Isu Terkini

Selain Tidak Ramah Lingkungan, PVC juga Berbahaya bagi Kesehatan

Advertorial– Asumsi.co

featured image

Foto: iStock

Kita tahu plastik adalah salah satu sumber pencemar lingkungan terbesar di dunia: laporan “Plastic and Climate” (2019) menunjukkan bahwa produksi dan pembakaran plastik berkontribusi terhadap penambahan 850 juta ton karbon dioksida di atmosfer. Namun, ada satu tipe plastik yang paling berbahaya dibandingkan yang lainnya: PVC atau polyvinyl chloride.

PVC adalah salah satu jenis plastik yang paling sulit untuk didaur ulang. Berdasarkan sejumlah studi yang dikumpulkan oleh Center for Health, Environment, and Justice (CHEJ), kurang dari 3% PVC berhasil didaur ulang setiap tahunnya. Sementara itu, plastik polyethylene terephtalate (PET) yang banyak digunakan untuk membuat botol minum kemasan berhasil didaur ulang hingga 36%.

Namun, tak hanya itu, bahaya PVC juga terletak pada unsurnya yang berkontribusi terhadap keluarnya senyawa berbahaya. Menurut laporan Greenpeace Amerika Serikat, siklus hidup PVC—mulai dari produksi, penggunaan, hingga pembuangan—berdampak pada keluarnya senyawa kimia beracun bernama dioksin. Senyawa berbahaya ini menetap dan terakumulasi di air, udara, hingga rantai makanan.

Dioksin adalah limbah atau produk sampingan yang terbuat dari proses pembakaran seperti pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan proses-proses industri lainnya. Menurut bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Greenpeace, PVC jadi yang paling bertanggung jawab terhadap beban dioksin tahunan negara dibandingkan produk-produk industri lainnya.

Dioksin dalam jumlah besar diproduksi dalam berbagai tahap produksi PVC. Banyaknya PVC dalam limbah medis dan sampah pun jadi salah satu penyebab pembakaran sampah menghasilkan dioksin dalam jumlah besar. Kebakaran gedung atau bangunan yang berisi barang-barang mengandung PVC juga mengakibatkan dioksin lepas ke udara dalam bentuk abu dan jelaga—mencemari lingkungan di sekitarnya.

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa meskipun dioksin terbentuk secara lokal, tetapi efek atau distribusinya terhadap lingkungan mengglobal. Kini, dioksin dapat ditemukan di mana-mana, mulai dari di tanah, endapan, hingga makanan—terutama produk susu, ikan, ataupun kerang.

Pada 1999, misalnya, dioksin dalam jumlah besar dideteksi di unggas dan telur di Belgia. Pada 2008, Irlandia menemukan bahwa berton-ton daging babi dan produk-produk babi lain mengandung dioksin dengan kadar 200 kali lipat lebih besar dari batasan amannya. Temuan serupa dalam makanan berbasis hewan (unggas, telur, babi) juga terdeteksi di negara-negara lain. Diketahui bahwa dioksin berasal dari pakan hewan yang terkontaminasi limbah industri.

Dalam hal kesehatan, paparan dioksin memiliki dampak pendek maupun panjang. Secara jangka pendek, dioksin dapat menyebabkan cedera pada kulit, seperti menyebabkan chloracne hingga penggelapan kulit secara tidak merata. Secara jangka panjang, dioksin dikaitkan dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh, sistem saraf, endokrin, hingga fungsi reproduksi. Dioksin pun diketahui dapat menyebabkan kanker jika seseorang terpapar dalam jumlah tinggi.

Dari Alat Medis sampai Segel Plastik Tutup Botol

Lantas, apa saja produk-produk yang terbuat dari PVC? Sebagai bahan termoplastik yang paling banyak digunakan di dunia setelah polyethylene dan polypropylene, PVC digunakan untuk membuat berbagai macam produk. Dalam bidang konstruksi, misalnya, PVC dibuat menjadi pipa untuk menyalurkan air minum dan limbah, kabel dan insulasi, hingga alat-alat medis. Dalam produk-produk kebutuhan domestik, PVC dibuat menjadi lantai, tirai kamar mandi, kaset, hingga pipa air.

PVC dalam bentuk kaku dan fleksibel juga banyak digunakan sebagai kemasan, seperti botol, kemasan obat, plastic wrap, hingga segel plastik tutup botol.

Perusahaan industri minuman kemasan dapat mempertimbangkan untuk tidak lagi menggunakan plastik PVC sebagai sebagai segel produk. Menurut studi yang dilakukan oleh McKinsey, hampir semua segel plastik terbuat dari PVC tipis yang mudah tercecer dan sulit didaur ulang. Artinya, sangat berpotensi menimbulkan sampah yang sebenarnya dapat dihindari.

Apalagi, penggunaan segel plastik sebenarnya belum tentu menambah keamanan apapun terhadap produk, karena biasanya tutup kemasan botol telah dilengkapi cincin pengaman (tamper evident band) dan kunci pengaman di antara tutup dan cincin (biasanya disebut bridge). Bentuk cincin pengaman telah didesain sedemikian rupa untuk botol plastik dapat menjamin mutu dan keamanan produk sehingga aman dikonsumsi. Selama cincin pengaman tersebut belum terlepas atau terpisah dari tutup botol, maka dapat dipastikan produk tersebut belum pernah dibuka sebelumnya.

Ahli lingkungan asal Arizona State University, Rolf Halden, menyatakan bahwa produk berbasis PVC bisa jadi tidak secara langsung berbahaya. Food and Drug Administration (FDA) telah menetapkan regulasi yang mencegah kurang dari 1% PVC yang terdapat di plastic wrap dapat bermigrasi ke makanan. “Jika piring makan kamu terbuat PVC, apakah itu berbahaya? Kemungkinan tidak. Tapi, jika kita dikelilingi oleh banyak produk yang terbuat PVC, senyawa-senyawa itu dapat merembes keluar dari produk—menciptakan paparan yang tidak diinginkan,” ujar Halden seperti dikutip dari National Geographic.

Share: Selain Tidak Ramah Lingkungan, PVC juga Berbahaya bagi Kesehatan