Internasional

Pro Palestina Bukan Berarti Anti Yahudi, Ini Alasannya

Ray– Asumsi.co

featured image
Foto: Getty Images

Konflik Israel dan Palestina yang terjadi belakangan ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya sikap kebencian terhadap Yahudi atau antisemitisme. Yahudi dituding sebagai biang kerok yang menyebabkan terjadinya konflik di sana. Gerakan pro Palestina juga meningkat belakangan ini lewat digelarnya aksi turun ke jalan di berbagai negara. Lantas, apakah sikap mendukung Palestina berarti menunjukkan kita sebagai orang yang antisemitisme?

Aksi Vandalisme di Sinagog Hingga Ucapan Erdogan

Video viral yang memperlihatkan konvoi mobil sambil menyerukan kebencian terhadap Yahudi melalui pengeras suara di London dan aksi vandalisme di sebuah Sinagog di Norwich,  merupakan dua perilaku antisemitisme yang terjadi di Inggris baru-baru ini.

Sementara itu, aksi unjuk rasa membela Palestina digelar di distrik kelas pekerja Neukoelln selatan Berlin, Jerman yang menjadi kawasan tinggal bagi sejumlah orang yang memiliki keturunan dari Turki dan Arab. Para pengunjuk rasa menyerukan ajakan boikot Israel sambil melemparkan batu dan botol paving ke arah polisi. Beberapa orang ditangkap dalam insiden itu.

Baca juga: Gaza Terlihat Buram di Peta Google, Ini Pentingnya Citra Satelit Resolusi Tinggi | Asumsi

Mengutip CNN, aksi pembakaran bendera Israel terjadi di depan dua Sinagog di Bonn dan Muenster, Prancis, pada pekan lalu. Bentrokan tak terelakkan saat polisi berusaha membubarkan para pengunjuk rasa, dengan gas air mata yang dibalas lemparan batu oleh para pendemo.

Terkini, Amerika Serikat (AS) melontarkan kritik tajam kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan karena dianggap menunjukkan sikap antisemitisme saat mengomentari serangan Israel di Gaza. 

"Mereka pembunuh, sampai-sampai mereka membunuh anak-anak yang berusia 5 atau 6 tahun. Mereka puas hanya dengan mengisap darah," kata Erdogan mengutip Kompas.com.

Sementara itu, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, menyampaikan Amerika mengutuk keras komentar anti-Semit Presiden Erdogan tentang orang Yahudi dan menganggap mereka tercela.

Ia mendesak Presiden Erdogan dan pemimpin Turki lainnya untuk menahan diri dari melontarkan komentar menghasut yang dapat memicu terjadinya kekerasan lebih lanjut.

Pro Palestina karena Alasan Kemanusiaan

Gerakan pro Palestina belakangan ini juga ramai disuarakan lewat aksi turun ke jalan yang diikuti ribuan demonstran di sejumlah kota Amerika Utara dan Eropa.  Mereka menggelar aksi unjuk rasa yang menyerukan supaya Israel mengakhiri serangan mereka di Jalur Gaza. Laporan AFP seperti dikutip CNN, sekitar 2.000 orang muncul di daerah Bay Ridge di Brooklyn, AS.

Para peserta aksi menyerukan tuntutan pembebasan terhadap Palestina seraya mengibarkan benderanya dengan membawa plakat bertuliskan "Akhiri Apartheid Israel" dan "Kebebasan untuk Gaza."

Selain di Brooklyn, unjuk rasa juga berlangsung di kota-kota lainnya, seperti New York, Boston, Washington, Montreal dan Dearborn, Michigan. Model dunia Bella Hadid, yang ikut menyuarakan dukungannya untuk masyarakat Palestina, pun menjadi sorotan publik. Melalui unggahan di Instagram, ia menjelaskan, alasan kemanusiaan yang mendorongnya ikut serta turun ke jalan dalam aksi solidaritas ini.

"Sebagaimana hatiku merasakannya. Untuk seluruh keindahan, kecerdasan, sikap hormat, mencintai, sikap baik dan murah hati Palestina semua di satu tempat, segalanya terasa utuh! Kami langka! Bebaskan Palestina hingga kebebasan Palestina!" ujarnya. 

Baca juga: TikTok Dalam Arus Krisis Palestina | Asumsi

Hasil survei yang dihimpun Gallup baru-baru ini, 75% orang Amerika masih berpihak kepada Israel terkait konflik ini, namun jumlah simpati masyarakat negara tersebut terhadap Palestina terus bertambah. 

Kelompok karyawan diaspora beragama Yahudi di Google juga menyerukan perusahaan untuk meningkatkan dukungannya terhadap warga Palestina di tengah suasana konflik yang kian memanas dengan Israel di Gaza.

Dalam sebuah surat internal, pekerja Google meminta CEO Sundar Pichai untuk mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan yang dilakukan militer Israel terhadap Palestina. Surat berupa petisi ini telah menerima 250 tanda tangan.

Sedangkan, dalam hasil survei terbaru Lembaga Indonesia Indicator, menyimpulkan, masyarakat Indonesia memang lebih berpihak kepada Palestina karena merasa memiliki kedekatan dengan mereka.

"Hal ini terlihat dari setiap ada isu tentang Palestina, masyarakat melalui medsos khususnya Twitter, seringkali bergolak dan mengajak "berjuang" untuk Palestina," kata Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, mengutip BBC

Dukung Palestina Tak Berarti Antisemitisme

Pakar Hubungan International dari Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja menilai, keberpihakan terhadap Palestina dalam konflik ini tak melulu bisa dianggap sebagai sikap antisemitisme. Begitu pula jika berpihak pada Israel, tak serta merta dikaitkan sebagai bentuk dukungan terhadap zionisme. 

Ia menjelaskan, antisemitisme merupakan tindakan kebencian bahkan pemusnahan etnis Yahudi yang termasuk di dalamnya tindakan genosida. Pelaku antisemitisme yang terkenal, kata dia, adalah Kelompok Nazi di Jerman. Sementara Zionisme merupakan gerakan nasionalisme yang berawal di Eropa, berbasis kebanggaan pada identitas Yahudi yang memang sempat digempur dan dihabisi di benua tersebut, dengan semangat membangun negara untuk bangsa Yahudi. 

"Gerakan tersebut disebut Zion karena menuju tanah yang mereka yakini sebagai tanah terjanji bagi bangsa Yahudi di daerah termasuk ada Gunung Sion. Nah, ini tidak ada kaitannya antara antisemitisme dan zionisme dengan mendukung Israel atau Palestina. Zionisme hanya berlaku bagi sebagian orang Yahudi, seperti halnya aliran politik, tidak semua orang keturunan Yahudi tertarik bergabung,” katanya.

Ia menambahkan, sikap antisemitisme bersifat ilegal karena melawan norma dan aturan internasional serta melanggar kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM). "Sangat disayangkan jika ada yang mengaitkan dukungan pada Palestina dengan mengobarkan kebencian dan pembunuhan pada bangsa atau suku lain. Padahal, tidak semua orang Yahudi itu garis keras," kata Dinna kepada Asumsi.co melalui pesan singkat, Rabu (19/5/21).

Menurutnya, konflik Israel dan Palestina sangat politis karena pada intinya adalah konflik eksistensi suatu negara. "Palestina, sejak bebas dari Inggris, belum menghirup kedaulatan dan Israel, dengan diplomasi serta aksi politiknya, bisa mendapatkan tanah yang diambil sebagian dari tanah Palestina," ucapnya.

Baca juga: TikTok Dalam Arus Krisis Palestina | Asumsi

Konflik Eksistensi

Dinna menuturkan, negara yang berbagi batas wilayah, seperti Israel dan Palestina, cenderung bersitegang soal batas negara. Terlebih, perbatasan mereka kondisinya zero-sum, yakni jika tanah perbatasan diambil memberikan efek ke kedaulatan dan perang. 

"Jangan lupa juga, negara-negara Timur Tengah itu juga tidak semua homogen kewarganegaraaanya. Israel, Palestina, Yordania, Lebanon termasuk yang cukup beragam komposisi etnis dan agamanya. Di Israel ada suatu partai yang cukup berpengaruh, yang berbasis etnisitas Arab, dan di Israel ada setidaknya 20%  penduduk Arab yg beragama Muslim. Mereka tidak mau juga pindah jadi warga Palestina," tuturnya.

Sementara itu, di Palestina, meskipun mayoritas Muslim Sunni, ada juga yang beragama Kristen dan Yahudi. Hal ini disebabkan gagalnya perjanjian damai 1992 Oslo yang kala itu Perdana Mentri Israel garis moderat Yitzak Rabin tewas dibunuh oleh warganya karena mau berdamai dengan Palestina.

"Di Israel maupun Palestina menguat aliran fundamental yang anti damai. Partai Likud, yang dipimpin Netanyahu, itu bukan satu-satunya partai fundamental di Israel, ada banyak partai lain. Awalnya Likud itu orientasinya nasionalisme saja, tapi karena kompetisi pemilu nasional makin ketat mereka bergeser makin ke kanan dan keras, apalagi di Palestina muncul Hamas," ujar mantan utusan Indonesia untuk Komisi HAM ASEAN ini.

Sementara itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana menambahkan, pro Palestina merupakan sikap dukungan terhadap kemerdekaan negara tersebut, meski nantinya Negara Palestina tidak hanya beragama Islam, tetapi juga termasuk Katolik dan Yahudi.

"Kemudian mendukung Israel bisa berarti mendukung eksistensi sebagai negara, tapi belum tentu mendukung kekejaman dan aneksasi wilayah yang dilakukan oleh pemerintah Israel," ucapnya melalui sambungan telepon.

Soal terjadi peningkatan tren dukungan masyarakat Yahudi di AS untuk kebebasan Israel yang tampak belakangan ini, menurutnya, disebabkan karena mereka tidak bisa melihat harkat dan martabat manusia di belahan bumi mana pun ditindas.

"Mereka mendukung karena tidak bisa melihat harkat martabat manusia ditindas dan dilecehkan. Sebenarnya tanpa embel-embel agama ataupun soal perebutan wilayah. Sikap masyarakat AS memang sensitif dan sebenarnya sudah lama juga bersikap seperti ini," ungkapnya.

Sementara di level pemerintahannya, kata dia, cenderung membenarkan tindakan Israel disebabkan lobi-lobi Yahudi di AS sangat kuat. Hal ini menyebabkan siapapun yang terpilih menjadi presiden di AS, meski bukan keturunan Yahudi, cenderung  membela kepentingan mereka.

"Termasuk di dalamnya eksistensi negara Israel. Di AS keturunan Yahudi atau yang beragama Yahudi meski minoritas tapi yang mengendalikan ekonomi," pungkasnya.

Share: Pro Palestina Bukan Berarti Anti Yahudi, Ini Alasannya