Pada 2014 hingga 2016, wabah virus Ebola banyak dibicarakan di seluruh dunia. Hal ini menyusul puluhan ribu warga Afrika Barat yang terjangkit virus Ebola. Virus yang berasal dari sebuah desa kecil di Guinea ini menyebar hingga wilayah Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Inggris Raya. Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention, diperkirakan ada 28 ribu lebih kasus Ebola dengan 11 ribu kasus kematian.
Telah lama hilang dari pemberitaan, Ebola kembali hangat dibicarakan. Kali ini, Ebola menyerang Republik Demokratik Kongo, Afrika. Sejak 1 Agustus 2018, diprediksi sudah lebih dari 1.600 orang meninggal dunia, dengan total kasus mencapai lebih dari 2.500 orang. Hal ini pun membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status wabah Ebola di Kongo sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”.
“Sudah waktunya bagi dunia untuk memperhatikan,” ujar ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, Rabu (17/7).
Federasi Internasional Palang Merah (IFRC) menyambut positif keputusan ini. Besar harapannya pengubahan status ini dapat mendorong negara-negara lain memberikan donor lebih besar untuk perbaikan kualitas kesehatan di Kongo.
“Meskipun itu tidak mengubah kenyataan di lapangan bagi para korban atau mitra yang terlibat dalam tanggapan, kami berharap itu akan membawa perhatian internasional bahwa krisis ini layak diperhatikan,” tutur IFRC dalam sebuah pernyataan.
Pada Agustus 2018 lalu, Ebola kembali mewabah di dua provinsi Kongo, Kivu Utara, dan Ituri. Namun, alih-alih ditangani dengan sigap, kondisi konflik mempersulit penangangan Ebola di wilayah tersebut. Sejak Januari 2019, tercatat ada 198 serangan terhadap petugas kesehatan atau fasilitas perawatan Ebola, mengakibatkan tujuh orang meninggal dan 58 cedera. Militer Kongo pun dipersiapkan untuk mengawal petugas kesehatan.
Permasalahan lainnya adalah masyarakat yang enggan untuk percaya pada layanan kesehatan. Sepertiga dari seluruh kematian terjadi di masyarakat umum, bukan di pusat perawatan Ebola. Masyarakat Kongo cenderung enggan untuk mengobati sakitnya dan membuat risiko penyebaran ke tetangga dan kerabat semakin tinggi. Ketidakpercayaan pada bantuan asing juga membuat wabah ini semakin sulit dikendalikan.
“Lingkungan yang kompleks dengan sejarah panjang kekerasan, konflik, membuat tingginya ketidakpercayaan pada warga asing dari luar area. Kita harus membangun ikatan dan koneksi dengan masyarakat sehingga mereka dapat memercayai kita,” ujar Trish Newport, dari organisasi kemanusiaan medis internasional independen Médecins Sans Frontières (MSF).
WHO mengatakan wabah Ebola kali ini tidak perlu membuat Kongo menutup perbatasannya. Mereka juga merasa tidak perlu ada larangan perjalanan atau perdagangan serta tidak dibutuhkan peningkatan pengawasan di pelabuhan atau bandara. Karena terlepas dari virus yang berbahaya, kemungkinan untuk menyebar ke luar wilayah masih rendah. Hal ini berbeda situasinya dengan kasus Ebola 2014-2016. Terlebih, kini vaksin sudah diberikan kepada lebih dari 161 ribu orang.
Meski begitu, masyarakat yang negaranya berdekatan dengan Kongo perlu ekstra hati-hati. Hal ini menyusul beberapa kasus Ebola yang kembali muncul di Uganda dan terdeteksinya wabah Ebola di Goma, kota perbatasan antara Kongo dan Rwanda.
Kondisi ini bukannya luput dari bantuan dunia internasional. Namun, WHO meyakini bahwa bantuan internasional masih belum cukup untuk mengatasi perluasan wabah ini. WHO memperkirakan dibutuhkan sekitar US$98 juta untuk mengatasi wabah Ebola dari Februari hingga Juli. Namun, institusi internasional ini baru mengumpulkan uang sekitar US$54 juta. Usaha WHO yang sudah berbulan-bulan pun tidak menemui hasil yang optimal.