Isu Terkini

Ayu Kartika Dewi Menemukan Harapan di Sigi

OlehDea Anugrah

featured image

Ayu Kartika Dewi, anggota Staf Khusus Presiden Joko Widodo Bidang Sosial, bergegas meminta izin Istana untuk mengunjungi Sigi, Sulawesi Tengah, sesaat setelah mengetahui kabar serangan teroris di kawasan hulu Sungai Palu tersebut. Restu tiba, dan dia berangkat dari Jakarta pada Rabu (2/12) dini hari.

Perhatian Ayu terhadap terorisme, yang menurutnya disebabkan oleh intoleransi, tidak tercipta dalam semalam. Satu dekade lalu, penerima beasiswa Fulbright ini menjadi guru sekolah dasar di Halmahera, Maluku Utara, untuk program Indonesia Mengajar. Dia menyaksikan bagaimana konflik di Maluku pada 1999 mengendap jadi trauma, prasangka, dan rasa takut, bahkan di kalangan anak-anak didiknya.

Terinspirasi dari pengalaman tersebut, lulusan Universitas Airlangga dan Duke University, Amerika Serikat, ini mendirikan Gerakan SabangMerauke, program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan, termasuk toleransi.

Pada Jumat (4/11) dini hari, Ayu yang masih berada di Sulawesi Tengah bercerita kepada Asumsi tentang apa-apa yang ditemukannya di sana serta pandangannya tentang terorisme, keberagaman, dan keadilan. Berikut petikan percakapan kami yang telah disunting demi kejernihan:

Mengapa Anda ke Sigi?

Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dalam berita, kan, pasti ada cerita yang hilang.

Ada pesan khusus dari Bapak Presiden?

Secara teknis, saya meminta izin kepada lingkup istana, tetapi bukan kepada beliau sendiri. Jadi, tidak ada pesan khusus.

Bagaimana perjalanan Anda?

Kami naik pesawat jam tiga pagi. Untuk ke lokasi kejadian, kami menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Palu. Jalannya makin lama makin kecil, makin banyak jalan tanah. Bahkan ada jembatan kayu yang harus kami lewati secara bergantian.

Lokasi teror jauh banget dari pusat desa, sekitar 45 menit perjalanan menggunakan mobil. Rumah-rumah berjarak 50 hingga 100 meter dari satu sama lain, permukiman renggang.

Terbayang, ya, betapa sulitnya warga meminta bantuan atau menyelamatkan diri ketika kejadian itu berlangsung…

Betul, apalagi tidak ada sinyal. Serangan itu terjadi di delapan rumah berbeda, dan sepertinya hampir serentak, berlangsung dengan cepat. Dalam rentang satu jam semuanya terjadi. Ada rumah-rumah yang terbakar seluruhnya, ada yang hanya sebagian. Ada yang dibunuh dengan keji. Perlakuannya seperti tidak seragam.

Berdasarkan obrolan Anda dengan warga dan aparat, kesannya serangan ini tertarget atau acak saja?

Sangat acak, sebenarnya, ya. Tahun ini ada tiga atau empat serangan. Sejak 2012, ada 13 serangan. Namun, profil para korban, baik secara suku maupun agama, selalu acak. Yang terpola adalah para penyerang selalu menjarah makanan dan bikin teror.

Menurut beberapa pakar, MIT (Mujahiddin Indonesia Timur, pelaku teror) ini jaringan yang cuma sisa-sisa, tidak pakai banyak biaya, tapi sulit sekali dilacak. Apakah Anda mencari tahu soal ini?

Saya mengajukan pertanyaan yang sama persis kepada tim penanganan. Memang medannya luar biasa susah, berbukit-bukit dan hutannya lebat. Pelaku bisa bersembunyi di mana saja. Selain itu, karena tidak ada sinyal, tim lumayan kesulitan berkomunikasi.

Berarti masalah utamanya penguasaan medan?

Saya kira penguasaan medan dan kenyataan bahwa medannya susah itu dua hal berbeda. Yang saya tangkap, sih, memang medannya yang susah.

Menurut Anda, apa yang seharusnya kita lakukan? Perang melawan terorisme, kan, bukan hanya perangnya negara, tetapi kita semua.

Untuk menyelesaikan masalah terorisme, yang berakar pada intoleransi, kita tidak bisa menangani hanya satu segi. Bukan hanya soal menangkap teroris. Ada banyak aspek, termasuk psikologi massa. Keluarga yang ditinggalkan pasti mengalami trauma. Serangan ini juga diketahui juga oleh anak-anak di desa lain, misalnya, dan itu pasti membekas pada diri mereka.

Belum lagi pendidikan. Salah satu alasan orang bisa terjerat dalam paham terorisme, kan, dia tidak terlatih untuk bernalar kritis. Dia lebih gampang menerima suatu ajaran tanpa memikirkan kebenarannya, tanpa mempertimbangkan perspektif lain.

Ada juga aspek pemulihan ekonomi. Terorisme tidak hanya menciptakan ketakutan, tetapi juga kemiskinan.

Masyarakat harus terlibat langsung. Bukan hanya dengan tidak terlibat dalam terorisme. Sekarang, misalnya, sudah ada beberapa komunitas anak muda yang mengumpulkan dan menyalurkan santunan untuk para korban. Banyak lagi yang bisa kita lakukan.

Contoh-contoh bagus yang Anda sebutkan, saya kira, umumnya penanganan pada tataran individual. Bagaimana dengan yang sistemik?

Menurut saya, pendidikan itu penanganan yang sistemik. Kita perlu melihat kurikulum di Indonesia dan daerah-daerah tertentu secara spesifik. Anak-anak di daerah konflik, misalnya, perlu mendapat pemahaman yang proporsional. Mereka bisa diajari literasi perdamaian.

Tentang pertolongan kepada korban, sejauh ini apa saja yang sudah direncanakan?

Kalau dari pemerintah, ada santunan kepada keluarga korban. Pembangunan kembali rumah-rumah yang terbakar juga sudah dimulai. Prosesnya cepat. Saya pun akan berbicara dengan lebih banyak dinas-dinas dan kementerian mengenai apa lagi yang bisa dilakukan di sini. Memang banyak banget yang perlu dipikirkan bersama-sama.

Tentang upaya pemulihan korban, waktu saya tiba sudah ada teman-teman dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Anda terlibat dalam berbagai inisiatif yang mengampanyekan toleransi. Mengapa bagi Anda itu penting?

Tanpa toleransi tidak ada Indonesia. Belajar bertoleransi adalah belajar hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda, yang tidak bersepakat, dengan kita.

Bicara tentang toleransi terhadap hal-hal yang kita sama-sama sepakat itu mudah. Yang perlu dilatih dan diperjuangkan adalah bertoleransi saat kita tidak setuju.

Ada pendapat bahwa toleransi tidak menuntut kesetaraan. Sekadar yang kuat mau memaklumi yang lemah. Bagaimana menurut Anda

Seorang sahabat saya pernah bilang bahwa ada empat level dalam toleransi. Level pertama itu yang “asal kamu nggak nyenggol saya, nggak apa-apa.” Itulah selemah-lemahnya toleransi.

Toleransi level kedua adalah ketika kita senang dengan perbedaan. Level ketiga adalah ketika kita ikut merayakan keberagaman. Nah, toleransi level keempat adalah toleransi aktif, di mana kita melindungi keberagaman.

Jadi, bukan sekadar mayoritas menoleransi keberadaan yang minoritas. Yang mayoritas harus melindungi kesempatan yang minoritas untuk hidup sesuai dengan apa yang dia yakini.

Kalau kata Paman Ben di Spider-Man, “With great power comes great responsibility.”

Apa mungkin ada kehidupan bersama yang ideal tanpa kesetaraan

Definisi setara kan bisa luas banget, ya. Mungkin yang lebih tepat adalah keadilan. Tidak ada toleransi tanpa keadilan.

Bagaimana Anda mendefinisikan keadilan?

Misalnya dalam penegakan hukum, kalau orang melakukan teror, ya, harus ditindak karena dia melanggar konstitusi di Indonesia. Jangan sampai kita merasa perlu juga menoleransi hal-hal yang intoleran. Teroris yang menjarah makanan telah mengambil hak orang lain untuk makan. Dia membunuh, berarti dia mengambil hak orang untuk hidup. Dengan melakukan teror, dia merampas hak orang untuk hidup tanpa rasa takut.

Apakah yang bisa menjadi agen keadilan hanya negara? Bagaimana dengan orang-orang yang justru merasa diperlakukan tidak adil oleh negara?

Di negara demokratis seperti Indonesia, ada kebebasan luas untuk mengontrol [kekuasaan]. Contohnya, kita punya wakil rakyat yang berhak mengontrol negara atas apa yang dilakukan, tidak dilakukan, atau belum dilakukan. Kalau misalnya dalam konteks sekarang kita bilang terorisme tidak lepas dari konteks HAM, kita punya Komnas HAM. Kita juga berhak menyampaikan aspirasi kita kepada pemerintah dengan cara, misalnya, turun ke jalan.

Mengobrol dengan para abdi negara juga salah satu cara menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Ada banyak cara untuk mengontrol negara. Kalau ada yang merasa diperlakukan tidak adil, sila menyampaikan di mana ketidakadilannya, lalu kita bantu sama-sama untuk mendapatkan keadilan.

Seandainya Anda punya sumber daya yang tidak terbatas, apa hal pertama yang Anda ingin lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Dengan asumsi upaya itu akan sukses?

Iya.

Saya akan menggunakan semua sumber daya yang ada, dari berbagai aspek, tidak cuma satu kementerian, misalnya, untuk mengajarkan nalar kritis kepada orang-orang Indonesia. Menurut saya, kita tidak bisa mengontrol arus informasi dan disinformasi. Kita hanya bisa menyaring semua itu dalam kepala masing-masing.

Misalnya, kita lagi ngobrol begini tiba-tiba ada yang ikutan dan mengajak kita jadi teroris, bagi kita kan itu tidak masuk akal karena kita bisa bernalar kritis.

Dengan nalar kritis, kita bisa menjaga kepala kita masing-masing dari kejahatan terorisme. Bukan hanya untuk memberantas, tetapi juga mencegah kelahiran teroris-teroris baru.

Ada hal-hal yang belum kita bicarakan, tetapi ingin Anda sampaikan?

Ketika saya ke lokasi kejadian, tentu saja saya sedih dan marah dan takut. Campur aduk. Namun, ada satu perasaan lain saat saya ngobrol-ngobrol dengan warga dan aparat: harapan.

Jumlah teroris itu semakin lama semakin sedikit, kan. Ada harapan mereka akan segera habis. Kemudian, ketika saya berkesempatan ke rumah duka, saya melihat bagaimana warga Muslim dan Kristiani sangat membaur, tanpa sekat dan kecanggungan. Mereka saling menguatkan dan mendukung. Saya melihat harapan.

Share: Ayu Kartika Dewi Menemukan Harapan di Sigi