Sebagai bagian dari media bonafide yang tak tertandingi, redaksi kami menanggapi setiap persoalan politik Indonesia dengan raut wajah serius. Mulai dari skandal korupsi teranyar, bharatayuddha antarlembaga negara, seleksi pemegang jabatan tinggi, hingga rancangan kebijakan mengkhawatirkan, Asumsi.co niscaya berdiri paling depan dengan tangan kiri terkepal.
Hanya, ada kalanya kami mesti berjongkok. Ada kalanya peristiwa politik di negeri ini kelewat ajaib dan hanya patut direspons dengan kekagetan dan tawa terbahak-bahak.
Kami berbicara tentang skandal-skandal raksasa yang dibumbui oleh subplot menggelikan, kameo mengejutkan, serta dipenuhi detail asyik yang penting-gak-penting. Kami berbicara tentang kisah-kisah menggemparkan yang lebih absurd dari episode Veep. Kami berbicara tentang momen-momen di mana aparatur negara menyajikan drama kelas wahid.
Inilah sepuluh skandal politik paling bombastis pilihan Asumsi.co selama satu dekade terakhir.
Tenis bersama Gayus Tambunan
Kilas balik ke November 2010. Agus Susanto, fotografer Kompas, sibuk memotret pertandingan tenis antara Yanina Wickmayer kontra Daniela Hantuchova. Tak sengaja, ia mendapati manusia berambut palsu duduk manis di bangku penonton. Tampangnya familiar: Gayus Tambunan.
Tentu saat itu Gayus seharusnya berada di dalam penjara. Bekas pegawai di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan itu dibui karena melakukan suap dan penyalahgunaan wewenang. Meski cuma PNS golongan IIIA, hartanya disebut-sebut mencapai miliaran rupiah.
Ketika foto Gayus dipublikasikan, Indonesia geger. Dia bukan politikus atau pebisnis besar, tapi dapat nyelonong keluar penjara seenak jidat. Dan yang paling mantap, sambil menonton tenis, Gayus sempat-sempatnya berselfie ria.
Insiden tenis itu bahkan bukan kali terakhir Gayus terpergok keluyuran. Tersiar kabar bahwa ia dibantu calo untuk pelesir keluar negeri–menjelajahi Malaysia, Singapura, dan surga judi Makau.
Tak heran bila pada 2011 musisi Bona Paputungan mewabah dengan lagu sarkas “Andai Aku Gayus Tambunan” yang meratapi lembeknya penegakan hukum di Indonesia. Tentu ada selapis ironi tambahan: Bona adalah eks-napi.
Skandal Daging Berjanggut
Apakah ini novel hasil kolaborasi Yusi Avianto Pareanom dengan Azhari Ayub? Sayangnya tidak. “Skandal Daging Berjanggut” adalah julukan bombastis Tempo untuk kasus suap impor daging yang membelit presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq.
Pada awal 2011, Kementerian Pertanian mendadak memangkas kuota impor daging sapi Indonesia, kabarnya guna mendorong swasembada daging lokal. Keputusan ini bikin pengusaha daging lokal kalang kabut, apalagi ada desas-desus bahwa kuota ini “dibagikan secara tidak adil” oleh makelar yang dekat dengan pihak kementerian.
Makelar yang dekat dengan petinggi PKS diklaim bisa mengusahakan izin dan kuota impor khusus bagi para pengusaha. Bola pun bergulir: pada Januari 2013, penyidik KPK memergoki seorang pemberi suap sedang main gila di sebuah kamar hotel di Jakarta. Ada dugaan keras bahwa pasangan mainnya disediakan sebagai gratifikasi seks.
Perbuatan daging telah nyata, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu. Amin.
Kisah Penebusan Mahfud MD
Kami pernah menjabarkan betapa karier politik Mahfud MD mirip tragedi. Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu seakan dikuntit oleh harapan palsu. Lebih dari satu dekade lalu, ia hampir jadi salah satu menteri Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Adapun pada 2014, ada rumor ia akan didapuk jadi cawapres Joko Widodo. Keduanya, kita tahu, tak terjadi.
Namun, peristiwa paling sensasional terjadi menjelang Pilpres 2019. Mahfud dianggap sebagai kandidat terkuat untuk mendampingi petahana Joko Widodo. Pada Agustus 2018, ia diundang ke rumah Mensesneg Pratikno dan diminta bersiap. Mahfud bahkan sudah diminta menjahit kemeja putih khas Jokowi untuk pengumumannya.
Seperti sebuah episode Game of Thrones, ada pelintiran cerita di akhir. Kamp Jokowi ditekan habis-habisan oleh sejumlah politikus yang gerah karena merasa tak terwakili di lingkar kekuasaan. Jelang sebuah rapat tertutup di Jakarta, selagi Mahfud MD menanti dan menanti, tersiarlah kabar bahwa Jokowi telah berkompromi: Ma’ruf Amin terpilih mendampinginya.
Ada akhir yang agak bahagia bagi Mahfud MD: ia dilantik jadi Menkumham di kabinet teranyar Jokowi. Saat mendengar pernyataan-pernyataannya sebagai menteri, masihkah kita terbayang wajah semringah dan lambaian riang Mahfud ke kamera pada hari pengumuman kabinet?
Cicak vs Buaya. Lagi dan Lagi.
Ali vs Frazier. Batman vs Superman. King Kong vs Godzilla. Gallagher vs Gallagher. Mau jadi apa kita bila hidup tidak disemarakkan oleh perseteruan brutal antara dua rival abadi? Kata orang, dua tangan diciptakan untuk baku hantam. Baiklah. Namun, tentu beda urusan jika yang bersitegang adalah dua institusi negara yang harusnya saling membantu.
Cicak vs Buaya adalah julukan untuk serangkaian konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Setelah Cicak vs Buaya 1 dan Cicak vs Buaya 2: Electric Boogaloo, pada 2015 tersaji duel ketiga antara dua kubu adidaya ini.
Muasalnya adalah penetapan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri pada Januari 2015, menggantikan Komjen Sutarman. Pelantikan Budi Gunawan kontroversial sebab dua perkara: pertama, ada dugaan bahwa ia diangkat atas desakan kamp PDI-P selaku partai yang berkuasa. Dan kedua, tak lama setelah terpilih, Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana korupsi oleh KPK.
Sehari setelah KPK mengumumkan status tersangka Budi Gunawan, 60 anggota Sabhara dan Intel menggeruduk kantor KPK di Jakarta. Menambah lapisan drama, salah seorang pimpinan KPK, Abraham Samad, tiba-tiba tersandung skandal seks. Tersiar luas foto ia sedang bersedap-sedap dengan seorang kontestan Putri Indonesia. Belakangan diketahui bahwa foto tersebut hasil rekayasa.
Pada 23 Januari 2015, persoalan semakin runyam setelah Badan Reserse Kriminal Mabes Polri mengirim selusin pasukan bersenjata lengkap untuk menangkap Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto.
Tentu saja, perseteruan ini berakhir secara kekeluargaan. Kedua pihak sepakat bahwa mereka bersikap berlebihan. Para perwakilan berjumpa di sebuah kafe, berpelukan, dan sejak itu mereka bahu membahu memerangi korupsi dan segenap rakyat Indonesia hidup bahagia selama-lamanya.
Tapi bohong.
Akil Sejak Dalam Pikiran
Pada September 2013, para penyidik KPK mendapat informasi menarik. Dalam waktu dekat, akan ada tamu spesial di rumah Ketua MK Akil Mochtar di Jakarta.
Benar saja, pada 2 Oktober, suami seorang anggota DPR dari fraksi partai Golkar menyambangi kediaman Akil di kompleks Widya Chandra. Ketika penyidik KPK menggerebek rumah Akil, sang Ketua MK tengah menerima uang sebanyak tiga juta dolar secara illegal.
Penyelidikan terhadap Akil Mochtar mengungkap kebiasaan busuk sang hakim: ia rutin menerima suap dan gratifikasi dari berbagai pihak untuk menuntaskan pelbagai sengketa Pilkada di MK. Seperti dikabarkan Kompas, rekening Akil membengkak berkat dana suap sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas (Rp3 miliar), Kalimantan Tengah (Rp3 miliar), Lebak (Rp1 miliar), Empat Lawang (Rp10 miliar dan USD500.000), kota Palembang (Rp3 miliar), Provinsi Jawa Timur (Rp10 miliar), dan masih banyak lagi.
Skandal terungkap dan Akil dituntut hukuman seumur hidup. MK diguncang skandal peradilan terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
Kutukan Kemenkominfo
Bila pemerintahan kita adalah Hogwarts, Menkominfo adalah pengampu kelas Pertahanan Melawan Ilmu Hitam. Pos tersebut luar biasa penting dan semestinya diisi oleh tokoh yang cerdas, inovatif, dan lihai mengatasi tantangan-tantangan era digital. Namun…
Kita lupakan sejenak Tifatul Sembiring dengan pertanyaan-pertanyaan retorisnya yang mahaburuk, juga posisi moralisnya yang kurang pantas. Tepikan juga kepepimpinan medioker Rudiantara yang diwarnai oleh serangkaian penangkapan semena-mena akibat UU ITE. Mari kita berbicara tentang Johnny G. Plate.
Belum lama ini, sebuah akun palsu yang mengatasnamakan Kemenkominfo muncul di situs syur Pornhub. Semua orang yang berakal sehat akan menganggap ini sebagai lelucon dan segera melupakannya. Tetapi tidak Menkominfo yang sekarang. Lembaga yang dipimpinnya membuat siaran pers resmi, menuduh industri porno global tengah memerangi Indonesia, dan mengirim surat protes resmi kepada Pornhub. Menteri Johnny G. Plate bahkan meminta Pornhub untuk menghalang-halangi netizen Indonesia mengakses situs tersebut sekalipun sudah menggunakan VPN.
Pak John, pertama, tidak ada kantor resmi Pornhub di Indonesia karena situs tersebut diblokir. Kedua, bukan begitu cara kerja Internet. Bahkan Dr. Bernard Mahfoudz yang serbabisa sekalipun tak dapat mengakali lalu lintas internet global.
Permintaan keras kepala Menkominfo kepada Pornhub adalah momen “Ok boomer” terbaik sepanjang 2019.
Papa Main Sinetron
Ah, Setya Novanto. Selayaknya Scorpio sejati, ia adalah pengejawantahan drama.
Pada 2015, ia tersandung skandal Papa Minta Saham. Setnov diduga meminta saham perseroan sebesar 20 persen dan jatah 49 persen saham proyek PLTA Urumuka Papua kepada PT Freeport Indonesia. Lebih parah lagi, ia dituding mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Skandal ini memaksanya mundur sebagai Ketua DPR. Setelah menepi sejenak, ia diangkat lagi pada 2016. Epic comeback!
Setahun kemudian, Setya Novanto kembali dirundung kontroversi ketika namanya disebut-sebut dalam skandal korupsi E-KTP. Pada Desember 2017, penyidik KPK ramai-ramai menggerebek kediamannya di daerah Jakarta Selatan, tetapi beliau seakan telah moksa. Alangkah naasnya, pada 16 Desember, ia dikabarkan menabrak tiang listrik dan dirawat di RS Permata Hijau. Alamak, ada bakpao di kepalanya!
Tak hanya menghadirkan banjir meme dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tiang listrik, kemunculan gemilang Friedrich Yunadi selaku kuasa hukum Setnov pun berujung pada video brilian ini.
We love you, Papa. Jangan pernah berubah.
Wiranto Lulus Cum Laude, Lho
Apakah ini perkara paling penting sepanjang 2017? Tentu tidak. Namun, justru karena kesepeleannya, detail kasus ini patut kita apresiasi.
Pada 2017, Prof. Djaali diberhentikan dari jabatannya sebagai rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) atas dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan perkuliahan. Hal ini terkesan remeh, sampai kamu tahu siapa mahasiswanya.
Program pascasarjana UNJ diikuti oleh nama-nama mentereng seperti Sylviana Murni (calon Gubernur DKI Jakarta 2017), Abdul Hadi Djamal (politikus PAN), Andi Nurpati (politikus Partai Demokrat), Nur Alam (Gubernur Sulawesi Tenggara), dan Fahmi Idris (politikus Golkar).
Namun, bukan mereka murid paling berprestasi sepanjang sejarah pascasarjana UNJ. Sosok jenial dan menggugah sukma itu adalah Wiranto, yang lulus dengan status cum laude berkat disertasinya: “Pengaruh Rekrutmen, Seleksi, Kompetensi dan Kebijakan Terhadap Perubahan Kondisi Nasional.” Tampan bercahaya.
Kamu pasti tidak kaget saat tahu bahwa banyak kejanggalan dalam proses kelulusan para politikus ini. Disertasi mereka terindikasi plagiat, bahkan sulit diakses publik di pusat data UNJ sebagaimana semestinya. Tetapi tentu tidak dengan Wiranto. Mahakarya akademiknya tak akan lekang dimakan waktu. Ariel Heryanto, who?
Gurita Yang Membelit Cikeas
Ada banyak keganjilan di balik bail-out Bank Century pada tahun 2008 silam. Pertama, suntikan dana terhadap bank tersebut membengkak ratusan persen mencapai angka triliunan rupiah. Kedua, proses pengambilan keputusan untuk menyelamatkan bank yang hendak pailit tersebut dicurigai penuh kongkalikong.
Bila Century adalah orang, “konflik kepentingan” adalah nama tengahnya. Boedi Sampoerna, seorang pengusaha kelas kakap yang dikenal dekat dengan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), merupakan salah satu nasabah terbesarnya. Boediono, yang kemudian menjabat Wapres, juga dituduh gagal memberikan pengawasan yang sepatutnya terhadap kinerja Bank Century dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Bank Indonesia.
Beberapa tahun kemudian, kisah sempalan dihadirkan oleh eks Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Pengacara Anas mengaku bahwa kliennya pernah menerima instruksi untuk mencegah Pansus Kasus Century mengusik SBY, baik secara hukum maupun politik. Ungkapan sensasional ini tentu mendobrak pemahaman publik tentang keterlibatan sang eks Presiden dalam salah satu skandal terbesar Indonesia itu.
Sebagai tambahan, di tengah pemeriksaan intens oleh KPK, Anas mendadak minta dipulangkan dan berhenti diinterogasi. Alasannya? Sakit gigi. Mengunjungi dokter gigi acap kali terasa seram, tapi yang lebih seram… banyaaak.
Skandal E-KTP
Dalam hal bobot drama dan skala, sulit mencari yang lebih dahsyat ketimbang skandal E-KTP. Pada 2017, KPK mengungkap dugaan korupsi besar-besaran dalam proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) di Kementerian Dalam Negeri tahun 2011-2012.
Rangkaian sidangnya menyeret nama-nama besar seperti Menpora Andi Mallarangeng dan Irjen Djoko Susilo dari Polri. Uang yang dirampok dari anggaran raksasa proyek tersebut–mencapai Rp5,9 triliun–rencananya akan dibagi-bagikan kepada 70 orang dan enam perusahaan yang dihajar satu per satu oleh KPK.
Ketika penyidikan KPK diungkapkan ke publik, ditaksir bahwa kerugian negara akibat skandal tersebut mencapai Rp2,3 triliun. Itulah kerugian terbesar sepanjang sejarah penanganan korupsi pengadaan oleh KPK.
Oh, dan tentu saja, skandal itulah yang di kemudian hari memberi kita spinoff berupa insiden tiang listrik vs Setya Novanto. Iya, iya, sudah kami ceritakan di atas. Tapi saking lucunya, kami harus sebut dua kali.