Budaya Pop

Clubhouse, TikTok: Eskapisme untuk yang Tua dan yang Muda

OlehAulia Masna

featured image

Apakah Clubhouse bisa kita sebut ibarat TikTok untuk generasi tua? Masing-masing app boleh jadi memiliki daya tarik yang berbeda, tetapi keduanya menjerat audiens dan menimbulkan perasaan fear of missing out (FOMO) antar pertemanan dengan tempo yang sama cepat.

TikTok melejit berkat figur-figur seperti Charli D’Amelio, Addison Rae, dan Jason Derulo, dengan segala macam joget dan lagu-lagu yang bikin kita tak punya pilihan selain ikut berdendang. Sementara itu, audiens di Clubhouse tampaknya senang menyimak figur-figur semacam Elon Musk, MC Hammer, dan aktris Justine Bateman mengobrol tentang karir, pencapaian, dan kondisi industri masing-masing. Dengan kata lain: orang-orang tua.

Jadi, akui saja, Clubhouse memang ruang untuk para boomer dan sedihnya, bagi Gen Z, generasi Milenial awal dan Gen X termasuk ke dalamnya.

Sepanjang 2020, Clubhouse mengalami pemberitaan yang kurang baik. App ini baru bisa digunakan pada iPhone, dan untuk bergabung diperlukan undangan dari orang yang sudah menggunakan—tanpa undangan, kita terpaksa mengantre di waitlist—sehingga hanya segelintir orang di luar lingkaran-lingkaran Silicon Valley yang bisa berpartisipasi dalam obrolan di platform ini.

Tak heran bahwa kemudian Clubhouse menjadi ruang bagi “orang dalam” di Silicon Valley untuk secara terbuka mengkritik media teknologi, dengan cara yang kurang lebih sama dengan bagaimana gerakan Gamergate mengejikan media industri game. Namun, pada akhir 2020 Clubhouse justru dikritik keras akibat mengizinkan sebuah diskusi menjadi serangan terhadap komunitas Yahudi pada Yom Kippur, salah satu hari raya mereka.

Kala itu tidak ada moderasi konten atau bahkan mekanisme pelaporan atas pelecehan atau perilaku tidak patut, dan sejak itu, para pengembang app ini telah memperbaikinya dan berupaya memastikan diskursus yang beradab di seluruh ruang ngobrol. Kini para moderator di ruang ngobrol senantiasa didorong dan didukung untuk memastikan tingkat kepatutan tertentu, tetapi tampaknya masih terlalu dini untuk menilai perkembangannya dan fitur-fitur yang lebih baik pun masih sedang dijajaki para pengembang app untuk membantu moderator menjalankan peran mereka.

Sementara itu, TikTok memiliki kontroversinya sendiri, dengan tuduhan-tuduhan terkait pembagian data pengguna kepada pemerintah Cina yang diduga memiliki kontrol atas platform tersebut. Sejumlah konten dan pembuat konten yang mengkritik China tampaknya telah dihapus atau disembunyikan dari pencarian yang menyebabkan adanya tuduhan tersebut, dan pemerintahan Trump pada saat itu mengancam akan memblokir TikTok sementara India dan negara lain sepenuhnya memblokir aplikasi tersebut karena kekhawatiran seputar keamanan nasional, konten, serta frekuensi penggunaan.

Bytedance, yang mengoperasikan TikTok dan aplikasi mitranya dari Cina, Douyin, membantah tuduhan berbagi data dengan pemerintah Cina dan memperkenalkan cara untuk membatasi penggunaan di dalam aplikasi. Sementara itu, perusahaan Amerika Serikat seperti Walmart, Microsoft, dan bahkan Oracle menawarkan untuk membeli dan mengoperasikan aplikasi di wilayah yang disebut yurisdiksi “barat”. Ini jelas tidak terjadi dan Trump akhirnya kalah pada pemilu lalu.

Di Indonesia, Prabowo Mondardo yang berusia 13 tahun, yang biasa dipanggil Bowo Alpenliebe, menjadi bintang awal di aplikasi tersebut pada 2018 ketika setiap videonya terus beredar hingga suatu hari ia diblokir oleh aplikasi tersebut tanpa alasan yang jelas.

Meskipun popularitas Bowo menambah persepsi bahwa TikTok adalah aplikasi niche, yang ditujukan untuk anak-anak dan joget kocak, itu tidak berlangsung lama. Hari-hari karantina sepanjang 2020 sebenarnya menarik jauh lebih banyak pengguna ke TikTok dan mengukuhkannya sebagai aplikasi penemuan musik perdana dengan puluhan lagu, termasuk beberapa dari Indonesia, seperti cover dari lagu Potret Bagaikan Langit dan Lathi oleh Weird Genius, mencapai popularitas global karena mereka telah digunakan dalam video TikTok. Kembalinya Bowo ke TikTok tahun ini bertepatan dengan twit Elon Musk tentang keberadaannya di Clubhouse, yang menarik jutaan orang ke aplikasi media audio tersebut.

Daya tarik utama Clubhouse, setidaknya saat ini, adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman seminar multi-sesi dan konferensi industri yang biasanya menampilkan pembicara tersohor, langsung ke smartphone, secara cuma-cuma, sementara sebelumnya kita harus membayar jutaan rupiah untuk hadir. Bisa dibilang Clubhouse adalah aplikasi yang sempurna untuk waktu karantina rumah akibat Covid-19.

Clubhouse mungkin terbilang baru, tetapi mereka yang baru bergabung telah menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk berbicara atau mendengarkan orang lain berbicara. Seolah-olah mereka tidak menghabiskan cukup waktu dalam rapat Zoom.

Akankah Clubhouse bertahan? Pertanyaan yang sama ditanyakan tentang TikTok bertahun-tahun yang lalu saat ia dipandang sebagai tren sementara, aplikasi yang mencoba mengisi kekosongan akibat ditutupnya Vine, aplikasi video enam detik Twitter yang populer… tetapi ia masih hadir hingga hari ini, dan di hari-hari mendatang. Clubhouse mungkin telah mendunia, tetapi masih terlalu dini untuk menaksir apa yang akan terjadi pada aplikasi ini lima tahun ke depan, terutama karena perusahaan masih berupaya menambahkan dukungan Android dan cara untuk memonetisasi aplikasi baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk pembicara dan host.

Yang jelas, Clubhouse menjadi tempat bagi Milenial dan Gen X untuk nongkrong online dan melarikan diri dari kenyataan karantina rumah, sebagaimana Gen Z kabur ke TikTok.

Catatan editor:

Tulisan opini ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris dan bisa dibaca di sini. ______________________

Aulia Masna adalah jurnalis teknologi yang tulisannya pernah dimuat di berbagai media lokal dan internasional. Sebelumnya merupakan bagian dari tim App Store di Apple dan pernah memimpin tim editorial di Recap, AdDiction, DailySocial, dan Macworld Indonesia.

Share: Clubhouse, TikTok: Eskapisme untuk yang Tua dan yang Muda