Covid-19

Disebut Buatan Yahudi, Ini Asal Usul Masker yang Sebenarnya!

OlehRendi Widodo

featured image
Foto: Unsplash/Mark Konig

Baru-baru ini jagat netizen dikejutkan dengan pernyataan Ustaz Ihsan Tanjung yang menuai sorotan. Pasalnya ia mengaitkan aturan penggunaan masker selama pandemi dengan kaum Yahudi.

“Ini merupakan ambisi kaum Yahudi untuk melihat umat Muslim untuk tidak berukhuwah Islamiyah,” katanya, dikutip dari Pikiran Rakyat melalui unggahan channel YouTube Berislam Channel pada Kamis, (29/4/21).

Dalam video yang berjudul “Ustadz Kembali Bahas Sholat Dist4ncing - Ustadz Ihsan Tanjung” Ustaz Ihsan menilai, kebijakan menggunakan masker dibuat agar umat Muslim tidak bisa tersenyum dikarenakan dalam ajaran Islam senyum merupakan sedekah yang akan mendapatkan pahala jika dilakukan.

Baca juga: Warga AS Diizinkan Lepas Masker Setelah Vaksinasi. Pakar: Indonesia Jangan Tiru

“Mereka tidak senang jika Muslim ketemu Muslim mengucapkan saling mengucapkan salam dan saling tersenyum yang berarti membagi sedekah bagi satu sama lain. Makannya mereka buat aturan memakai masker" tuturnya dalam video tersebut.

Benarkah dari Yahudi?

Jika lebih dalam menyelami konteks penggunaan masker yang berfungsi mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19, tentu perspektif yang berbeda bisa ditemukan.

Dikutip dari Kompas jejak tertua penggunaan masker diduga muncul pada masa Dinasti Yuan (1279-1368). Pada masa itu, masker di China berupa kerudung yang ditenun dengan sutra dan benang emas.

Hal ini berdasarkan catatan The Travelers of Marco Polo yang merupakan buku catatan perjalanan Marco Polo ke China pada masa Dinasti Yuan. Saat itu, diceritakan para pelayan yang melayani kaisar saat makan harus mengenakan sutra untuk menutup mulut dan hidung mereka. Diyakini syal sutra tersebut akan menjaga napas para pelayan agar tak memengaruhi bau dan rasa makanan.

Masker dokter saat wabah Black Death di Eropa - Wikipedia

Selanjutnya saat wabah Black Death yang menjangkiti benua Eropa, seorang dokter Prancis, Charles de Lorme menciptakan masker yang berbentuk menyerupai paruh burung di abad 16.

Dia memasang kaca di rongga mata untuk memastikan daya pandang. Adapun di bagian ujung paruh diletakkan parfum, rempah-rempah atau obat-obatan yang wangi termasuk daun mint dan kamper guna menyaring penyakit.

Penggunaan masker paruh itu kemudian dilengkapi dengan topeng, topi, syal, jubah, celana panjang, sarung tangan, sepatu, dan tongkat berjalan. Rangkaian pakaian itu kemudian disebut “setelan paruh”. Setelan paruh ini kemudian berkembang menjadi simbol kematian yang menakutkan akibat wabah yang saat itu meluas.

Baca juga: Olahraga Pagi di Jakarta Ternyata Berbahaya, Kenapa?

Perkembangan di Era Modern

Jelang memasuki abad 19 perkembangan produksi masker pun mengalami kemajuan pesat. Dimulai oleh seorang ilmuwan Skotlandia, Robert Brown, yang menemukan “Gerakan Brownian” pada tahun 1827. Secara teoritis hukum ini membuktikan mengenai efek perlindungan masker terhadap debu.

Kemudian pada tahun 1848, masker buatan Amerika, Lewis Hassley yang diperuntukkan bagi penambang menjadi masker pertama yang dipatenkan sebagai masker pelindung. Era ini sekaligus menjadi tonggak dalam sejarah perkembangan masker wajah. Masker pada tahap ini mirip masker gas. Hassley mengajukan paten pada tahun 1849 dengan nomor 6.529.

Lalu pada tahun 1861, seorang ahli biologi, mikrobiologi dan kimiawan Perancis Louis Pasteur membuktikan bahwa di udara terdapat bakteri. Penemuan Pasteur tersebut mendorong semakin banyaknya orang mulai memperhatikan desain dan fungsi masker modern.

Share: Disebut Buatan Yahudi, Ini Asal Usul Masker yang Sebenarnya!