Isu Terkini

Memerangi Sendawa dan Kentut Sapi demi Kelestarian Bumi

Raka Ibrahim– Asumsi.co

featured image

Sebuah perusahaan di Australia menawarkan solusi cemerlang untuk menghalau pemanasan global: mengurangi kentut dan sendawa sapi-sapi di seluruh penjuru bumi.

Meski sekilas terdengar seperti lelucon, perusahaan bernama FutureFeed itu amat serius. Dengan dukungan langsung dari lembaga riset ilmiah pemerintah Australia, mereka mengembangkan pakan ternak sapi yang terbuat dari asparagopsis--sejenis rumput laut berwarna merah muda yang disinyalir dapat mengurangi frekuensi kentut dan sendawa sapi.

Ada alasan penting kenapa mencegah sapi masuk angin begitu penting bagi masa depan planet kita. Juli 2020 lalu, riset dari Global Carbon Project membeberkan bahwa suhu bumi bakal naik 3-4 persen pada 2100. Penyebab utamanya adalah meningkatnya polusi dari gas metana, sejenis gas rumah kaca yang 28 kali lipat lebih jago memerangkap suhu panas ketimbang karbon dioksida. Selain industri bahan bakar minyak, siapakah penyumbang gas metana terbanyak? Jawabannya: kentut dan sendawa sapi.

Sebetulnya ini bukan salah para sapi. Gas metana, yang dikeluarkan via bokong atau mulut, adalah efek samping wajar dari sistem pencernaan sapi. Persoalannya, ada banyak sekali sapi yang diternakkan demi mencukupi kebutuhan industri daging sapi dan susu global. Jutaan, bahkan miliaran, sapi mengeluarkan gas metana lewat kentut dan sendawa yang menyumbang dua pertiga emisi karbon global--sekalian dengan emisi dari industri pertanian beras dan pembakaran biomassa. Minyak bumi, yang lebih populer dituding sebagai biang kerok emisi, “hanya” menyumbang sepertiga emisi global.

Artinya, agar emisi gas metana dapat ditekan secara signifikan, sapi-sapi tersebut harus mengurangi kentut dan bersendawa. Tahun lalu, waralaba makanan cepat saji Burger King menyatakan akan memberi makan sereh ke sapi-sapinya. Mereka mengklaim bahwa diet tersebut dapat mengurangi emisi metana dari sapi. Namun, tentu saja, memberi rumput campur sereh ke semua sapi di muka bumi bukan solusi yang memungkinkan.

Kini, asparagopsis hadir sebagai alternatif. Menurut Michael Battaglia, Direktur FutureFeed, pakan itu akan dibekukan lalu dicampur dengan pakan ternak lain sebagai suplemen. Asparagopsis berhasil mengurangi jumlah metana “sampai tak terdeteksi oleh instrumen kami.” Saking efektifnya, tim periset dari pemerintah Australia sempat mengira peralatan mereka rusak semua.

Menurut FutureFeed, rumput laut itu bisa mencacah-cacah metana karena mengandung senyawa bernama bromoform, yang mencegah mikroba di perut sapi memproduksi gas metana. Tak seperti jenis rumput laut lainnya, asparagopsis mengandung bromoform dengan jumlah yang sangat tinggi.

Persoalannya, seperti dilansir CNN, jumlah asparagopsis yang tersedia tak memadai. Sebelumnya, rumput laut tersebut hanya tumbuh di alam liar, tepatnya di lepas pantai Tasmania dan Australia. Upaya untuk mengkultivasi dan membuka “sawah” asparagopsis telah dimulai, tetapi jumlah asparagopsis yang diperlukan untuk mengimbangi permintaan dari industri sapi masih kurang. Battaglia memperkirakan bahwa Australia butuh 35 ribu ton asparagopsis per tahun dan sawah seukuran 10 kilometer persegi supaya sapi-sapinya bisa diberi makan dengan cukup.

Namun, FutureFeed optimis. Sawah seukuran segitu tidak lebih besar dari total ukuran tambak udang di Australia, dan kapasitas produksi asparagopsis dapat ditingkatkan secara berangsur. Terlebih lagi, bromoform amat efektif dalam mengurangi metana, sehingga jumlah yang perlu dimakan oleh para sapi tidak banyak-banyak amat.

Diperkirakan, asparagopsis cukup mencakup 0.2 persen dari total pakan ternak agar efektif. Bila 10 persen dari seluruh sapi di dunia mengkonsumsi asparagopsis dengan takaran segitu, pengurangan emisi gas metananya setara dengan mengurangi 100 juta mobil dari jalanan.

Meski terdengar seperti lelucon, rumput laut pencegah masuk angin ini bisa jadi penemuan brilian yang mengubah dunia.

Share: Memerangi Sendawa dan Kentut Sapi demi Kelestarian Bumi