Budaya Pop

Crypto Art Jadi Tren Global, Indonesia Mulai Bangun Pasar

OlehRay

featured image
Foto: Instagram/@rach.galX

Crypto art atau seni kripto, belakangan lagi banyak dibicarakan orang, menyusul sejumlah seniman yang berhasil meraup pendapatan dalam jumlah besar dengan menjual gambar digital lewat seni kipto.

Salah satunya, seniman Amerika Mike Winkelmann atau yang dikenal dengan nama Beeple. Mengutip Detik.com ia berhasil menjual karya seni digitalnya dengan harga USD70 juta atau setara Rp980 miliar di rumah lelang Christie pada Maret lalu. 

Karya seni kripto yang terjual dengan nilai fantastis ini, berupa kolase dari 5.000 gambar individu yang dibuat satu per hari selama lebih dari tiga belas tahun. Pencapaian penjualan karya yang memiliki nama "Everydays - The First 5000 Days" ini, menempatkan Beeple di tiga besar artis paling berharga yang masih hidup. 

Sebenarnya, apa sih seni kripto itu? Apa hubungannya dengan cryptocurrency alias mata uang kripto, seperti bitcoin, ethereum, atau dogecoin yang kini juga lagi ramai dibicarakan publik? 

Baca juga: Mengenal NFT, Teknologi Kripto yang Bikin Aset Digital Jelas Pemiliknya

Mulai Diperkenalkan Tahun 2015

Asumsi.co sempat berbincang dengan Pam dari rach.galX, soal seluk beluk seni kripto. Ia menjelaskan, secara konsep seni kripto merupakan karya seni digital yang pendistribusian, penyimpanan, dan penukarannya melalui sistem blockchain dan transaksinya, menggunakan mata uang kripto.

"Kalau kita sekadar transaksi, misalnya aku punya karya seni digital ini lalu kamu transaksinya, membeli karya seniku pakai bitcoin, itu enggak otomatis disebut jadi crypto art. Crypto art ini memanfaatkan sistem blockchain. Jadi, aku harus simpan dulu karya seninya di blockchain. Sistem basic-nya dari cryptocurrency. Blockchain itu database sebenarnya. Dia sistem database penyimpanan dengan server di seluruh dunia," jelas Pam melalui sambungan telepon.

Dengan demikian, lanjut dia, karya seni ini hanya karya tersimpan secara resmi di sistem blockchain secara permanen. Bukan seperti saat mengunduh file lalu tersimpan di sebuah komputer, kemudian bisa digandakan ke komputer atau gawai lainnya. 

"Jadi bukan kayak file-nya dipindahkan dari komputer A ke komputer B, sama-sama ada file-nya di masing-masing komputer. Bukan seperti itu. Kalau begitu kan, sistemnya mengkopi digital biasa. Ini enggak sama dengan crypto art. Autentifikasi, serta jual belinya dilakukan di market place yang ada di blockchain. Ini jadinya terintegrasi ke sana," terangnya.

Ia mengatakan, karya seni kripto sudah mulai diperkenalkan secara global pada tahun 2015, seiring mulai terangkatnya tren mata uang kripto. Maka, transaksi karya seni ini, secara otomatis melibatkan mata uang tersebut.

"Ini kan sistem blockchain beririsan singkat dan dekat dengan mata uang kripto. Sistem yang pertama yang mata uangnya pertama kali dikenal itu bitcoin. Basic-nya disitu. Begitu mata uang kripto mulai ada, rasanya hidup kayak dipindahin ke dalam sistem blockchain. Nah, seni kripto itu pertama kalinya muncul di tahun 2015 sebenarnya di sistem blockchain, tapi distribusinya masih belum ada market place khusus untuk mendistiribusikan karyanya," tuturnya. 

Tantangan Membangun Pasar Crypto Art di Indonesia

Sistem autentifikasinya pada tahun 2017 yang dinamakan dengan smart contract. 

"Itu diterbitkannya sama mata uang kripto yang sejauh ini paling reliable itu ethereum. Bitcoin belum bisa, jadi harus pakai ethereum," ujar Pam.

Selepas diperkenalkan kepada seniman dunia di tahun 2017, barulah seni kripto fenomenal. Pameran seni internasional mulai tertarik menghadirkannya pada tahun 2018.

"Beberapa art fair internasional yang ternama, seperti Miami Art Week, balai lelang internasional juga mereka memulai diskusi panel secara khusus membahas blockchain, crypto art, cryptocurrency, masa depan galeri, hingga masa depan dunia seni seperti yang kita kenal sekarang," ucapnya.

Sedangkan di Indonesia, kata dia, baru mulai diperkenalkan kepada para pelaku seni pada akhir tahun 2020. Semestinya, seni kripto sudah mulai hadir di negeri ini setahun sebelumnya.

"Cuma gara-gara pandemi baru tren di Indonesia tahun lalu. Oleh sebab itu, karena baru mulai, di situlah pekerjaan kami. Kami harus membangun edukasi kepada pelaku seninya soal crypto art, gimana mereka bisa mengintegrasikan karyanya ke dalam blockchain, sekaligus juga memilihkan senimannya. Jujur, seniman di sini juga masih gagap ya, kecuali yang muda-muda yang memang sudah terbiasa hidup serba digital, mereka gampang mengintergasikannya. Kalau yang belum terbiasa, memang susah banget," jelasnya. 

Adapun rach.galX, kata Pam, membantu para pelaku seni bila ingin memasukkan karyanya ke blockchain. Hal yang paling menantang, menurutnya, menentukan pasar potensial yang tertarik membeli karya seni lewat sistem ini. Sementara, di luar negeri pasar seni kripto telah terdukasi dengan baik. 

"Kalau pelaku seninya juga enggak mau karyanya dilibatkan, enggak masalah juga sih. Kami tertantang mengedukasi pasarnya juga. Soalnya, kalau semua seniman masukin karyanya ke situ, bikin crypto art, tapi enggak ada pasarnya sama juga bohong ya. Kami enggak bisa mengandalkan pasar internasional. Maka, kami menbangun pasar di sini. Itu yang kami kerjakan," ungkapnya.

Ia menjelaskan, langkah membangun pasar yang dilakukan Rachel Gallery antara lain, menggelar roadshow mulai November hingga Desember 2020 di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Diawali dengan melakukan pendekatan kepada para senimannya.

"Memang harus diperkenalkan dulu ke mereka, ini tuh barang apa sih crypto art. Roadshow ke beberapa kota dan mendapat banyak masukan respons dari mereka. Setelah itu kami mulai roadshow secara personal ke kolektor-kolektor seni yang kami pikir punya interest ke dunia seni kripto. Selain itu, secara spesifik ke para kolektor kami juga lakukan webinar, serta workshop bareng komunitas tertentu," jelas Pam.

Berapa Harga Seni Kripto di Indonesia?

Upaya memperkenalkan seni kripto yang dilakukan rach.galX pun disambut baik. Meski pada awalnya cukup kebingungan, hingga mengetahui soal Beeple yang untung besar saat menjual karya seninya melalui jalur kripto. 

Baca juga: Nilainya Merosot, Inilah Sederet Risiko Mata Uang Kripto!

"Sewaktu, Beeple terkenal dan pencapaiannya diketahui seniman kita, mereka antusias. Hasilnya, pasar bagus yang kita dapatkan untuk jadi kolektor adalah mereka yang masih muda. Sedangkan, kolektor 40 tahun ke atas lebih susah," ungkapnya.

Pam mengatakan, harga seni kripto dapat dikatakan tidak terlalu mahal, dibandingkan karya seni biasa yg fisik untuk para kolektor seni. Bila dikonversikan nilai uang kripto dengan rupiah, sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta.

"Kisarannya rata-rata untuk satu edisi Rp5 jutaan. Kami mengeluarkan per edisi dan cuma merilis 20 edisi. Jadi, gambar yang sama ini cuma ada 20 dan enggak bisa diubah. Bisa diambil oleh 20 orang pemilik," katanya.

Sejauh ini, pihaknya sudah menaungi sekitar 20 orang seniman. “Kami perlu edukasi dulu mereka. Sejauh ini baru 4 seniman yang dikeluarkan karyanya lewat kerja sama dengan kami.”

Dirinya meyakini, proyeksi bisnis seni kripto di Indonesia menjanjikan untuk para seniman. Pasalnya, belakangan sudah banyak seniman yang juga diundang terlibat dalam pameran seni kripto di luar negeri.

"Buat segmen anak muda, mereka yang akrab dengan street art, pasti tahu Stereoflow. Ada karya mereka. Kalau dibilang saat ini kita ketinggalan, enggak juga. Kemarin ini sempat ada art fair crypto art di Beijing ada 3 orang seniman Indoneisa diundang, pameran di Singapura juga seniman kita diundang. Kita enggak ketinggalan kok, cuma masih banyak orang enggak pernah dengar saja," tandasnya.


Artikel ini telah mengalami ralat pada tanggal 1 Juni 2021

Share: Crypto Art Jadi Tren Global, Indonesia Mulai Bangun Pasar