Kesehatan

Konsumsi Banyak Vitamin C Bisa Perkuat Imun, Benarkah?

OlehIkhwan Hardiman

featured image
Unsplash.com

Jagat media sosial ramai dengan diskusi warganet soal konsumsi vitamin C demi menjaga imunitas tubuh. Bahkan, ada sebagian orang yang percaya semakin banyak vitamin C yang masuk ke tubuh manusia, kemampuan menangkal penyakit akan lebih tinggi. 

Konten kreator media sosial, Tirta Hudhi atau yang lebih dikenal dengan dr. Tirta membantah informasi liar yang menyebut konsumsi vitamin C 1 gram per 3 jam akan memperkuat imun. 

"Batas konsumsi harian vitamin C (orang) dewasa itu 200 mg-500mg. Kalau kelebihan ya dibuang ginjal. Terlalu banyak justru enggak bagus untuk ginjal," begitu cuitan dr. Tirta di akun Twitter-nya

Menanggapi hal ini, Ahli Gizi dari Rumah Sakit Medistra Jakarta, dr. Cindy Pudjiadi Sp.GK meminta masyarakat untuk mengikuti standar takaran konsumsi vitamin harian. "Ikuti saja pedomannya," kata dia saat dihubungi Asumsi.co, Kamis (1/7/2021). 

Dilansir dari laporan National Institue of Health (NIH) Amerika Serikat, vitamin C adalah senyawa bersifat asam yang terkandung dalam berbagai makanan. Jika masuk ke dalam tubuh, zat tersebut bersifat antioksidan untuk membantu regenerasi sel yang rusak karena radikal bebas dari makanan yang dikonsumsi, paparan sinar matahari berlebih dan polusi udara. 

Baca juga: Vaksin COVID-19 Pengaruhi Siklus Menstruasi, Benar Enggak Sih? | Asumsi

Tubuh membutuhkan vitamin C sebagai pembentuk kolagen yang berfungsi untuk menyembuhkan luka. Selain itu, vitamin C membantu penyerapan zat besi dari makanan berbasis tumbuhan, serta meningkatkan kinerja sistem imun tubuh dari penyakit. 

Pertanyannya, berapa banyak vitamin C yang harus dikonsumsi manusia setiap hari?

Jumlah vitamin C yang dibutuhkan setiap orang sejatinya tergantung pada usia dan jenis kelamin. Para ahli membuat klasifikasi berisi 13 pengelompokan. 

Tabel pengelompokan konsumsi vitamin c minimal harian. (Tangkapan Layar NIH)
Makanan apa saja yang harus dikonsumsi untuk mendapatkan vitamin C?

Buah-buahan dan sayur-mayur menjadi sumber vitamin C paling umum yang bisa diakses konsumen dengan mudah. Buah dengan rasa asam biasanya mengandung vitamin C tinggi seperti jeruk, anggur, dan kiwi. Sedangkan untuk sayur, manusia bisa mengomsumsi brokoli dan tomat. Bagi mereka yang merokok, wajib menambah 35 mg vitamin C setiap hari untuk mencegah rusaknya organ akibat polusi asap dan zat kimia dari tiap batang rokok. 

Ilmuwan sepakat vitamin C dapat menurunkan risiko kanker dan tumor. Dalam penerapan kemoterapi bagi penyintas kanker, biasanya suntikan vitamin C diberikan untuk mengembalikan kondisi tubuh pascatindakan terapi. Selain itu, mengonsumsi vitamin C yang cukup dapat mencegah serangan jantung, katarak, dan flu. 

Bicara soal flu, virus corona yang menarget sistem pernapasan menjadi momok tersendiri di penjuru dunia selama hampir dua tahun ke belakang. Vitamin C disebut-sebut menjadi salah satu benteng pertahanan untuk menjaga daya tahan tubuh dari Covid-19. 

Baca juga: Perbedaan Sinovac, Astrazeneca, dan Sinopharm, Serta Efektivitasnya Pada Varian Virus Baru | Asumsi

Anggapan semakin banyak mengonsumsi vitamin C ke dapat meningkatkan daya tahan tubuh pun bergulir di grup-grup WhatsApp dan media sosial lainnya. Padahal menurut ilmuwan NIH, hal tersebut berbahaya.

Ahli Gizi Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Tan Shot Yen ketika dihubungi Asumsi.co, Kamis (1/7/2021) menyampaikan terdapat ambang batas atau upper limit untuk konsumsi vitamin C. 

Tabel Upper Limit atau Ambang Batas Konsumsi Harian Vitamin C. (Tangkapan Layar laman NIH)
Jika digunakan tanpa kendali, kata dr Tan, dikhawatirkan berbagai masalah timbul akibat kelebihan konsumsi. Mengonsumsi vitamin C terlalu banyak berisiko menyebabkan diare, mual, hingga kram perut. Dalam beberapa kasus, dilaporkan beberapa orang mengalami kelebihan zat besi sehingga menggerogoti daya tahan tubuhnya sendiri.

Mereka yang biasa mengonsumsi suplemen multivitamin sebaiknya berkonsultasi kepada dokter atau ahli gizi tentang kebutuhan sehari-hari. Para ahli juga menyarankan masyarakat mendapatkan vitamin C melalui makanan dan minuman alami.  Menurut Dokter Spesialis Gizi RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Diana Felicia Suganda seperti dilaporkan Tirto, suplemen vitamin lebih diperlukan oleh mereka yang berprofesi sebagai tenaga medis.

Meski demikian, ia menyarankan konsumsi suplemen vitamin C dibatasi dengan dosis 500-1000 mg, itu pun diminum selang-seling dan tidak direkomendasikan dikonsumsi setiap hari. Menurutnya, pola hidup gizi seimbang jauh lebih penting alih-alih bertumpu pada vitamin C dengan memakan makanan mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. 

Share: Konsumsi Banyak Vitamin C Bisa Perkuat Imun, Benarkah?