featured

Isu Terkini

12 Feb 2018

Persekusi Biksu di Tangerang: Bagaimana Kisah Sebenarnya?

Winda Chairunisyah Suryani

Sebuah video yang menunjukkan seorang biksu sedang mebacakan surat pernyataan viral di media sosial. Dalam video tersebut, seorang biksu menyatakan sikap bahwa ia siap pergi meninggalkan tempat tinggal sendiri dan berjanji untuk tidak melakukan peribadatan bersama Umat Budha di kediamannya. Video yang diunggah oleh akun Facebook Niluh Djelantik dan akun Twitter @MProjo2019 pada Sabtu, 10 Febuari kemarin itu pun sontak menjadi sorotan warganet.

Ini apa2an????? Ini Persekusi sdh kelewatan, agama Budha itu agama yg di akui secara sah di Indonesia. Tdk boleh melakukkan Ritual?? Gmn pan menag @lukmansaifuddin @jokowi @DivHumasPolri Tolong berikan Hak Beribadah utk umat Budha, seperti agm yg lain,” tulis akun @Yettidewi.

Peristiwa diskriminasi terhadap kaum umat Budha ini seharusnya ada LBH yg membantu untuk mengembalikan hak-hak beragamanya. Hal ini tdk boleh dibiarkan dan perlu ditindak org2 yg melarang kegiatan ritual agama orang lain di Indonesia,” tulis akun @HusinShihab.

Iya mereka yang ada di situ gak sadar mereka juga suka beribadah di rumah. Kalau gini saya merasa malu sama mereka yang paling tau tentang agamanya sendiri sampe lupa mereka tinggal di negara yang mengakui 5 agama :(,” tulis akun @nasuhaalii.

Melihat banyak reaksi warga, kira-kira apa sih penyebabnya persekusi yang terjadi terhap Biksu di Tangerang?

Menurut keterangan Kapolres Tangeran Selatan AKBP Fadli Widiyanto, awalnya itu ada penolakan dari warga Kampung Babat, Desa Babat, Kecamatan Legok terhadap kegiatan keagamaan atau perkumpulan umat Budha yang dilakukan di kediaman Biksu/Banthe bernama Mulyanto Nurhali. Nah warga itu curiga, hunian pribadi tapi sering didatangi jemaat dari luar daerah.

"Ada penolakan dari masyarakat atas segala macam kegiatan keagamaan serta perkumpulan umat Budha di kediaman Mulyanto Nurhalim alias Biksu/Bhante karena rumah tersebut dihuni untuk tempat tinggal bukan dijadikan tempat ibadah," terang Fadli dilansir dari Detik.com pada Sabtu 10 Februari.

Lalu apakah BIksu Mulyanto tetap pindah dari rumahnya sendiri?

Setelah video itu viral, polisi dan seluruh elemen masyarakat setempat bermusyawarah. Ternyata, apa yang selama ini dicurigai warga tentang rumah pribadi yanng dijadikan rumah ibadah itu tidak benar. Rumah Mulyanto sering didatangi jemaat itu karena dalam kepercayaan Budha, seorang Biksu tidak boleh pegang uang, sehingga tiap Sabtu dan Minggu para jemaat mendatangi rumah Mulyanto untuk memberikan makan sekaligus minta didoakan. Setelah berembuk, hasil musyawarah itu sepakat bahwa rumah Biksu Mulyanto bukan rumah ibadah seperti kecurigaan warga.

"Hanya salah paham saja, sudah diselesaikan secara musyawarah dan sudah selesai," demikian Fadli.

Share: Persekusi Biksu di Tangerang: Bagaimana Kisah Sebenarnya?