Covid-19

Warga AS Diizinkan Lepas Masker Setelah Vaksinasi. Pakar: Indonesia Jangan Tiru

OlehJeri Santoso

featured image
Unsplash/Adam Niescioruk

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengizinkan warga Amerika yang sudah divaksinasi penuh untuk tidak menggunakan masker saat berada di luar rumah. CDC adalah organisasi layanan berbasis sains, data, dan ilmu pengetahuan terkemuka yang melindungi kesehatan publik di Amerika Serikat. 

"Anda dapat mulai melakukan banyak hal yang sebelumnya Anda hentikan karena pandemi," tulis CDC. 

CDC memberikan izin tersebut untuk aktivitas luar ruangan karena dianggap lebih aman daripada aktivitas dalam ruangan, kecuali ketika mereka berada di tengah kerumunan. Pedoman itu dibuat setelah mereka mempertimbangkan beberapa faktor, utamanya sebagai langkah besar menuju kehidupan normal. Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky mengatakan, ada peningkatan informasi yang menunjukkan bahwa sebagian besar penularan terjadi di dalam ruangan, dibanding di luar ruangan. Kurang dari 10% penularan yang, berdasarkan dokumentasi dan dari banyak penelitian lainnya, terjadi di luar ruangan. ​

"Kami juga tahu bahwa ada peningkatan risiko hampir 20 kali lipat di dalam ruangan dibanding di luar ruangan. Ditambah fakta bahwa ada 30,37% orang di atas usia 18 tahun yang sudah divaksinasi penuh. Fakta bahwa tingkat kasus sekarang mulai turun memotivasi kami mengubah pedoman sebelumnya,” kata Walensky. 

Baca juga: "Triple Mutant", Mutasi Baru Covid-19 yang Bikin India Pecah Rekor | Asumsi

Izin yang sama juga disampaikan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, pada Selasa, (27/4) kemarin. Biden mengatakan ilmu pengetahuan, dalam hal ini CDC, menunjukkan risiko infeksi virus corona yang sangat rendah untuk orang-orang yang telah divaksinasi saat berada di luar ruangan. 

“Mulai hari ini, jika Anda divaksinasi penuh dan Anda berada di luar ruangan dan tidak berada dalam kerumunan besar, Anda tidak perlu lagi memakai masker,” kata Biden. 

Ia bahkan mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai AS untuk melawan virus tersebut sejak ia menjabat pada 20 Januari lalu, dengan 215 juta suntikan vaksin yang diberikan serta turunnya jumlah kasus dan kematian dengan drastis. Dua pertiga orang lanjut usia yang kini telah divaksinasi penuh, katanya, mengakibatkan penurunan kematian 80% dan penurunan rawat inap 70% di antara kelompok tersebut. Ditambah lagi, pengumuman dari CDC datang tepat menjelang Memorial Day dan peringatan Fourth of July. Presiden Biden mengatakan dia berharap melihat cukup banyak orang Amerika yang divaksinasi pada Hari Kemerdekaan untuk mengadakan pertemuan kecil di luar ruangan dengan aman. 


Bagaimana Vaksinasi di AS?

Hingga Senin (26/4), lebih dari 140 juta orang Amerika, atau 42,5% dari total populasi, telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19, menurut data yang dikumpulkan oleh CDC, dan sekitar 95,8 juta orang Amerika, atau 28,9% dari populasi, telah divaksinasi penuh. Di Amerika Serikat, jumlah rata-rata dosis yang diberikan per hari sekarang mencapai lebih dari tiga juta; terjadi peningkatan pasokan sejak penggunaan darurat vaksin Johnson & Johnson ikut membantu mempercepat vaksinasi Amerika. 

Soal vaksin yang terakhir disebutkan, pada 2 Maret, AS mengumumkan bahwa Johnson & Johnson telah bermitra dengan pesaingnya Merck untuk meningkatkan pasokan vaksin COVID-19. Merck akan mendedikasikan dua fasilitas untuk memproduksi vaksin, yang dapat menggandakan jumlah dosis yang tersedia. Biden mengatakan bahwa dosis tambahan akan memungkinkan AS untuk memvaksinasi semua orang dewasa. 

Mereka bahkan memiliki dosis vaksin Pfizer-BioNTech, Moderna, dan Johnson & Johnson yang cukup untuk mengimunisasi setiap orang dewasa di Amerika hingga akhir Mei. Karena itu, Pemerintah AS telah mendedikasikan hampir $20 miliar untuk peluncuran vaksin sebagai bagian dari program mitigasi COVID-19 senilai $1,9 triliun yang diusulkan pada bulan Januari dan ditandatangani oleh Biden pada 11 Maret. 

Analisis FDA (Food and Drug Administration) mengonfirmasi laporan Johnson & Johnson sebelumnya bahwa vaksinnya aman dan efektif dalam mencegah COVID-19. Laporan tersebut menemukan bahwa vaksin tersebut 72 persen efektif dalam mencegah COVID-19 berdasarkan uji coba AS, dan 85 persen efektif dalam mencegah penyakit parah di semua wilayah. Itu juga menunjukkan bahwa vaksin itu 64 persen efektif dalam mencegah penyakit dalam uji coba perusahaan di Afrika Selatan, yang lebih tinggi daripada yang telah dilaporkan sebelumnya. 

Bisa Ditiru di Indonesia? 

Walaupun Amerika sudah mulai melepas masker, belum tentu kondisi yang sama dapat diterapkan di negara-negara lain. Profesor Madya Hsu Li Yang kepada media Singapura The Straits Times mengatakan bahwa dalam dua tahun ke depan vaksin tidak akan mengembalikan kita ke era pra-Covid 19 saat orang-orang belum perlu menggunakan masker dan bebas bepergian dan berkumpul.

Dokter Spesialis Paru, Erlina Burhan, mengatakan bahwa kondisi Amerika Serikat dan Indonesia sangatlah jauh berbeda. "Kondisi di Indonesia dan Amerika berbeda. Mereka (AS) sudah hampir mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok. AS cakupan vaksinasi tinggi sudah 100 juta orang," kata Erlina. ​

Baca juga: Warganetnya Kritis Soal Penanganan Covid-19, Pemerintah India Minta Twitter Lakukan Sensor | Asumsi

Ia menambahkan, itulah sebabnya mengapa Indonesia dan dunia belum mendapatkan produk vaksin pabrikan Amerika, seperti Moderna atau Pfizer yang lebih dulu disuntikkan kepada warga di sana. Dengan tingkat vaksinasi yang tinggi tersebut, katanya, akan ada herd immunity yang membuat kasus Covid-19 melambat di AS. 

"Ini tidak boleh ditiru di Indonesia. Vaksinasi Indonesia masih sedikit, sudah divaksin juga masih bisa terpapar Covid-19. Itu tidak bisa diterapkan di Indonesia sebelum mencapai herd immunity," katanya. 

Menurut data BNPB per 28 April, baru 12,1 juta orang Indonesia yang mendapat suntikan pertama vaksin Covid-19 dan hanya 7,3 juta orang yang telah melengkapi dengan dosis kedua, dengan tingkat vaksinasi di bawah 350 ribu dosis per harinya

Bahkan ketika cakupan vaksinasi sudah tinggi dan kekebalan kelompok telah terbentuk di Indonesia, Erlina mengingatkan Covid-19 memiliki kemampuan bermutasi dan melipat ganda. Sehingga ia menyarankan masyarakat Indonesia untuk tidak meniru AS, mesti tetap menerapkan protokol 3M: Mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker.

Share: Warga AS Diizinkan Lepas Masker Setelah Vaksinasi. Pakar: Indonesia Jangan Tiru