurs Rp 14.300/US$) menguap dari pasar kripto.

Tidak hanya Bitcoin, tetapi mata uang kripto lain juga ikut menurun. Sebut saja Ethereum, Theter, Binance.

“Bitcoin naik turun lebih dari 20% adalah hal biasa dan inilah yang membuat kesempatan buat para trader membeli murah. Kemudian mendapatkan profit dengan menjualnya pada saat harga tinggi,” katanya saat diwawancara Asumsi.co.

Baca juga: Harga Mata Uang Kripto Anjlok, Bitcoin Cash Turun Paling Tajam | Asumsi

Salah satu penyebab penurunan mata uang kripto saat ini terjadi karena pernyataan Elon Musk di Twitter yang mendorong aksi jual.

Oscar Darmawan kembali menyatakan bahwa penurunan ini adalah penurunan yang masih wajar dan akan kembali menguat pada saat ada momentum yang terlihat kembali untuk naik. “Jadi, penurunan ini juga bisa dimanfaatkan oleh member dan masyarakat Indonesia untuk membeli kripto di harga diskon. Dan lagi, bagi para trader kripto, banyak altcoin yang malah menguat. Jadi dapat dimanfaatkan kesempatan untuk trading. Dari sisi fundamental dan utilitas, setiap aset kripto memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing,” tambahnya.

Menurutnya, banyak orang yang memanfaatkan penurunan harga Bitcoin untuk membeli. "Mereka membeli Bitcoin karena harga mumpung sedang murah. Setelah itu, mereka akan take profit saat harga naik atau kembali menembus level tertingginya,” jelas Oscar Darmawan.

Sama halnya dengan Bitcoin, YFI juga bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp10.000 saja di Indodax. Begitu juga dengan aset kripto yang lain yang sudah mencapai harga ratusan juta. Karena aset kripto bisa ditransaksikan dengan pecahan desimal.

“Itu menariknya trading kripto karena transaksinya bisa dalam desimal. Tidak harus membeli 1 koin. Toh membeli berapapun, kenaikannya secara persentase, jadi tetap kenaikan modalnya secara persentase,” katanya.

Tips dan Peringatan untuk Investor Pemula

Lain dengan Oscar, Ian Yosef, pengamat pasar modal dan mata uang kripto, mengatakan bahwa turun naiknya mata uang kripto ini sangat rentan. “Hanya karena pernyataan Elon Musk bahwa Bitcoin tidak bisa digunakan, langsung menurun drastis,” katanya.

Baca juga: Sita Banyak Energi Fosil, Elon Musk Sebut Tesla Berhenti Pakai Bitcoin | Asumsi

Padahal, sebetulnya mata uang kripto masih menjanjikan. Namun, cukup rentan hanya karena pernyataan seorang saja.

"Ternyata kripto terlalu mudah diomongin saja, (kemudian) jatuhnya enggak kira-kira. Seperti Bitcoin berlaku dunia tuh. Untuk pemain kecil ini sangat berpengaruh. Kalau pemain besar masih bisa nunggu. Sepertinya Elon Musk ingin mengajarkan bahwa mata uang digital sangatlah rentan," katanya.

Menurut lulusan Institut Teknologi Bandung ini, mata uang kripto tidak ada jaminannya. Apalagi di Indonesia, OJK belum bisa menjamin. 

"Yang harus diingat itu, kripto itu nggak ada jaminan dari bank sentral. Permasalahan di situ, mengapa Bitcoin dan lainnya ditentang. Banyak duit masyarakat hilang karena itu harus hati-hati untuk membeli ini. Namun, tetap saja banyak pemainnya yang mau membeli," katanya.

Dia juga menyarankan agar berinvestasi di kripto secara jangka pendek. Volatilitas yang tinggi, dan sejarah yang membuktikan bahwa Bitcoin dkk juga pernah ambruk, menunjukkan bahwa uang kripto tidak bisa dimanfaatkan sebagai investasi jangka panjang. Namun, apabila ditanyakan investasi mana yang lebih baik antara di kripto atau pasar modal, ia lebih yakin di pasar modal.  "Apalagi Gojek dan Tokped (Tokopedia) merger," katanya.

Share: Anjlok Cryptocurrency, Tips Buat Investor Pemula