Internasional

Banyak PHK, Gaji Para Eksekutif di AS Tetap Selangit!

OlehAwan

featured image
Unsplash / Razvan Chisu

Kondisi pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan ekonomi dunia nampaknya memunculkan fakta menarik di dalamnya. Di tengah banjir pemutusan hubungan kerja (PHK), segelintir petinggi perusahaan justru mendapatkan kenaikan kompensasi berupa gaji yang nilainya membuat sebagian pihak menggelengkan kepala.

Kesenjangan yang terjadi antara manajemen menengah ke bawah dengan para eksekutif perusahaan kian terasa, bahkan di negara paling demokratis dan maju di dunia yakni Amerikat Serikat. Kondisi diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang membuat ribuan orang harus terkena pemutusan hubungan kerja.

Baca juga: Diminta Bayar THR Tepat Waktu, Gimana Respon Buruh dan Pengusaha?

Mengutip New York Times, kesenjangan kompensasi gaji antara para eksekutif dengan rata-rata pekerja biasa terus melebar setiap tahunnya. Data yang dihimpun oleh Economic Policy Institute menyebut gaji para eksekutif secara rata-rata 320 kali lebih besar dari pekerja biasa.

Jika kita tarik mundur ke belakang, pada tahun 1989 rasio kesenjangan gaji eksekutif di Amerika Serikat hanya sebesar 61 berbanding satu. Dari sisi kenaikkan gaji, kelas pekerja biasa hanya mendapatkan kenaikkan gaji 14% jika mengambil kurun waktu 1978 sampai 2019, sedangkan para eksekutif meroket hingga 1.167%.

Pandemi Hantam Kinerja Perusahaan, Berujung PHK

Perusahaan produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat, Boeing jadi salah satu yang cukup menderita di tahun pandemi ini, setelah kasus pengandangan seri 737 Max, perusahaan mencatat rugi hingga USD 12 miliar dolar dan harus melakukan PHK hingga 30.000 pekerjanya. Namun, tetap saja, Chief Executive Boeing, David Calhoun mendapatkan haknya hingga USD 21,1 juta.

Senada, perusahaan perhotelan Hilton juga harus berjibaku melawan pandemi karena minimnya hunian kamar di sepanjang tahun. Alhasil PHK tidak dapat dihindari. Hilton mencatat rugi hinga USD 4 miliar dan harus memangkas 20% karyawannya. Kembali lagi, Chris Nassetta, Chief Executive Hilton tetap mendapat haknya hingga USD 55,9 juta.

Gaji Direksi Mulai Dipangkas, Tetap Saja Besar

Fenomena ini menjadi perhatian banyak pihak di Amerika Serikat. Di rapat umum pemegang saham (RUPS) Starbucks mengusulkan untuk mengkaji ulang gaji para eksekutifnya. Namun, tetap saja Kevin Johnson, Chief Excecutif Starbucks kantongi gaji hingga USD 14,7 juta tahun 2020 silam.

Baca juga: Nilainya Merosot, Inilah Sederet Risiko Mata Uang Kripto!

Hal yang sama terjadi juga pada Walt Disney Company. Chairmant Walt Disney, Robert Iger terpaksa harus gigit jari lantaran gajinya dipangkas kurang dari setengah pada tahun 2020. Namun, tetap saja nilainya mencapai USD 21 juta. Padahal di tahun yang sama, Disney harus memangkas 28.000 karyawannya karena banyak taman hiburannya yang tutup karena pandemi.

Gaji Selangit Eksekutif Jadi Perhatian

Senator Amerika Serikat, Elizabeth Warren dalam wawancaranya di New York Times juga menyayangkan banyak CEO yang meningkatkan profitabilitas dengan melakukan PHK. Menurut wanita yang mengusulkan pajak baru untuk orang kaya ini, kondisi ini sangat memprihatinkan karena banyak orang yang kesulitan karena pandemi dan harus tertinggal.

Menariknya, baru-baru ini Presiden Amerika Serikat, Joe Biden juga menyiapkan aturan pajak baru bagi orang kaya di Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, pajak keuntungan ini akan naik hingga 43,4%.

Mengutip Bloomberg, pajak ini nantinya akan digunakan pemerintahan Biden untuk tutupi beban biaya sosial yang membengkak akibat pandemi. Warga Amerika Serikat yang punya pendapatan hingga USD 1 juta ke atas akan siap menanggung beban pajak lebih besar.

Share: Banyak PHK, Gaji Para Eksekutif di AS Tetap Selangit!