Olahraga

Rakyat Jelata Minggir Dulu! Olahraga Ini Lagi Tren di Kalangan Elit

OlehRay

featured
National Geographic

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia, Sandiaga Uno yang mendapat masukan dari Menteri Pertahanan (Menhan), Prabowo Subianto soal langkah pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, pasca pandemi Covid-19 menarik perhatian publik.

Prabowo menyampaikan harapannya agar Kemenparekraf dapat menghadirkan fasilitas olahraga berkuda di lima destinasi super prioritas (DSP), yakni Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Likupang dan Mandalika.


Prabowo dan kegemaran berkuda

Usulan Prabowo yang menyarankan Sandiaga untuk membuka fasilitas berkuda di destinasi-destinasi super prioritas, tak lain karena olahraga ini merupakan kegemarannya.

"Pak Prabowo punya perhatian yang besar terhadap pariwisata berbasis olahraga, terutama yang berkaitan dengan berkuda," kata Sandi seperti dikutip Sindonews.com, Senin (8/3/2021).

Soal berkuda, kegemaran Prabowo ini sudah lama menjadi perhatian publik. Sebelum menjadi menteri, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini pernah bercerita memiliki setidaknya 18 ekor kuda.

Salah satu kudanya, dinamai Príncipe. Ia mengungkapkan kuda gagah ini didatangkan langsung dari Portugal yang harga per ekornya bisa mencapai Rp 3 miliar.

Saat melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2016 lalu, ia sempat mengajaknya untuk menaiki kuda di halaman kediaman rumahnya.


Berkuda, olahraga orang kaya

Pendiri Equestrian Federation of Indonesia (EFI), Rafiq Hakim Radinal menyambut baik wacana untuk membuka fasilitas berkuda di berbagai destinasi wisata premium.

Menurutnya, fasilitas olaharaga berkuda sangat cocok dihadirkan di tempat-tempat wisata yang ditargetkan untuk dikunjungi oleh masyarakat kalangan atas itu.

“Konsep fasilitas berkuda yang cocok untuk di tempat wisata premium ini riding club ya. Ini kan, untuk pariwisata orang-orang kaya,” kata Rafiq kepada Asumsi.co, Rabu (10/3).

Adapun biaya yang dipatok untuk ikut serta dalam riding club, bagi yang sekadar ingin menjajal kuda, biasanya mulai dari Rp500.000 untuk yang paling murah.

“Bisa saja lebih mahal, ini tergantung nanti tempat wisatanya ada di mana,” ucapnya.

Keberadaan fasilitas ini, menurut dia sangat membantu para peternak untuk mengomersilkan kuda lokal mereka. Sehingga, jangka panjangnya mengembangkan perekonomian daerah wisata tersebut.

“Tentu ini bisa membantu peternak kuda lokal kita untuk mengembangkan potensi mereka. Kayak di Sumba, Manado atau Dieng, ini kan beberapa lokasi wisata premium itu ya,” jelasnya.


Olahraga berkuda butuh modal ratusan juta Rupiah

Rafiq menyarankan untuk mereka yang ingin sekadar mencoba olahraga berkuda di riding club, maka tak perlu membeli kuda.

“Saya sarankan tidak beli kuda, sampai orang tersebut benar-benar mau jadi atlet atau serius mendalaminya,” kata pria yang juga pemilik bisnis berpacu kuda Arthayasa Stables & Country Club ini.

Sementara bagi yang ingin serius mendalami olahraga kuda dan arahnya untuk ikut serta dalam kompetisi, maka tak sekadar belajar dan ikut klub menunggang kuda.

“Mereka harus ikut pelatihan, sekolah beda harga besarannya dan peralatannya juga. Puluhan juta Rupiah sampai pasti modalnya,” terangnya.

Selanjutnya, bila sudah mantap menekuni olahraga ini, ia mempersilakan untuk membeli kuda, serta perlengkapan pribadi.

“Berkuda ini, olahraga yang membutuhkan komitmen khusus. Kuda itu harus selalu dinaikin hampir setiap hari. Kalau enggak nanti bisa mati kudanya. Kita harus berlatih terus dan ini memang merepotkan,” tuturnya.

Adapun harga kuda untuk saat ini, bisa mencapai ratusan juta Rupiah untuk jenis yang memang khusus olahraga dan jangka panjangnya diikut sertakan dalam perlombaan.

“Kuda lokal itu dulu saat belum ramai olahraga ini, masih dapat Rp15 juta. Kalu sekarang, harganya mulai Rp150 juta malah lebih untuk jenis kuda toto breed yang buat pacuan,” ungkapnya.

Belum lagi, mereka yang ingin serius mendalami olahraga ini, harus membeli pelana atau sadel kuda serta seragam khusus yang harganya tentu tidaklah murah.

“Sadel harganya Rp20 juta yang paling murah, kemudian yang paling mahal Rp100 juta. Harga untuk sepatu menaiki kuda itu kisaran Rp2 juta, kemudian celana dan seragam berkuda bisa Rp700 ribuan,” jelas dia.

Ke depan, Rafiq mengharapkan berkuda tak sekadar menjadi hobi masyarakat kalangan atas. Namun, olahraga ini juga dibuatkan kompetisi khusus yang tak digabungkan dengan cabang lain. 

“Ini memang olahraga masyarakat elit, tapi harapan kita ini juga masuk olimpic atau kompetisi yang lebih serius. Enggak bisa terus menerus dicampur dengan kompetisi olahraga lain,” pungkasnya.


Menembak: olahraga elit yang juga jadi tren

Selain berkuda, tentu ada olahraga lain yang juga tengah digandrungi oleh masyarakat kalangan atas, salah satunya menembak. 

Tak hanya diminati kalangan pria, banyak wanita yang juga menekuni olahraga ini. Seperti Widy Soediro Nichlany yang kurang dari setahun belakangan mengikuti tren olahraga menembak.

Melalui akun Instagram pribadinya, wanita yang dikenal sebagai vokalis band Vierratale ini ikut serta dalam Petro Shooting Club yang merupakan klub menembak di bawah naungan Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).

Ia terlihat sering mengunggah foto maupun video yang memperlihatkannya sedang berlatih olahraga tembak dengan didampingi instruktur khusus.

Atlet menembak nasional, Vidya Rafika Rahmatan Thayiba membenarkan bahwa olahraga ini sedang diminati oleh kalangan wanita. Ia pun menceritakan kisah awal dirinya menekuni olahraga ini. 

Vidya mengungkapkan, mulai mengenal olahraga ini di usia 9 tahun. Ibunya yang memaksanya untuk menjadi penerus sebagai atlet menembak.

“Mamaku atlet menembak juga sering ikut pertandingan. Jadi, influence dari Mama. Waktu kecil sering banget diajak ke Lapangan Tembak Senayan. Aku sudah belajar menembak dari usia 9 tahun,” kata Vidya.

Dari situlah, ia terus mendalami olahraga ini hingga sang ibu kerap mengikutsertakannya ke berbagai ajang kompetisi.

Sejumlah ajang kompetisi menembak pun telah diikutinya, seperti Asian Shooting Championship dan dalam waktu dekat, ia akan mengikuti Olimpiade Tokyo 2021.

“Walaupun awalnya dipaksa, sampai Mama mengancam kalau enggak mau jadi atlet tembak, enggak dikasih makan, akhirnya aku senang. Banyak ikut kompetisi nasional dan alhamdulillah juara 1 pas umur 12 tahun,” terangnya.

Ia lalu menjelaskan ada banyak cabang dari olahraga menembak, mulai dari shoot gun, sniper hingga shooting sport. Adapun jenis cabang yang ditekuninya adalah shooting sport.

Vidya pun tak menampik bahwa menembak merupakan salah satu olahraga elit yang ada di Indonesia yang menarik bagi kalangan wanita. 

”Memang olahraga elit dan lagi tren juga untuk kalangan perempuan. Modalnya mahal, senapan atau pistolnya saja, termahal merek Grunig+Elmiger harganya Rp350 sampai Rp450 juta,” jelasnya.

Pistol ini, kata dia, juga harus dilengkapi lisensi juga dari kepolisian atau pihak dealer senjata yang bekerja sama dengan aparat.

Khusus atlet, biasanya akan dipinjamkan pistol atau senapan yang akan digunakan untuk lomba yang tentu telah disetujui penggunaannya oleh International Shooting Sport Federation (ISSF).

“Misalnya, kita membawa nama provinsi Jawa Barat untuk lomba. Mereka akan kasih kelengkapannya untuk digunakan oleh kita,” ucapnya.

Syarat lain yang juga harus dipenuhi bagi orang yang ingin menekuni olahraga ini, lanjutnya, tentu harus memenuhi syarat memiliki kejiwaan dan kondisi emosional yang baik.

“Biasanya akan dicek juga, secara kejiwaan pastinya. Kalau depresi ringan masih enggak apa-apa. Kalau sudah yang depresi berat dan emosionalnya sedang terguncang tentu enggak boleh,” tandasnya.

Share: Rakyat Jelata Minggir Dulu! Olahraga Ini Lagi Tren di Kalangan Elit