Isu Terkini

Aksi Tembak Laser ke Gedung KPK, Greenpeace Gerah Kasus Korupsi Bikin Kerusakan Lingkungan

Ray– Asumsi.co

featured image
Foto: Twitter/@RadytMalik

Koalisi masyarakat sipil menggelar aksi menolak pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin (28/6/21). Bukan lewat unjuk rasa turun ke jalan, melainkan menembakkan laser ke Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan dengan sejumlah tulisan, salah satunya "Berani Jujur Pecat."

Tempo melaporkan, aksi menembakkan laser ke markas lembaga antirasuah ini dilakukan sejak pukul 18.30 WIB. Selain tulisan "Berani Jujur Pecat", sejumlah tulisan yang terbentuk dari sorotan laser berwarna merah dan biru antara lain "Mosi Tidak Percaya" dan "#SAVEKPK."

Apa Tujuan Aksi Ini?

Salah satu penggagas digelarnya aksi ini adalah Greenpeace Indonesia. Juru Kampanye Senior bidang Kehutanan dan Sosial Greenpeace Indonesia, Asep Komaruddin yang terjun ke lokasi saat aksi berlangsung mengatakan hal ini merupakan bentuk solidaritas Greenpeace dengan koalisi masyarakat sipil yang selama ini menaruh perhatian khusus terhadap KPK.

"Kami memang selalu bersama teman-teman masyarakat sipil lainnya. Kami selama ini memang terlibat aktif dengan banyak koalisi dan berjalan bersama-sama melakukan aksi terkait dengan korupsi," kata Asep kepada Asumsi.co melalui sambungan telepon, Selasa (29/6/21).

Ia mengungkapkan, Greenpeace merasa perlu untuk ikut turun ke jalan karena selama ini juga merasa gerah lantaran kasus korupsi yang terjadi di negeri ini bersinggungan dengan masalah lingkungan.

"Kami juga melihat banyak terjadi korupsi-korupsi di lingkup sumber daya alam yang menyebabkan banyak terjadi kerusakan alam. Paling banyak itu kasus yang menyeret mantan gubernur Riau, mulai dari Rusli Zainal soal izin kehutanan di Pelalawan, Riau yang menyebabkan terjadinya penebangan hutan kemudian Annas Maamun yang terjerat kasus korupsi terkait alih fungsi lahan," terangnya.

Baca juga: Skandal Menggerogoti KPK, Kini Jadi Komisi 'Diberantas' Korupsi? | Asumsi

Asep menambahkan, aksi ini juga dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap KPK yang dinilai publik semakin lemah dalam menjalankan tugasnya memberantas korupsi, lantaran ada indikasi sengaja dilemahkan oleh pemerintah. 

"Ke depan, jikalau KPK tidak lagi kuat dan independen, tentu kami meyakini kasus korupsi penanganannya akan tebang pilih. Ini juga bentuk dukungan terhadap para pegawai KPK yang tidak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK). Kami menyayangkan KPK yang notabene anak kandung reformasi nasibnya jadi seperti ini. Dengan kondisi KPK yang dilemahkan, yang diuntungkan tentu para koruptor dan oligarki-oligarki yang ada di belakangnya," tutur dia.

Adapun aksi ini, kata dia, merupakan bagian pembuka dari aksi "Minggu Perlawanan" yang dilakukan koalisi masyarakat sipil terhadap kebijakan dan sikap pemerintah, serta lembaga-lembaga yang ada di bawah naungannya yang dianggap tak menunjung tinggi keadilan dan kepentingan masyarakat.

"Ini sebenarnya aksi pembuka. Kami sudah siapkan sesuatu yang lebih mengejutkan dibandingkan aksi pakai laser ini, cuma kita lihat perkembangan ke depannya seperti apa. Aksi pembuka  ini adalah bagian dari Minggu Perlawanan yang sedang kami lakukan," imbuhnya.

Kenapa Pakai Laser?

Asep Komaruddin menjelaskan aksi menembakan laser ke markas KPK dilakukan sebagai alternatif bentuk unjuk rasa yang disampaikan Greenpeace selaku bagian dari koalisi masyarakat sipil, tanpa perlu mengundang kerumunan di tengah situasi pandemi COVID-19, seperti halnya demonstrasi. 

"Kami melakukan hal tersebut karena melihat masih situasi pandemi COVID-19 yang membuat kami enggak bisa melakukan aksi yang banyak melibatkan banyak orang. Aksi kemarin cuma diikuti 3 orang di setiap spot, termasuk saya. Kami meminimalisasi kerumunan dan meski 3 orang, kami juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat," katanya.

Baca juga: Tes Wawasan Kebangsaan KPK Dipertanyakan Urgensinya | Asumsi

Adapun tulisan dari laser yang muncul di Gedung Merah Putih dan tertangkap kamera media dan warganet, sebetulnya baru sebagian yang muncul. Ia mengatakan ada beberapa tulisan lain yang belum sempat dimunculkan karena dibubarkan oleh aparat.

"Pesan-pesan yang ingin ditampilkan itu beragam dan masih banyak sebenarnya. Cuma karena dibubarkan, jadinya cuma beberapa saja. Intinya harapan dan pesan kami lewat aksi ini yaitu meminta KPK dikembalikan independensinya dan dikembalikan kinerjanya seperti sebelum revisi uu kpk 2019. Kami juga menilai urgent untuk mengganti pimpinan KPK saat ini, sebagaimana kita ketahui pemilihan Firli Bahuri sebagai Ketua KPK ini banyak dikritisi publik karena figurnya yang dianggap bermasalah, lalu proses TWK ini yang menurut kami ini adalah upaya babak akhir pelemahan KPK di masa kepemimpinan Presiden Jokowi," pungkasnya.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah mengapresiasi aksi yang bertujuan untuk mengkritisi KPK ini. Menurutunya, keterlibatan Greenpeace dalam aksi publik semacam ini menunjukkan bahwa kasus korupsi di negeri ini memang sudah kronis sampai-sampai membuat aktivis lingkungkan menaruh perhatian khusus.

Baca juga: 1.271 Pegawai KPK Resmi Dilantik Jadi ASN, ICW: Banyak Aturan Ditabrak | Asumsi

"Ini menunjukkan selama ini Greenpeace adalah oposisi pemerintah dan mereka menegaskan hal itu. Semestinya pemerintah peka menyikapi dinamika yang berkembang di masyarakat, terutama masalah KPK yang belakangan semakin menjadi perhatian masyarakat," kata Trubus saat dihubungi terpisah.

Ia meyakini meski tanpa adanya unjuk rasa turun ke jalan, aksi-aksi unik semacam ini yang tujuannya mengkritisi pemerintah akan terus berlanjut untuk menggalang dukungan dari masyarakat.

"Publik tidak akan kehabisan ide kok. Saya yakin akan semakin banyak aksi unik kayak begini dan aksi pakai laser ini buat saya bisa menjadi bola liar, artinya jadi pembicaraan banyak orang yang kemudian menghimpun dukungan publik untuk berani menyerukan aspirasinya. Pemerintah ini banyak tidak transparannya memang, perlu dikritik. Bukan cuma penanganan kasus korupsi, soal utang luar negeri juga itu penggunaannya buat apa saja, dan kebijakan-kebijakan lainnya kayak mau ada rencana pajak sembako ini kan, hal-hal yang mengganggu buat publik," terangnya. 

Share: Aksi Tembak Laser ke Gedung KPK, Greenpeace Gerah Kasus Korupsi Bikin Kerusakan Lingkungan