Kesehatan

Merasa Cemas dan Takut Selama Pandemi Covid-19, Bagaimana Solusinya?

OlehIlham Anugrah

featured
Ilustrasi orang cemas terhadap Covid-19. Foto: Unsplash

Merasa cemas takut selama pandemi adalah hal yang wajar dan dialami oleh setiap orang. Apalagi, jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 terus bertambah. Kecemasan dan rasa takut ini, pada akhirnya berdampak pada aktivitas harian, karena pikiran sulit tenang.

Survei Meter melakukan penelitian pada 21 – 31 Mei 2020 dengan 3.533 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Berdasarkan survei, tingkat cemas pada usia 31-40 tahun 58%, lalu usia 41-50 hanya 51%, sedangkan di usia 20-30 tingkat kecemasan 56%.

Kecemasan itu berbanding terbalik dengan pendidikan responden. Pendidikan di antara SD sampai SMA mengalami kecemasan 64%, sedangkan 56% di Universitas.

Sedangkan bagi yang menganggur, kecemasan paling tinggi mencapai 68%, sedangkan mereka yang bekerja WFH 32%.

Sementara survei yang dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia dari 5.661 orang, di 31 provinsi antara 4 April dan 7 Oktober 2020, menunjukkan, 68,4% responden mengalami masalah psikologis. Mayoritas responden berusia dewasa muda, yaitu 20-29 tahun.

Dari jumlah responden tersebut, 67,4% mengalami gangguan cemas, 67,3% depresi, dan 74,2% mengalami trauma psikologis.

Baca Juga: Mengkaji Efektifitas PCR Metode Kumur | Asumsi

Menurut Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri PP PDSGKJI, dr. Khamelia Malik Sp.KJ, bahwa kecemasan masyarakat sebetulnya sebelum PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Namun, semakin panjang pelaksanaan pembatasan, kecemasan meningkat. Apalagi pandemi belum bisa dipastikan kapan berakhir,” ujar Khamelia dalam siaran daring.

Menurutnya, depresi biasanya muncul dalam bentuk gangguan tidur. Biasaya, mereka merasa sebagai orang yang gagal atau mengecewakan diri dan keluarga, serta kurang bergairah dalam melakukan apa pun.

Sedangkan, gejala trauma psikologis yang sering muncul adalah keluhan berupa waspada terus-menerus dan merasa sendirian, atau terisolasi. Bahkan, hasil swaperiksa itu juga menunjukkan 48% responden memikirkan tentang kematian dan melukai diri.

Banyaknya masalah psikologis itu menunjukkan masalah ini juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Oleh karena itu, diperlukan ketangguhan mental untuk mengatasinya.

Sedangkan UNICEF, melakukan survei di enam kota besar di Indonesia, dengan 2.000 responden pada November 2020. Hasil survei menunjukkan, 69,6% responden di enam kota tersebut mengaitkan virus corona dengan aspek negatif seperti, berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit.

"Ketakutan jika dimanfaatkan dengan benar, bisa mengarahkan ke perilaku yang lebih baik. Karena kalau tidak diolah dengan baik, ketakutan ini hanya akan jadi ketakutan saja, tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku," kata Rizky Ika Syafitri, Communications Development Specialist UNICEF, dilansir dari Suara.

Rizky menyarankan, untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perubahan perilaku ini. Lalu, penting juga untuk mengetahui media penyalurannya yang tepat.

Baca Juga: Menelaah Kandungan Kelapa Muda Sebagai Penangkal COVID-19 | Asumsi

Sumber informasi yang paling dipercayai masyarakat mengenai virus corona ini adalah media massa televisi, kemudian diikuti oleh koran, radio, media sosial, WhatsApp Group, pemberitaan media online, dan situs internet.

"Jadi, kalau untuk perubahan perilaku, kita cari tahu yang terpercaya. Asumsinya masyarakat akan melakukan perubahan. Televisi masih menjadi salah satu penyaluran terkuat untuk dimanfaatkan. Yang menarik juga di sini, tokoh masyarakat dan tokoh agama masih didengarkan oleh masyarakat," ujar Rizky

Menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana, Intan Savitri, bahwa takut dan cemas adalah kondisi psikologis yang seringkali dianggap sama, padahal berbeda.

“Takut itu adalah termasuk dari  emosi  dasar yang pada dasarnya dalam level tertentu atau level proporsional justru dibutuhkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi yang dapat merugikan individu yang merasakannya,” ucap Intan saat dihubungi Asumsi.co, Senin (5/7/2021).

Ia menambahkan, emosi takut beda dengan cemas. Takut itu hal yang ditakutkan jelas ada sumbernya. Misalnya takut ular, atau takut terpapar Covid-19, nah sumber takutnya jelas, ular atau terpapar Covid-19.

Sedangkan cemas, kata Intan, itu adalah emosi yang dirasakan pada sesuatu hal yang belum jelas terjadi atau belum tentu terjadi (rentang waktunya adalah masa depan, atau waktu yang akan datang). Misalnya, setelah digigit ular, cemas bahwa ia akan meninggal, atau setelah terpapar Covid-19 cemas akan meninggal

“Padahal, belum tentu. Nah kecemasan yang tinggi akan menyebabkan hadirnya hormon yang kurang menguntungkan seperti hormon kortisol yang jika berlebihan, sangat merugikan. Namun, pada level tertentu takut juga bisa memacu produktivitas, misalnya takut akan datang terlambat di ujian, maka pada level sehat ketakutan akan membuat seseorang lebih sadar akan risiko dan kemudian melakukan perilaku persiapan. Nah, jika sumbernya jelas disebut takut, sumber tidak jelas atau belum terjadi disebut cemas, jika berlebihan akan menimbulkan gangguan psikologis,” katanya.

Bagaimana Agar Rasa takut Tidak Berubah Menjadi Cemas Berlebihan

Intan menyarankan, untuk mengatasi agar rasa takut tidak berubah menjadi cemas adalah mengelola emosi atau melakukan regulasi emosi. Mengelola bukan berarti menghindar ya, tetapi justru menghadapi dengan kesiapan kognisi yang cukup.

“Kita takut terpapar Covid-19 berarti kita menghadapi rasa takut itu, dengan mencari informasi cara agar tidak terpapar dan melakukan saran-saran tersebut. Memakai masker (dobel), menjaga jarak fisik, mencuci tangan tidak berkerumun. Jika sudah melakukan hal-hal tersebut, seharusnya rasa takut tidak meningkat menjadi kecemasan,” tutur Intan.

Baca Juga: Masyarakat Borong Susu Beruang, Ini Pendapat Sosiolog dan Ahli Gizi | Asumsi

Menurutnya, menghindari melihat berita dan media sosial yang berisi tentang Covid-19 ada untung dan rugi. Untungnya, kita menjadi berkurang rasa cemasnya, namun mungkin juga menjadi kurang awareness atau kurang kesadarannya.

“Sehingga, mungkin jadi lupa pakai masker, atau lupa menjaga jarak. Jadi proporsional saja dalam mengomsumsi informasi ya,” kata perempuan yang juga penulis buku ini.

Bagaimana Solusinya?

Intan berpendapat, selama PPKM Darurat kita memang diminta untuk di rumah saja, bekerja dari rumah, belajar dari rumah. Sebenarnya banyak aktifitas positif yang bisa dilakukan saat di rumah, selain bekerja sebagaimana tuntutan dari pekerjaan/sekolah/kuliah.

“Untuk meningkatkan imunitas, tetap harus berolahraga. Saat ini, banyak platform olahraga yang mengajarkan bagaimana berolahraga di rumah yang aman,” ucapnya.

Sementara untuk menghibur diri, tentu bisa dilakukan dengan cara membaca buku, menonton film yang sehat, menonton tontonan humor (humor dan tawa secara sains juga dapat meningkatkan kebahagiaan, yang berarti imunitas juga meningkat karena memunculkan hormon endorphin).

Hal lain yang harus tetap dilakukan adalah berinteraksi sosial, meski lewat media sosial atau telepon seluler. Kamu bisa silaturahmi dengan saudara yang tinggal di luar rumah, teman-teman, sahabat, orang-tua yang tidak tinggal serumah, juga dapat meningkatkan rasa bahagia, karena merupakan perilaku dukungan sosial.

“Main game juga boleh. Tapi tetap harus proporsional dan dikelola dengan baik, agar tidak masuk dalam kategori kecanduan (sudah terganggu emosi, hubungan sosial, dan target pencapaian hidupnya). Enjoy aja ya! Kita akan terbiasa InsyaAllah,” imbuh Intan.

Share: Merasa Cemas dan Takut Selama Pandemi Covid-19, Bagaimana Solusinya?