Kesehatan

Sudahkah Kamu Berterima Kasih ke Diri Sendiri Hari Ini?

OlehRay

featured image
Foto: Unsplash

Terkadang, kita merasa lupa untuk berterima kasih dengan diri sendiri. Berterima kasih karena diri kita bisa menjaga kewarasan di masa sulit, berterima kasih karena imun yang ada di tubuh bisa bikin kita senantiasa sehat di tengah pandemi Covid-19, sampai berterima kasih atas kenikmatan hidup yang masih bisa dirasakan saat ini. 

Psikolog dari Enlightening Parenting, Okina Fitriani, bilang, batas berterima kasih terhadap diri sendiri dengan sikap narsis atau mencintai pribadi secara berlebihan, itu tipis banget, lho! Bagaimana caranya supaya kita berterima kasih kepada diri sendiri dengan tepat?

1. Sering Memaafkan Diri Sendiri 

Okina Fitriani mengatakan, pada prinsipnya manusia sudah memiliki naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Hal ini terlihat dari adanya mekanisme membela diri pada setiap individu.

"Orang sebenarnya enggak usah disuruh love yourself atau sadar untuk menghargai diri sendir,i karena secara tidak sadar mereka sudah melakukannya. Terlihat dari dia bisa marah kalau merasa dihina, direndahkan, atau tidak dianggap," jelas Okina kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Selasa (6/7/21). 

Menurutnya, justru saat seseorang mensugesti untuk mencintai dirinya secara berlebihan, bisa mengarahkan ke sikap narsisme. 

"Love yourself ini memang abu-abu dan bisa mengarah kepada narsis. Manusia sudah diberikan kemampuan oleh Tuhan, sebenarnya untuk bisa lebih mencintai diri kita dengan cara apa? Dengan sering memaafkan diri kita sendiri," terangnya. 

Baca Juga: Kenapa Sih, Pemerintah Terkesan Sulit Minta Maaf Soal Pelanggaran HAM Masa Lalu? | Asumsi

Ia bilang, banyak orang yang tidak sadar betapa pentingnya memaafkan diri sendiri, dan lebih suka menyalahkan orang lain atau keadaan, atas beban hidup yang dihadapinya.

Padahal, kata dia, sering memaafkan diri sendiri adalah kunci utama untuk bisa mencintai dan menerima diri sendiri atas kelebihan serta kekurangan yang dimiliki sebagai manusia.

"Makanya, ada orang yang menaruh dendam kepada orang lain ketika orang tersebut melakukan kesalahan kepada kita. Itu dasarnya karena kita belum memaafkan diri sendiri," ujarnya.

Okina menambahkan, orang yang mau memaafkan dirinya sendiri lalu mengimprovisasi dirinya yang secara mental, bisa selalu menjaga kesehatan jiwa. 

"Maafkan apapun yang perharinya terjadi di hidup kita, bikin kita merasa tidak baik-baik, kayak sepanjang hari dijutekin bos, naik ojek online driver ketus, maafkan. Let it go, sesimpel itu," ucapnya.

2. Mengapresiasi Diri

Okina menuturkan, hal kedua yang bisa menjadi cara berterima kasih dengan diri sendiri adalah, mengapresiasi diri dalam sudut pandang spiritual.

"Terkadang, kebanyakan orang menunggu diapresiasi orang lain. Kayak, masa suami sama anak enggak pernah memuji sih, atau pacar kita enggak pernah kasih pujian kita ganteng. Menurut saya, ini sikap drama individu saja. Kita suka lupa mengapresiasi diri sendiri secara spiritual. Seperti apa? Saat kita lagi beribadah salat buat Muslim, misalnya. Kita apresiasi diri kita dengan bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan sampai detik ini," tuturnya.

Menurut Okina, saat manusia sudah terbiasa mengapresiasi dirinya secara spiritual, maka ia bakal merasa tak butuh lagi dengan apresiasi atau pujian dari orang lain.

"Ini karena yang diharapkan adalah pahala dari Tuhan. Tuhan itu enggak pernah salah mengapresiasi umatnya, kok. Itu akan ditunjukkan Tuhan kayak kita dapat rezeki lebih, misalnya," imbuhnya.

Baca Juga: Mungkinkah Penderita Covid dengan Saturasi Oksigen Rendah Tidak Sesak Napas? | Asumsi

Sementara itu, Psikolog dari Personal Growth, Ratih Ibrahim, menambahkan, mengapresiasi diri ini bisa dilakukan dengan cara menjadi manusia yang realistis dengan kemampuan, dan segala yang dimilikinya.

"Be realistic supaya enggak over. Kemudian menerima hidup kita saat ini, maka akan muncul sikap mengapresiasi diri kita. Inilah yang dinamakan gratefulness," ucap kepada Asumsi.co, melalui pesan singkat.

Hal yang harus diperbaiki, pentingnya memurnikan niat saat melakukan sesuatu. Greatfullness itu hal yang paling baik untuk kesehatan mental. Bersyukur dengan apa yang kita miliki. Orang yang bersyukur, pasti enggak akan sempat mengeluh. Orang yang bersyukur, pasti enggak akan sempat mempertanyakan dirinya. Ia akan lebih sibuk mengimprovisasi dirinya menjadi manusia yang lebih baik. 

3. Meluruskan Niat Hidup

Terakhir, Okina menyarankan agar bisa berterima kasih kepada diri sendiri bisa dilakukan yakni, meluruskan niat hidup dengan tidak banyak mengeluh.

"Caranya gimana? Buat jurnal rasa syukur selama 1 bulan. Ini selalu saya sampaikan saat jadi pembicara, dan banyak yang merasa efektif menjaga kesehatan mental dan emosinya membaik. Ini saya suka sebut teknik cuci otak dan cuci hati," jelas Okina.

Adapun jurnal rasa syukur ini, lanjut ia, bisa dilakukan dengan teknik menulis seperti buku diary, merekamnya lewat voice note atau video di gawai.

"Cukup 5 menit saja, duduk menulis jurnal atau bisa lewat voice note sampaikan apa yang kita syukuri sampai hari ini. Bentuknya, bercerita dan jadikan itu arsip dan kita baca atau dengarakan lagi saat kita emosinya lagi down. Itu bisa dibuka dan punya pengingat kalau kita orang yang enggak lupa bersyukur dalam hidup. Ini bisa bikin kita enggak putus asa. Bisa juga lewat video sambil ngomong kayak vlog, tapi buat arsip kita sendiri," terangnya.

Neurolog dari RS Universitas Indonesia (RSUI), dr Pukovisa Prawiroharjo, menyebutkan, cara kita untuk bisa meluruskan niat hidup dalam aspek kesehatan otak, dapat dilakukan dengan menanamkan sugesti secara rohani, yang bertujuan untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga. 

"Dengan demikian, rasa berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan dan diri sendiri, akan meningkatkan emosi yang positif, memperbaiki mood, memperbaiki kualitas tidur dan hidup, meningkatkan sistem imun, menjaga kesehatan sistem sirkadian, dan menurunkan tekanan fisik yang menyebabkan nyeri di tubuh serta gelisah," tandas Pukovisa.

Share: Sudahkah Kamu Berterima Kasih ke Diri Sendiri Hari Ini?