Isu Terkini

Pertanyaan Bias Agama Hingga Seksis Nodai Wawancara LPDP dan TWK-KPK

OlehIrfan Muhammad

featured image
Foto: Kpk.go.id

Materi tes wawasan kebangsaan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi masih jadi sorotan. Bukan hanya karena tes tersebut mendepak sejumlah pegawai berintegritas di KPK, tapi juga karena materi pertanyaan yang mengada-ada. Terkini, eks-Jubir KPK Febri Diansyah menyebut kalau materi tes melecehkan perempuan.

​Dalam akun Twitternya, Febri menyebut kalau ada pertanyaan seperti "kenapa belum menikah", "apakah masih punya hasrat", "bersedia ndak jadi istri kedua", hingga pertanyaan "kalau pacaran ngapain saja?". Menurut Febri pertanyaan ini tidak pantas dan tepat diajukan kepada pegawai KPK untuk mengukur wawasan kebangsaan.

​"Demi transparansi, soal dan kertas kerja TWK tersebut harusnya dibuka," kata Febri.

Baca juga: Tes Wawasan Kebangsaan KPK Dipertanyakan Urgensinya

​Febri pun tak habis pikir kalau benar pertanyaan itu betul-betul ditanyakan. Ia berharap ada penjelasan yang lengkap dari KPK, BKN, dan Kemenpan tentang hal ini.

​"Sungguh saya kehabisan kata-kata dan bingung apa yang sebenarnya dituju dan apa makna wawasan kebangsaan," kata Febri.​

Pertanyaan berbias agama juga mewarnai tes tersebut. Misalnya pertanyaan soal doa qunut. Dalam khazanah ke-Islam-an, doa qunut pada salat subuh memang tidak dilakukan oleh semua madzhab dalam Islam. Madzhab Syafi'i seperti yang dianut kalangan NU misalnya mewajibkan doa qunut, namun lainnya tidak.

Pernah Ada Pertanyaan Serupa di Seleksi LPDP

​Namun, pertanyaan ini nyatanya tak hanya ditanyakan di TWK-KPK. Pada 2017, seorang konsultan gender dan HAM, Tunggal Pawestri pernah memantau pertanyaan bias agama, moral, dan seksisme seperti ini dalam beasiswa LPDP.

​Mengutip tulisannya di BBC Indonesia, dalam riset kecilnya Tunggal menemukan sejumlah pertanyaan berbau seksisme dalam wawancara LPDP. Pertanyaan seksisme itu dialami oleh para responden perempuan saja menyangkut siapa yang nanti akan menjaga anak, dan kerap muncul pertanyaan tentang kemungkinan nanti berpacaran dengan orang Barat, atau dalam bahasa mereka, 'bagaimana kalau nanti kecantol bule.'

​"Kamu kan cantik, nanti gimana kalau kamu ditaksir bule?​"

"Oke, jadi kamu mau kuliah di Belanda, mau cari pacar bule ya?"

"Oh, kamu masih single? Studi tentang gender sih ya..

"Apa jaminannya kamu akan kembali ke Indonesia? Bule kan sukanya perempuan kayak kamu."

​Sementara pertanyaan bias gender dan seksual terhadap para pelamar lelaki, antara lain: "Kamu kelihatan kemayu, kamu gay atau normal?"

Terkait bias agama, seorang calon responden dipertanyakan namanya yang dianggap berbau Kristen padahal responden seorang Muslim, sementara seorang responden yang beragama Kristen kaget karena diminta untuk mengutip satu ayat Alkitab. Ada pula responden perempuan yang dipertanyakan kenapa sekarang tidak berjilbab padahal di foto aplikasi beasiswa ia berjilbab, dan mengapa tidak diteruskan saja mengenakan jilbab.

Baca juga: Jadi ASN Hingga Diisukan Pecat Novel Baswedan dkk, KPK Makin Lemah?

Perspektif Ideologis yang Tidak Relevan

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), Gita Putri menilai kalau pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat TWK merupakan risiko ketika negara menggunakan perspektif ideologis saat menjalankan fungsinya.​

"Semua bias-bias yang paling purba keluar dan biasanya yang terdampak pertama adalah perempuan kemudian lanjut ke kelompok rentan lainnya," ucap Gita dikutip dari CNN Indonesia.

​Pertanyaan melecehkan perempuan, menurut dia, menunjukkan miskinnya pemahaman bagaimana aparat penegak hukum bekerja. Sekaligus melanggengkan anggapan bahwa perempuan kerap diposisikan sebatas fungsi dan peran organ reproduksinya belaka.

​"Praktik memposisikan perempuan seperti ini bukan hal baru di Indonesia," ucap Gita.

Sementara itu, menanggapi pertanyaan dengan bias agama, Nadirsyah Hosen, Ra'is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru yang juga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Monash menyebut kalau pertanyaan seperti doa qunut tidak bisa dijadikan parameter moderasi beragama serta wawasan kebangsaan.​

"Masak yang enggak baca qunut itu radikal dan intoleran? Jaga kewarasan kita, mas," kata pria yang akrab disapa Gus Nadir menanggapi pertanyaan pengikutnya di Twitter.

​Menurut Gus Nadir, para Kiai NU tidak pernah bilang mereka yang tidak membaca qunut adalah radikal. Justru para Kiai menghormati keragaman pendapat sebagai modal kita bersama merawat bangsa.

​"Jangan dipelintir atau dibenturkan apalagi dijadikan tes wawasan kebangsaan. Beda mazhab OK, yang jd masalah itu takfiri (perilaku mengkafirkan orang lain)," ucap dia.​

Share: Pertanyaan Bias Agama Hingga Seksis Nodai Wawancara LPDP dan TWK-KPK