Isu Terkini

Survei: Publik Yang Percaya Kemampuan Jokowi Tangani Pandemi Turun Tajam, Jadi 43 Persen

OlehAdmin

featured image
Adam Niescioruk/ Unsplash

Pandemi Covid-19 masih terus melanda Indonesia dengan ditandai terus meningkatnya kasus positif dan kematian. Berbagai kebijakan telah dibuat oleh Presiden Joko Widodo untuk mengatasi situasi itu.

Lembaga Survei Indonesia melakukan survei untuk mengetahui tingkat kepercayaan publik terhadap kemampuan Jokowi menangani pandemi Covid-19. Survei yang dilakukan LSI berlangsung pada 20-25 Juni 2021. 

LSI menggunakan telepon untuk mewawancara responden yang jumlahnya mencapai 1.200 orang. Survei itu diklaim memiliki toleransi kesalahan sekitar kurang lebih 2,88 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

Kemampuan Jokowi diragukan

LSI menyatakan tingkat kepercayaan publik terhadap kemampuan Jokowi menangani pandemi menurun. Berdasarkan survei, tingkat kepercayaan publik turun dari 56,5 persen menjadi 43 persen.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Djayadi Hanan mengatakan penurunan tingkat kepercayaan terhadap kemampuan Jokowi menangani wabah terbilang tajam dalam empat bulan terkahir, dari Februari sampai Juni 2021.

“Jadi untuk pertama kalinya selama masa pandemi ini, pada bulan Juni, kita menemukan tingkat kepercayaan kepada presiden itu di bawah 50 persen,” ujat Djayadi dalam rilis ‘Survei LSI: Sikap Publik terhadap Vaksin dan Program Vaksin Pemerintah’ secara virtual, Minggu (18/7/2021).

Djayadi menilai penurunan tingkat kepercayaan bisa dikaitkan dengan kelancaran penanganan pandemi, misalnya PPKM Darurat.

Baca Juga: Kenali Pseudosains Saat Pandemi, Subjektif Hingga Mengabaikan Segala Bukti | Asumsi

Adapun publik yang tidak percaya juga mengalami peningkatan tajam sejalan dengan penurunan kepercayaan terhadap kemampuan Jokowi.

Dari survei diketahui publik yang sangat tidak puas dengan kemampuan Jokowi pada bulan Juni mencapai 22,6 persen, naik dari bukan Februari 2020 sebesar 15,2 persen dan November 2020 sebesar 9,5 persen.

Djayadi menyampaikan ketidakpercayaan terhadap kinerja Jokowi dalam menangani pandemi juga menurun menjadi 59,6 persen pada Juni 2021 dari 68,9 persen pada Desember 2020. Pihak yang tidak percaya juga terbilang merata, misalnya dari latar belakang pendidikan hingga pendapatan.

Menariknya, survei memperlihatkan bahwa responden yang tinggal di kawasan PPKM Darurat mayoritas tidak puas dengan kinerja Jokowi. Di DKI Jakarta misalnya, tingkat ketidakpuasan mencapai 49,4 persen. Kemudian diikuti Jawa Barat 43,7 persen dan Jawa Tengah 40,9 persen.

“Jadi ada persoalan,” ujarnya.

Prioritas terbelah

Djayadi menyatakan bawah dukungan warga terlihat cukup terbelah antara memilih agar pemerintah lebih memprioritaskan masalah ekonomi atau kesehatan. Survei memperlihatkan responden yang memilih ekonomi sebanyak 50,7 persen, sedangkan kesehatan 46,2 persen.

“Dibandingkan survei September tahun lalu, dukungan pada prioritas ekonomi tampak meningkat sekarang,” ujar Djayadi.

Baca Juga: Viral Ajakan Tak Baca dan Sebar Berita Covid-19, Propaganda Keliru yang Membahayakan Publik | Asumsi

Adapun terkait dengan PSBB, 57,1 persen responden merasa sudah cukup. Mereka meminta kebijakan itu dihentikan agar ekonomi kembali berjalan. Sebanyak 38,8 persen menilai PSBB sebaiknya dilanjutkan agar penyebaran virus Covid-19 bisa diatasi.

Banyak yang tidak bersedia divaksin

Djayadi mengatakan survei juga menemukan bahwa mayoritas publik setuju dengan program vaksinasi, namun masih banyak yang menyatakan tidak bersedia divaksin dengan berbagai alasan.

Berdasarkan survei, sebanyak 84,9 persen responden merasa sangat/ setuju dengan program vaksin Covid-19 untuk masyarakat. Sebanyak 68,6 persen percaya bahwa vaksin corona dapat mencegah seseorang tertular Covid-19.

"Sekitar 23,5 persen tidak percaya," kata Djayadi.

Menariknya, hasil survei memperlihatkan sekitar 82,6 persen responden belum divaksin. Di antara yang belum divaksin, sekitar 63,6 persen bersedia divaksin. Sedangkan 36,4 persen tidak bersedia.

Alasan paling banyak mengapa orang tidak bersedia divaksin adalah karena takut dengan efek sampingnya (55,5 persen), kemudian karena menilai vaksin tidak efektif (25,4 persen), dan merasa tidak membutuhkan vaksin karena sehat (19 persen).

Share: Survei: Publik Yang Percaya Kemampuan Jokowi Tangani Pandemi Turun Tajam, Jadi 43 Persen