Covid-19

Mungkinkah Penderita Covid dengan Saturasi Oksigen Rendah Tidak Sesak Napas?

Ilham — Asumsi.co

featured image
unsplash

Baru-baru ini, sempat viral cuitan akun @jnhdnt yang menulis, bahwa seorang temannya dilarikan ke rumah sakit, karena Covid-19. Namun, menurut akun tersebut, temannya tampak gejala ringan, tidak sesak. Dan sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit, temannya sempat isolasi mandiri di rumah dan sempat cek saturasi sudah mençapai 48%.

Menurut dr Kemas Abdurrahim dari RSCM dr Cipto Mangunkusumo seharusnya, pasien tersebut mengalami sesak napas. Ia heran, apabila di bawah saturasi 90% tidak sesak napas.

“Jika kurang dari 90%, dianggap saturasi oksigen rendah di mana orang tersebut membutuhkan suplementasi oksigen eksternal,” ucap Kemas, saat dihubungi Asumsi.co, Selasa (6/7/2021).

Baca Juga: Merasa Cemas dan Takut Selama Pandemi Covid-19, Bagaimana Solusinya? | Asumsi

Inilah yang banyak dikenal sebagai happy hypoxia atau lebih akuratnya silent hypoxia, sebuah kondisi saat seseorang mengalami saturasi oksigen kurang dari 90% namun tetap dapat beraktivitas seperti biasa hanya dengan sedikit keluhan.

Bila terjadi, silent hypoxia ini sangat berbahaya. Tanpa oksigen yang cukup, otak, ginjal, dan berbagai organ dalam tubuh dapat rusak hanya dalam beberapa menit setelah gejala dimulai. Bila kadar oksigen dalam darah terus menurun, organ-organ tersebut dapat mati dan ini bisa mengancam jiwa. Ditambah lagi apabila dia juga mengalami covid-19. 

Kemas menambahkan, bisa jadi apa yang terjadi pada kasus tersebut juga adalah happy hypoxia. Untuk itu ia menyarankan bila tidak ditangani segera, apalagi pengidap Covid-19 untuk mewaspadai gejala kondisi tersebut. 

“Segera kunjungi rumah sakit bila mengalami gejala-gejala seperti batuk, denyut jantung meningkat atau melambat, nafas menjadi cepat, sesak napas, berkeringat, dan penurunan kesadaran,” katanya.

Apa yang Terjadi Ketika Saturasi Oksigen Turun?

Menurut Kemas, umumnya orang normal saturasi oksigennya melebihi 90%. Jika di bawah, akan mengakibatkan sesak napas, hipoksemia. Di antaranya sakit kepala, detak jantung cepat, batuk, sesak napas, mengi, kebingungan, dan kebiruan pada kulit serta selaput lendir (sianosis). 

Sianosis adalah kondisi patologis yang ditandai dengan saturasi oksigen yang sangat rendah.

Pertolongan Pertama

Kemas menjelaskan, apabila terjadi sesak napas dikarenakan saturasi rendah, perlu melakukan prone. Prone adalah melakukan posisi tengkurap dengan meletakkan bantal atau guling di pergelangan kaki dan perut agar punggung terasa rileks.

Berdasarkan hasil penelitian, posisi ini dapat meningkatkan oksigenasi tubuh. Lakukan prone selama 30 menit. Lalu prone kedua, posisikan tubuh setengah duduk, bisa dilakukan ditempat tidur. Hal ini bisa dilakukan selama 30 menit.

Baca Juga: Mengkaji Efektifitas PCR Metode Kumur | Asumsi

Selain itu, bisa menambahkan latihan pengembangan dada atau chest expansion, dengan cara tarik napas melalui hidung dan buang lewat mulut. Lakukan secara perlahan 10 sampai 15 kali. Lakukan hal ini secara bergantian, lalu cek saturasi oksigen lagi. Jika sudah cukup membaik, ia menyarankan untuk cek suhu tubuh, tensi, dan nadinya. 

“Makan obat sesuai petunjuk dokter, jemur pagi hari pukul 10.00 sekitar 20 sampai dengan 30 menit. Penting untuk menghindari makin gawat, atau munculnya cytokine storm (terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat. Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga menyebabkan peradangan),” katanya.

Tak hanya itu, yang paling penting ketika mengetahui saturasi rendah adalah dengan makan yang cukup dan tetap berfikir positif. “Makan harus dipaksakan. Jangan lupa tetap semangat,” imbuh Kemas.

Share: Mungkinkah Penderita Covid dengan Saturasi Oksigen Rendah Tidak Sesak Napas?