Bisnis

Himbara, Bank-bank BUMN yang Menyangga Likuiditas Ekonomi

Ilham Anugrah– Asumsi.co

featured image
Foto: Unsplash/Jake Allen

Himbara? Mungkin akan ada banyak pertanyaan dengan nama itu. Memang ada Bank Himbara? Sebetulnya Himbara bukanlah bank sembarangan tapi sekelompok bank milik pemerintah yang tergabung menjadi Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara).

Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Sehingga banyak sistem perbankan digunakan di Indonesia, seperti adanya Bank Sentral dan Bank milik negara.

Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) berdasarkan UU No 13 Tahun 1968. Kemudian ditegaskan lagi dengan UU No 23 Tahun 1999. Bank ini sebelumnya berasal dari De Javasche Bank yang dinasionalkan pada tahun 1951.

Sedangkan Bank Milik Negara berkembang dan mengalami perubahan sejak tahun 1968 sampai terjadinya krisis moneter. Yang kemudian Bank Milik Negara termasuk ke dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurut UU No. 19 Tahun 2003, BUMN adalah adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.

Baca juga: Dikenakan Biaya Rp2.500 Buat Cek Saldo, Nasabah Diarahkan ke Mobile Apps

Saat ini ada empat bank milik pemerintah atau berstatus BUMN yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Selain mendapat dukungan pemerintah, bank-bank BUMN biasanya menjadi bank yang dipilih untuk menjalankan program pemerintah.

Empat bank itu adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Mandiri. Keempat Bank inilah yang akhirnya disebut sebagai Himbara.

Memiliki Fokus Tersendiri

Di tahun 2021, Menteri BUMN Erick Tohir mengubah fokus Himbara sebagai penyangga likuiditas ekonomi ke tiap bank yang terkonsentrasi pada model bisnisnya masing-masing. Hal ini untuk memperjelas model bisnis sekaligus keberpihakan Himbara pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), para profesional, dan korporasi yang menjadi pasar.

BRI misalnya, diminta menyasar pelaku UMKM. Fokus pembiayaan bagi UMKM untuk mendorong adanya kemandirian usaha yang berada di lapisan menengah atau terbawah.

Sedangkan, Bank Mandiri (Persero) Tbk lebih difokuskan pada pembiayaan korporasi. Kemudian Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menyasar para profesional di Indonesia dan luar negeri.

Langkah transformasi ini diyakini bakal berdampak positif bagi bank-bank BUMN termasuk dalam hal ini Bank BTN. Pasalnya bisnis perumahan subsidi yang menjadi fokus utama Bank BTN juga mendapatkan perhatian dari manteri BUMN. Sedangkan BRI, berhubungan erat dengan sektor UMKM dan peminjaman modal.

Sejarah Para Himbara

Bank Mandiri

Mandiri telah berdiri sejak 140 tahun lalu dengan entitas selaku bank pemerintah yang merupakan hasil merger dari 4 bank besar pada tahun 1999. Terdiri dari Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) . Bank Mandiri merupakan bank milik pemerintah terbesar kedua di Indonesia dengan nilai aset sebesar Rp1,124.7 triliun dan modal inti sebesar Rp145,6 triliun per Desember 2017. Bank Mandiri masuk ke dalam kategori bank BUKU 4 dengan modal inti diatas Rp30 triliun.

Mandiri memiliki jumlah rekening sebesar 21.9 juta rekening dengan dukungan 139 kantor cabang yang beroperasi di seluruh Indonesia. Selain memiliki kantor cabang di Indonesia, Mandiri juga memiliki 7 kantor cabang luar negeri yang beroperasi di Cayman Island, Hongkong, Inggris, Malaysia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Singapura, dan Timor Leste.

Karena pernah dilikuidasi, Bank Mandiri membuat Museum Bank Mandiri dekat dengan Kota Tua, Jakarta.

BRI

Berdasarkan PP Nomor 1 tahun 1946, BRI dinobatkan menjadi bank pemerintah pertama di Indonesia. BRI sebenarnya sudah berdiri sejak 16 Desember 1895 di kota Purwokerto, Jawa Tengah. Bank yang satu ini sudah melayani simpan pinjam untuk masyarakat di sana waktu itu.

Sejak 2003, BRI sudah menjual sahamnya di lantai bursa. Namanya pun berubah menjadi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Namun, saham mayoritasnya masih dipegang oleh pemerintah. BRI pun jadi pilihan untuk para siswa dan mahasiswa yang ingin punya rekening untuk pertama kalinya.

BNI

Bank Negara Indonesia sudah memiliki ribuan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada juga 8 cabang yang dibangun di luar negeri dan beberapa negara tetangga. Jadi, jangan khawatir bila sedang bepergian ke negara-negara ASEAN karena ATM BNI tersedia di sana.

Bank BUMN yang satu ini diresmikan pada 5 Juli 1946. BNI sendiri dibentuk untuk melayani seluruh lapisan masyarakat di semua skala ekonomi. Bank yang satu ini juga bekerja sama dengan sekolah dan perguran tinggi negeri untuk memudahkan para pelajar membayar uang SPP.

Baca juga: Mengenal Digital Banking dan Apa Saja Keuntungannya untuk Nasabah

BTN

Sejak awal bank ini didirikan, fokusnya adalah membantu perencanaan kepelikan rumah oleh seluruh masyarakat. Produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari BTN sudah sangat populer sejak dulu. Ditambah lagi, pemerintah juga menggalakkan program 1 juta rumah beberapa tahun terakhir.

Bila tidak ada masalah dengan urusan perbankan, mungkin saja nasabah bisa mendapatkan pinjaman dana KPR lebih besar. Pengajuan melalui BTN bisa dibantu hingga cicilan sebesar 70% dari penghasilan per bulan nasabahnya. Jarang ada bank lain yang berani menawarkan angka sebesar itu.

Himbara inilah yang memiliki jaringan ATM bersama yang dinamakan ATM Link sejak tahun 2015. Melalui jaringan ATM ini pula para nasabah Himbara bisa menikmati kemudahan dan keluasan akses ATM di seluruh Indonesia. Namun, kini nasabah mulai resah dengan rencana Himbara untuk mengenakan biaya untuk pengecekan saldo dan penarikan tunai.

Dikutip dari Tempo, jika menarik mundur ke enam tahun silam, Ketua Himbara saat itu, Asmawi Syam, menyebutkan kehadiran mesin ATM Link bakal meningkatkan efisiensi bank dan juga para nasabah. Bank diyakini akan lebih efisien karena pembelian satu unit mesin ATM hingga biaya operasional dapat ditanggung bersama. Dalam hitungannya saat itu, akan ada penghematan sekitar Rp7 triliun per tahun atau sebesar Rp30 triliun dalam 5 tahun.

Nasabah Himbara bakal dikenakan biaya sebesar Rp2.500 untuk cek saldo per transaksi dan Rp5.000 untuk tarik tunai per transaksi melalui ATM Link. Padahal sebelumnya  dua jenis transaksi ini bebas biaya.

Himbara berencana memberlakukan peraturan ini per 1 Juni 2021 mendatang.

Share: Himbara, Bank-bank BUMN yang Menyangga Likuiditas Ekonomi