Isu Terkini

Menjaga Nyala Hidup di Rusun Tanah Abang

OlehFaisal Irfani

featured image

Di bawah langit yang buram sehabis hujan, rumah susun (rusun) Tanah Abang, Jakarta Pusat, seperti baru terjaga dari tidur panjang. Para penghuninya belum banyak beraktivitas. Jalanan petak di muka bangunan, lebarnya sekira dua langkah, lengang belaka. Hanya di beberapa sudut terlihat ada yang memanaskan mesin motor, merapikan jemuran, atau bergegas meninggalkan rusun.

Semua itu terlihat dari depan kediaman Beni di lantai dua di salah satu blok rusun, dekat pintu masuk. Pria kurus dan berambut putih itu mengisahkan pengalamannya dengan artikulatif.

"Sudah sejak 1995 saya tinggal di sini," katanya membuka perbincangan. “Karena kelewat nyaman, ya, jadinya malah terus di sini, nggak ke mana-mana lagi.”

Masa itu, Beni bekerja sebagai pegawai bank di Tanah Abang. Mulanya, dia tinggal di Mampang, Jakarta Selatan. Berhubung jarak rumah ke tempat kerjanya cukup jauh, Beni memutuskan mencari kediaman di sekitar pusat Jakarta.

“Akhirnya nemu di rusun ini,” katanya. “Jadi, kalau mau berangkat nggak usah macet-macetan.”

Bertahun-tahun kemudian, Beni menyadari bahwa rusun Tanah Abang bukan semata tempat tinggal bagi masyarakat urban seperti dirinya yang kesulitan memperoleh rumah di ibu kota. Baginya, rusun Tanah Abang juga senarai cerita; cerita yang tak hanya membentuk garis hidup orang-orang di dalamnya, tetapi juga wajah Jakarta yang sebetulnya.

Itulah wajah yang jauh dari gelimang dan gemerlap metropolitan. Wajah yang keras dan pahit. Wajah yang dibentuk oleh nilai dan prinsip hidup bersama.

***

Rusun Tanah Abang merupakan salah satu rusun tertua di Jakarta, berbagi predikat dengan bangunan serupa yang berdiri di Klender, Jakarta Timur. Riwayatnya dimulai pada dekade 1980-an.

“Udah ada sejak zaman Pak Harto. Yang meresmikan juga dia,” kata Ridwan, penghuni lain rusun Tanah Abang. “Itu di belakang ada prasasti yang ditandatangani dia.”

Ridwan adalah “anak asli” rusun Tanah Abang. Dia menetap di rusun ini sejak kecil, mengikuti jejak orang tuanya yang jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pengalaman itulah yang membuat dirinya merasakan berbagai peristiwa serta perubahan yang hadir di rusun Tanah Abang.

“Wah, kalau zaman dulu, mah, keras banget di sini,” katanya, tertawa. “Kayak uji nyali.”

Letak wilayah menjadi faktor utama tatkala membicarakan pengalaman-pengalaman demikian. Kawasan Tanah Abang dikenal punya reputasi "keras." Di jeroan Jakarta ini, hari-hari tak ubahnya palagan pertarungan melawan nasib.

Orang-orang bersaing demi sesuap nasi. Di pasar. Lahan parkir. Tanah-tanah kosong. Ada yang melakukannya secara baik-baik, tapi banyak juga yang rela menempuh jalan hitam agar urusan perut bisa tercukupi.

Situasi itu menjalar pula hingga rusun tempat Ridwan bernaung. Masih terekam dalam ingatannya bahwa pada masa awal rusun berdiri, sejumlah orang yang mengaku asli Tanah Abang gencar melakukan protes. Mereka menganggap para penghuni merupakan pendatang yang tak berhak tinggal di tanah milik mereka.

“Yang tinggal di rusun seolah jadi penjahat karena dianggap merebut properti mereka, walaupun pada kenyataannya yang ada di sini juga sama-sama orang Jakarta. Kayak keluarga gua ini itu sebelum ke rusun tinggalnya di Cideng. Ya elah, Cideng, kan, sama-sama Tanah Abang juga,” kata Ridwan.

Fakta tersebut tak membikin para pemrotes luluh. Sebab tak bisa menghentikan pembangunan, mereka kerap melakukan intimidasi hingga pemalakan terhadap warga rusun. Intinya, apa pun ditempuh supaya para penghuni rusun merasa tidak nyaman.

Kondisi tersebut bertahan hingga Ridwan beranjak remaja. Anak-anak muda yang tinggal di rusun pun mulai menjalani kehidupan yang remang-remang, mulai dari terlibat tawuran antarkampung hingga rutin mengonsumsi minuman keras dan sinte. Orang-orang melekatkan predikat "Bronx" pada tempat tinggal mereka.

“Cuma, yang di sini biasanya masih tau batasan. Ya sekadar coba-coba. Enggak yang sampai terjerumus. Kalau yang udah parah, tuh, seringnya anak luar [rusun] tapi main ke sini,” kata Ridwan.

Taufik, teman dekat Ridwan yang juga penghuni rusun Tanah Abang, mengungkapkan bahwa batasan itu senantiasa dijaga lantaran faktor latar belakang orang tua mereka yang mayoritas bekerja sebagai abdi negara.

“Anak-anak muda di sini, waktu dulu, terbiasa dididik harus punya tujuan hidup yang jelas karena bapak dan ibu kami kebanyakan PNS. Nakal boleh, tapi setidaknya harus tanggung jawab sama hidup. Jangan kebablasan,” tegasnya.

Faktor berikutnya yang turut menyumbang kerasnya kehidupan di rusun Tanah Abang, selain letak geografis, adalah politik, dan ini ada korelasinya dengan PNS—selaku kelompok penghuni mayoritas yang menempati rusun.

Akar peristiwa dapat dirunut pada masa kampanye Pemilu 1982, pemilu ketiga dalam pemerintahan Orde Baru sekaligus yang kedua setelah kebijakan fusi parpol diberlakukan. Pertengahan Maret tahun itu, Golkar sedang melaksanakan kampanye akbar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Sebagaimana kampanye Golkar pada umumnya, acara berlangsung meriah; massa tumpah ruah, menyatu dengan pekik jargon dan lantunan nyanyian artis-artis ibu kota.

Tak dinyana, kampanye itu berubah jadi arena keributan, usai panggung utama roboh. Dari yang semula hanya melibatkan cekcok antara peserta kampanye dan panitia, eskalasi ricuh meluas setelah massa dari PPP turut ambil bagian dengan membakar bendera Golkar, meneriakkan “Hidup Ka’bah!”, sampai menyerang panggung kampanye.

Kericuhan di lokasi sempat dihalau oleh pasukan Brimob, dengan menembakkan peluru ke udara. Meski begitu, di luar lapangan, perlahan, eskalasi bentrok makin meluas, merembet hingga sudut-sudut di Jakarta Pusat, dari Senen Raya, Kramat, Cempaka Putih, dan tak terkecuali Tanah Abang.

Menurut cerita Ridwan, yang kala bentrok pecah masih bocah, massa dari PPP mengepung rusun dari luar. Alasannya, banyak PNS di rusun, yang notabene dianggap jadi representasi dari Golkar. Beruntungnya, kekerasan dapat dicegah. Rusun dijaga ketat oleh pasukan Brimob.

“Serem kalau ingat waktu itu. Takutnya nggak ketahan, dan akhirnya rusun diserang. [Massa] yang di luar udah teriak-teriak nyerang Golkar. Untungnya nggak sampai rusuh,” kenang Ridwan.

Spekulasi menyoal penyebab kerusuhan lantas bermunculan. Salah satu yang kuat mengemuka ialah bahwa kericuhan diakibatkan pertarungan ideologi: Islam dan Pancasila. PPP mewakili Islam, sedangkan Golkar merepresentasikan Pancasila.

“Kalau diinget-inget [kejadian dulu], rasanya edan aja,” kata Ridwan.

***

Rusun Tanah Abang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih empat hektare. Rusun terbagi ke dalam belasan blok, dengan tiap blok terdiri dari empat lantai dan masing-masing diisi 16 rumah. Harga sewa rusun di Tanah Abang, satu tahunnya, dapat ditebus dengan nominal Rp30 sampai 40an juta. Kalau ingin permanen, jumlahnya dana yang mesti dikeluarkan tergantung kesepakatan dengan penjual. Namun, taksirannya di angka Rp120an juta.

Sejarah pembangunan rusun adalah sejarah upaya menyediakan hunian yang terjangkau, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah, di tengah kota-kota besar seperti Jakarta. Proyek rusun, pertama kali, dicanangkan oleh Sudiro, Wali Kota Jakarta periode 1953-1959.

Kala itu, Sudiro beranggapan bahwa Jakarta kian padat, yang berdampak pada makin menyempitnya tanah yang ada. Dari sinilah Sudiro mencetuskan ide untuk membikin hunian yang tak lagi horizontal, melainkan vertikal.

Sebagai permulaan, Sudiro melayangkan proposal pembangunan rusun untuk menampung penduduk dari tiga kampung—Karang Anyar, Krekot Dalam, dan Krekot Bunder—yang habis tersapu api ke Dewan Perwakilan Kota Sementara (DPKS) pada 1955.

Sayang, oleh anggota DPKS rencana tak disambut dengan antusias. Pembangunan rusun Sudiro pun gagal terlaksana dan tenggelam.

Akan tetapi, beberapa tahun setelahnya, ide Sudiro diadaptasi oleh Departemen Luar Negeri (Deplu), yang lantas disusul perusahaan pelayaran Jakarta Lloyd. Keduanya membangun rusun di wilayah Kebayoran Baru dan Sabang serta Kebon Sirih. Masing-masing ditujukan untuk pekerjanya.

Geliat pembangunan rusun mendapati momentumnya kala Orde Baru berkuasa. Oleh BUMN yang mengurusi perumahan, Perumnas, rusun dipakai sebagai jalan meremajakan perkotaan. Namun begitu, lagi-lagi, upaya itu tak berlangsung lama. Pembangunan rusun sempat memudar usai Suharto tumbang, dan baru bisa dimunculkan kembali pascareformasi, tepatnya saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, lewat program “1.000 Tower.”

Di titik inilah satu per satu masalah rusun menyeruak ke permukaan. Andesh Tomo, arsitek sekaligus inisiator Rame Rame Jakarta, kolektif yang berfokus pada isu perkotaan, menerangkan bahwa masalah yang paling kentara adalah bergesernya target dan orientasi rusun.

“Rusun, atau social housing, pada dasarnya adalah fasilitas yang diberikan negara kepada kelas ekonomi menengah ke bawah yang ingin punya hunian. Artinya, ada subsidi yang diberikan negara oleh mereka. Fokusnya di situ,” katanya kepada saya.

“Tapi, kenyataannya, banyak rusun yang tidak berjalan seperti rencana. Di Tebet, misalnya, ada bangunan rusun. Namun, juga muncul pergeseran. Rusun itu tak ditempati kelas ekonomi menengah ke bawah, tapi kelas menengah ke atas. Dilihat dari kepemilikan kendaraan pribadi yang cukup mewah terparkir di sana.”

Keadaan tersebut, Andesh bilang, tak bisa dilepaskan oleh sistem pasar, tingginya permintaan, dan kurang tegasnya implementasi dari penetapan harga sesuai ketentuan regulasi.

“Pola transaksional yang organik, antara pemilik dan penyewa, tidak terbentuk. Di rusun sekarang, memang ada harga sesuai regulasi, katakanlah tidak boleh dari satu juta. Tapi, karena peminatnya banyak, apalagi di lokasi-lokasi yang strategis seperti Tebet atau Tanah Abang, prinsip itu hilang. Akhirnya, yang mengisi ruang itu adalah mereka yang bisa membayar lebih mahal,” jelasnya.

Andesh tak salah. Pengamatan saya juga memperlihatkan hal serupa. Di rusun Tanah Abang, deretan mobil mengisi lahan parkir di halaman depan. Bahkan, Rifki, salah seorang penghuni rusun yang saya temui, mengatakan bahwa pernah ada penghuni yang mempunyai kendaraan jenis Rubicon, yang harganya saja bisa mencapai miliaran rupiah.

“Ada dulu yang sampai bawa mobil itu. Parkirnya di halaman belakang [rusun]. Gua sampai keheranan, Bang,” terangnya.

Problem berikutnya yang mengintai rusun yakni tarik ulur kepentingan antara pengurus rusun, diwakili P3SRS, pengembang, dan pemerintah ihwal masa depan keberlangsungan rusun. Ini muncul dalam konflik rusun di Klender, tatkala warga penghuni di sana menolak keras pembongkaran rusun, yang rencananya akan diubah jadi apartemen.

Bagi penghuni rusun Klender, upaya pembongkaran tersebut hanyalah akal-akalan pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan. Selain itu, mengubah rusun menjadi apartemen tidak dianggap bijak karena bakal membikin penghuni setempat kesulitan—biaya membengkak dan terancam kehilangan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).

Andesh menerangkan bahwa persoalan rusun perlu perhatian yang lebih besar dari pemerintah, mengingat ada hubungannya dengan kepentingan banyak pihak. Perhatian tersebut mulai tampak lewat sejumlah kebijakan, seperti revitalisasi. Meski demikian, Andesh mengingatkan setiap kebijakan yang diambil harus melibatkan warga penghuni rusun.

“Partisipasi semacam itu penting karena yang tinggal dan hidup di dalam rusun adalah penghuni rusun itu sendiri. Rusun harus jadi tak sebatas hunian, tapi juga ruang sosial bagi mereka yang ada di dalamnya,” pungkasnya.

***

Beni, selaku Sekretaris P3SRS Tanah Abang, representasi pemerintah dalam pengelolaan rusun, sadar betul bahwa selama ini pandangan masyarakat umum terhadap rusun tak jauh-jauh dari kesan hunian yang kumuh, tak terawat, serta dekat dengan kriminalitas.

“Memang nggak bisa dimungkiri, ya, kalau pandangan kayak gitu masih ada,” jawabnya. “Kami juga nggak bisa maksa orang untuk mengubah pandangannya.”

Namun, untuk Beni, eksistensi rusun tak selalu berkelindan dengan citra semacam itu. Baginya, rusun juga dapat memberikan kenyamanan kepada para penghuninya.

“Udah beberapa tahun belakangan kita bekerja keras untuk memperbaiki rusun ini,” akunya. “Lewat pembangunan taman hingga merawat kebersihan maupun sanitasi.”

Upaya itu, pelan-pelan, mulai memperlihatkan hasil. Sekalipun rusun Tanah Abang sudah berumur, kondisinya masih terawat. Taman-taman asri berdiri di setiap sudut. Tong sampah tersedia di sepanjang akses jalan. Dan berbagai poster layanan masyarakat tertempel di papan pengumuman; menjadi pengingat bahwa rusun adalah milik bersama, rumah banyak orang.

“Soal kriminalitas juga sama aja. Memang sempat ada insiden pencurian motor di sini, bahkan ada yang dibobol rumahnya. Tapi, setelah itu kami bersama-sama meningkatkan pengawasan. Memasang CCTV maupun membikin jadwal jaga,” imbuhnya.

Perkara-perkara di atas memang penting. Akan tetapi, untuk Oka, penghuni rusun yang tampilannya mirip Steven Seagal, yang cukup mengganggu pikirannya ialah berkurangnya semangat kekeluargaan di antara penghuni rusun.

“Jelas sekali perbedaannya. Dulu, waktu gua masih remaja, antara satu penghuni dengan penghuni lainnya udah kayak saudara atau keluarga sendiri. Ibaratnya, nih, ya, kalau rumah gua kurang cabai buat masak, tinggal minta sebelah. Atau kalau gua di rumah sendirian dan orang tua belum datang, gua tinggal ke sebelah dan makan bareng-bareng dengan penghuni di situ,” Oka memberi tahu saya.

“Sekarang hal-hal kayak gitu udah jauh berkurang,” tambahnya.

Ikatan kekeluargaan masih bertahan untuk kalangan tertentu, tepatnya bagi mereka yang sudah tinggal di rusun selama lebih dari 20 tahun. Hubungan mereka terjaga hingga beberapa generasi di bawahnya.

“Dulu orang tua gua temenan sama orang tua Oka. Waktu kecil, gua juga sering main sama Oka. Sekarang, ketika gua udah dewasa, kami masih berteman baik, ditambah adik gua juga temenan sama Oka, walaupun jarak umurnya jauh. Polanya kayak gitu,” jelas Taufik.

Perubahan demografi penghuni rusun merupakan faktor terbesar penyebab mengapa ikatan “kekeluargaan” itu tergerus. Di rusun Tanah Abang sendiri, saat ini, sebagian besar dihuni oleh para “pendatang.” Definisi “pendatang,” merujuk penjelasan Ridwan, adalah mereka yang tinggal dalam rentang 5 sampai 10 tahun. Mayoritas bekerja sebagai pedagang di Tanah Abang dan berasal dari Makassar dan Padang.

“Kayaknya udah [hampir] 70 persen diisi pendatang. Nah, kebiasaan mereka adalah setelah bekerja, ya, pulang dan di rumah saja. Sosialisasinya kepada warga sekitar jadi berkurang,” keluhnya.

Ridwan jelas tak dapat menyalahkan hal itu. Bagaimanapun, setiap orang punya kepentingannya masing-masing, yang antara satu dengan lainnya tidak bisa dipukul rata. Namun, apabila boleh berharap, Ridwan ingin kekeluargaan yang melekat pada keberadaan rusun mampu tumbuh kembali.

Karena dia percaya bahwa hal tersebut merupakan bekal yang membawa rusun Tanah Abang bisa berdiri tegak sampai sekarang, di tengah gelombang zaman, serangan bermotif politik, hingga ancaman ketidakpastian masa depan yang membayangi para penghuni rusun.

Share: Menjaga Nyala Hidup di Rusun Tanah Abang