Isu Terkini

Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 April, Ayo Bunyikan Tanda Secara Serentak!

M. Ashari– Asumsi.co

featured image
BNPB

Hari Kesiapsiagaan Bencana diperingati setiap 26 April. Pada peringatan tahun ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengajak masyarakat membunyikan tanda secara serentak, baik itu dengan memukul kentongan, sirene, dan lonceng, untuk menandai peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2021.

"Saya mengajak seluruh komponen masyarakat untuk ikut serta dan berpartisipasi aktif pada Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun ini. Bunyikan tanda secara serentak, seperti kentongan, sirene dan lonceng, pada tanggal 26 April 2021 jam 10.00 waktu setempat," kata dia dalam keterangannya, Minggu (25/4/2021) malam.

Selain mengajak membunyikan tanda secara serentak, Doni juga mengimbau masyarakat agar melakukan latihan evakuasi mandiri menuju tempat aman terdekat. Menurutnya, masyarakat perlu mulai belajar mengenali ancaman bencana di sekitarnya. Selain itu, memahami risiko bencana dan meningkatkan budaya sadar bencana.

Baca juga: BMKG: Potensi Gempa dan Tsunami Meningkat, Ini Daerah yang Perlu Waspada! | Asumsi

"Agar kita bisa mengurangi korban jiwa dan kerugian harta benda. Sukseskan hari Kesiapsiagaan Bencana Tahun 2021. Siap untuk selamat, salam tangguh, salam kemanusiaan," katanya.

BNPB mengawali Hari Kesiapsiagaan Bencana sejak 2017 lalu. Dalam peringatan tentang bencana ini, jargon yang diusung oleh BNPB adalah #SiapUntukSelamat.

Latihan mulai dari keluarga

BNPB menilai keluarga menjadi ruang pembelajaran sejak dini dalam membangun kesiapsiagaan bencana. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, setiap anggota keluarga dapat belajar dan memahami risiko di sekitar tempat tinggalnya melalui praktek dan latihan. Contoh sederhana yang dapat dilakukan, seperti menyusun rencana darurat keluarga, memetakan akses dan arah evakuasi di rumah masing-masing sekaligus titik kumpul sekitar rumah, atau langkah aman lainnya.

Menurut Raditya, risiko pada setiap individu dalam setiap keluarga akan berbeda, meski suatu wilayah tersebut berpotensi bahaya, seperti banjir atau gempa bumi. "Banyak faktor yang sangat mempengaruhi individu selamat dari bahaya. Misalnya, dalam konteks risiko gempa, beberapa faktor seperti struktur bangunan rumah, langkah merespons bahaya, maupun kondisi fisik setiap individu, dapat menentukan keselamatan dalam merespons bahaya," kata Raditya dalam keterangan persnya, Rabu (21/4/2021).

Baca juga: Waspada Ancam 9 Provinsi Indonesia, Apa Itu Siklon Tropis Surigae? | Asumsi

Dengan menilik hasil kajian pascagempa Kobe di Jepang yang terjadi pada 1995 lalu, ia menuturkan, warga yang selamat karena mampu menyelamatkan diri sendiri mencapai 34,9%, diselamatkan anggota keluarga 31,9%, diselamatkan tetangga 28,1%, dan sisanya faktor lain. "Ini menyimpulkan pemahaman dan kemampuan diri sendiri di dalam anggota keluarga dapat menjadikan mereka sebagai keluarga tangguh," katanya.

Ia menambahkan, saat ini banyak informasi yang dapat diakses untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan kebencanaan. Begitu juga terdapat aplikasi kebencanaan yang dapat membantu untuk kesiapsiagaan keluarga. Namun akses-akses informasi itu dikatakannya belum cukup tanpa latihan.

Berdasarkan data bencana alam yang dihimpun BNPB hingga Rabu (21/4/2021), total bencana sejak awal tahun 2021 hingga 20 April 2021 tercatat 1.158 kejadian. Bencana hidrometeorologi (bencana yang dipengaruhi faktor cuaca, seperti banjir, kekeringan, badai dan longsor) tetap dominan. Bencana tipe ini terjadi dengan total kejadian mencapai 1.048. Perinciannya antara lain, banjir 490 kejadian, puting beliung 320, tanah longsor 223 dan gelombang pasang/abrasi 15. Selain bencana hidrometeorologi, BNPB juga mencatat bencana yang disebabkan faktor geologi, seperti gempa bumi, dengan total kejadian 17.


Share: Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 April, Ayo Bunyikan Tanda Secara Serentak!