Internasional

Situasi Makin Gawat, Pemerintah India Minta Twitter Sensor Kritik

OlehJeri Santoso

featured image
Unsplash/Claudio Schwartz

Di tengah pandemi Covid-19 yang semakin meningkat, Pemerintah India meminta Twitter menindak tegas warganetnya yang kritis di media sosial. Raksasa media sosial Twitter memenuhi permintaan tersebut dan telah menyensor lebih dari 50 tweet yang sebagian besar mengkritik pemerintah India dalam menangani peningkatan kasus Covid-19. 

India kini tengah menghadapi krisis terbesar sepanjang masa karena meningkatnya kasus Covid-19. Peningkatan kasus itu mengakibatkan India disebut-sebut tengah berada dalam gelombang kedua penularan Covid-19. Meningkatnya kasus Covid-19 di India juga tidak terlepas dari catatan mengenai ribuan orang yang meninggal karenanya. BBC melaporkan, hingga Minggu (25/4/2021) pagi, terdapat lebih dari 349.691 kasus infeksi Covid-19 dan 2.767 kematian karenanya dalam 24 jam. Namun, angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. 

Parahnya lagi, India mengalami kekurangan oksigen yang kritis di tengah lonjakan krisis Covid-19. Selain itu, peningkatan kasus disebutkan turut menghancurkan sistem kesehatannya. Upaya internasional kini sedang dilakukan terhadap negara itu untuk membantu meredakan krisis akibat Covid-19.

Mengenai permintaan untuk menyensor cuitan, dilansir dari buzzfeednews.com, pemerintah India tercatat membuat permintaan kepada Twitter pada 23 April 2021. Permintaan ini kemudian dilaporkan oleh Lumen Database, sebuah proyek Universitas Harvard yang melacak pemberitahuan penghapusan oleh pemerintah di seluruh dunia. 

Twitter sendiri menyatakan menerima permintaan hukum yang sah dan akan meninjaunya berdasarkan peraturan perusahaan dan hukum setempat. "Jika konten melanggar Peraturan Twitter, konten tersebut akan dihapus dari layanan. Jika ditetapkan sebagai ilegal di yurisdiksi tertentu, tetapi tidak melanggar Peraturan Twitter, kami hanya dapat menahan akses ke konten di India," kata juru bicara Twitter dalam sebuah pernyataan. 

Baca juga: Tak Terima Dihina Warganet, Valentino "Jebret" Bikin UU ITE Trending | Asumsi

Twitter menambahkan bahwa mereka telah memberi tahu pengguna tentang sensor tweet yang hanya menghapus informasi salah tentang Covid-19. Termasuk jika menimbulkan narasi yang berbahaya dan terbukti salah.  

Siapa Saja Tokoh yang Ikut Disensor?

Kicauan-kicauan yang kena sensor di India ini berasal dari beberapa tokoh negara itu. Diantaranya, seperti Revanth Reddy, Anggota Parlemen; Moloy Ghatak, seorang menteri negara bagian Benggala Barat; aktor Vineet Kumar Singh; dan dua pembuat film, Vinod Kapri dan Avinash Das. 

1. Menteri Tenaga Kerja dan Hukum Benggala Barat Moloy Ghatak mengkritisi Perdana Menteri India, Narendra Modi, karena menganggap remeh penyebaran virus dan tidak serius mengantisipasi gelombang pandemi di negara tersebut. Ia bahkan mengecam langkah pemerintah yang mengizinkan warganya berpergian keluar negeri selama pandemi mengganas. 

2. Revanth Reddy, Anggota Parlemen untuk Malkajgiri, Telangana, mencuit bahwa India memiliki lebih dari 200.000 kasus baru virus per hari, dan bahwa sistem perawatan kesehatan runtuh. Ia juga menyertakan gambar kremasi massal dalam cuitannya. Cuitan ini telah dihapus. Sebuah tweet oleh editor ABP News, Pankaj Jha, yang menyebut perbedaan sikap terhadap acara Jemaat Tabligh pada tahun 2020 dan Kumbh Mela juga dihapus. 

3. Aktor Vineet Kumar Singh, mencuit bahwa dia berada di Varanasi dan sulit mendapatkan pengobatan, dan mengkritik demonstrasi politik yang diadakan di tengah pandemi. Pemerintah memerintahkan Twitter untuk menghapus tweet ini untuk pengguna India. 

Baca juga: Warganet Indonesia Berulah Lagi, Kali Ini Terhadap Pasangan Sejenis Asal Thailand | Asumsi

4. Pembuat film dan mantan jurnalis Vinod Kapri membuat cuitan tentang kremasi massal dengan video salah satu tempat kremasi tersebut. Dalam cuitan itu, Kapri membuat komentar sarkastik tentang bagaimana janji untuk membuat lebih banyak shmashāna (tempat kremasi Hindu) telah terpenuhi. Twitter menahan cuitan ini di India. 


Share: Situasi Makin Gawat, Pemerintah India Minta Twitter Sensor Kritik